Tampilkan postingan dengan label Flash Fiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Flash Fiction. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Januari 2013

Cerita Kita (?)

Rendy is now in a relationship with Diandra.

Sebuah kalimat singkat itu dalam sekejap mampu membuatku terpaku di depan laptopku. Unbelievable. Is it true? Or have I imagine something not real here?

Ingatanku membawaku kembali ke masa itu. Masa dimana hanya ada namamu di otakku.


***


"Segera setelah semua urusan di sini selesai, aku akan kembali. Kembali untukmu. Untuk kita," ucapmu di telepon.

Aku tersenyum ke langit sore di hadapan beranda kamarku.

"Untukku? Untuk kita? Memangnya cerita kita sudah dimulai?" tanyaku, memancingmu.

"Hahaha. Inginku seperti itu. Tapi bagaimana lagi. Kau mana mau melakukan ritual itu via telepon begini?" Kamu berkata seperti itu.

"Aku ingin menatap matamu. Kamu pernah dengar kan kalau mata tidak bisa berbohong?"

"Jadi kamu tidak percaya aku mencintaimu?"

Aku tersenyum.

"Aku percaya."

"Maka tunggulah aku."

"Selalu."


***

Rendy is now in a relationship with Diandra.
Rendy is now single.
Diandra is now single. 

"Diandra?"

Suara kakakku terdengar di belakangku.

"Ayo, pemakamannya mau dimulai."

Aku menangis, entah untuk berapa kali dalam dua hari ini.

Menangisimu.

Your love is a lie, sayang.

Katamu kamu akan kembali untukku.

Katamu kamu kembali untuk memulai cerita kita.

Kamu berbohong, sayang.

Kamu tidak pernah kembali.

Lalu, harus dengan siapa aku memulai cerita ini?

Andai memulai cerita kita semudah membuka facebook-mu dan facebook-ku di saat yang bersamaan, lalu saling mengirim permintaan hubungan. Ya, aku se-pathetic itu memang.

Dia

Tepat setelah aku memutuskan untuk menutup pintu hatiku, dia datang.
Mataku tak sedikitpun berpaling dari dirinya.
Pesonanya terlalu kuat untuk kuingkari.
Dia pun akhirnya berjalan, menujuku.
Tersenyum kepada banyak orang di sekitarku.
Aku menunggu senyumnya untukku, tapi dia berlalu begitu saja, hingga yang dapat mengobati kekecewaanku hanyalah punggungnya, yang lambat laun menghilang di belokan jalan ini.

Kemudian kami bertemu lagi.
Di satu waktu yang telah Tuhan persiapkan.
Kini kami duduk berhadapan, saling bertukar cerita, saling bertukar tawa dan canda.
Dua gelas esteh dan dua piring nasi goreng menjadi saksi perbincangan pertama kami.

Saat dia bertanya, "Kita pernah satu ruang saat seminar beberapa bulan lalu, bukan? Kau ingat?"
Aku menggeleng dan tersenyum.
Kemudian dia berkata, "Wah, sulit ternyata untuk menarik perhatianmu."
Aku kembali tersenyum.

Sebuah pesan singkat masih tersimpan di history bbmku.

"Hai. Aku Tony. Salam kenal."

Aku hampir pingsan saat membaca pesan itu.

Sabtu, 08 September 2012

Aku Sakit Karenamu, Gigi

"Aw!"

Dengan cepat kutoleh sosok perempuan di sampingku, Gea.

"Kenapa?"

Gea menggeleng.

"Kegigit nih," jawabnya sambil memegangi bibirnya.

"Makanya, kalau makan itu dinikmati, gak usah buru-buru gitu deh," kataku.

Gea hanya tertawa.

"Sama kayak hidup, ya?"

Aku berhenti mengunyah.

"Apa yang sama kayak hidup?" tanyaku, tak mengerti.

"Makan. Katamu, makan harus dinikmati. Sama seperti hidup, yang juga harus dinikmati apapun kondisinya. Seneng, susah. Manis..... dan pahit."

Gea memberi penekanan pada kata terakhir yang terucap dari bibirnya, seraya matanya menerawang jauh ke langit sore.
Aku segera menangkap kemana arah perbincangan ini berbelok.

"Aku masih gak bisa ngelupain kejadian itu. Sekeras apapun aku berjuang, kepingan-kepingan memori itu terus menghantuiku, seakan ingatanku merupakan rumah ternyaman bagi mereka," ucapnya, kemudian menghela nafas. "Aku tersiksa," lanjutnya.

Aku masih ingat bagaimana mantan kekasihnya mengkhianatinya, membagi cintanya dengan perempuan hina itu. Setahun berlalu, dan Gea masih belum bisa melupakannya. Seakan jiwanya tertancap di masa itu, enggan untuk berjalan bersama raganya.

Kupandangi wajah sahabatku satu ini, masih ada sisa-sisa kesedihan di raut wajahnya. Menyembuhkan sisa-sisa itu merupakan bagian yang paling susah bukan?

"Kamu tahu? Andai sakit hatiku ini bisa kutukar-tambah menjadi sakit gigi. Aku cukup pergi ke dokter gigi untuk menyembuhkannya."

"Maka asumsikan sakitmu itu seperti sakit gigi," saranku.

"Aku sakit karenamu, gigi," ucap Gea pelan, kemudian tertawa, memecah hening. Aku hanya bisa tersenyum. Entah, dia menertawakan apa. Ucapannya karna saranku, atau dirinya sendiri yang tak kunjung menyembuhkan hatinya.

weheartit.com

Minggu, 02 September 2012

Bayang

For all the things that you said
For all the lines that we played
For all the very best dates

...
***

Seolah ada lampu sorot yang sengaja menyinari tubuhmu agar aku dapat dengan mudah menemukanmu, di antara berbagai pemilik punggung yang sedang berkumpul di tempat ini. Aku menangkapmu di pupil mataku, pula dirimu. Entah siapa yang terlebih dulu melempar senyum, kini yang aku tahu kita sudah duduk berdampingan di sebuah bangku kecil, jauh dari hingar-bingar band dan penontonnya.

"Maafkan aku," katamu.

"Untuk apa? Menculikku dari keramaian?"

Kamu tertawa. Renyah, mengingatkanku pada gigitan pertama di chocolate chip cookies kesukaanku.

"Karena baru sekarang menemukanmu. Bagaimana bisa aku tak mengenalimu selama tiga tahun kita bersama di sekolah yang sama?"

Aku tersenyum.

"Mungkin aku-yang-dulu tak memenuhi kriteriamu," jawabku.

Kamu tersenyum.

"Kamu banyak berubah," katamu.

"Kata-katamu barusan seolah kamu sudah memperhatikanku sejak lama, mengamati tiap perubahanku. Padahal...," sengaja kugantungkan kalimatku seraya melirikmu nakal.

"Maka ijinkan aku memperbaiki kesalahanku di masa lalu. Ijinkan aku mengenalmu."

Aku hanya bisa mengangguk saat sorot matamu yang teduh menerjang masuk ke pupil mataku, menyetrum syarafku, melebur menjadi satu di nadiku.

***

"Apa yang membuatmu berubah?"

"Karena aku lelah menjadi bayangan. Aku iri pada lampu sorot yang selalu menjadi tumpuan puluhan bahkan lebih pasang mata."

"Well, kamu berhasil. Kini kamu mendapatkan sorot mataku."

Aku tertawa mendengar perkataanmu.

"Gombal."

"Aku serius."

Lagi. Kamu berikan sorot matamu, melenyapkan segala aksara yang kuhafal. Kusandarkan kepalaku di bahumu, tempat paling teduh, menurutku. Kamu satukan jemariku dengan jemarimu, lalu mencium lembut punggung tanganku. Sisa malam itu kita lalui tanpa aksara, memberi kesempatan dua hati untuk melepas rindu dalam diam.

***

Tak ada lagi sorot matamu untukku. Tak ada lagi tempat paling teduh untuk ku bersandar. Tak ada lagi belahan jiwa yang melengkapi jemariku. Tak ada lagi pasang hati yang saling melepas rindu.

Kamu pergi membawa serta sorot matamu, meninggalkanku dalam gelap. Kelam.
Kini yang tersisa hanya sorot mataku, yang tertuju padamu. Hidup berputar, sekali lagi. Aku kembali menjadi bayang dari sebuah sorotan.

***

...
How could you do this to me
 

The things we did to stay sane
The walks we had in the rain
The places we used to hang
How could you do this to me

Oh well
Look at me now I’m falling in pieces
I don’t know what to do now
I’m lost within this fire
Oh well
Look at me now I’m falling in pieces
I don’t know what to do now
I’m lost within this fire inside me

(The Triangle - How Could You)

Jumat, 27 Juli 2012

Gengsi

"Dia sudah sms?"

"Belum."

"Kapan terakhir kamu smsan ama dia?" tanyaku.

"Kemarin," jawabnya seraya memanyunkan bibirnya.

"Kenapa tuh mulut manyun? Kangen ya?"

Witta, pemilik bibir manyun sekaligus sahabatku itu, mengacak-acak rambutnya.

"Iya, banget. Tapi kenapa dia gak sms duluan sih?"

"Sms duluan sana kek. Gengsi ya?"

Witta mengangguk.

"Iyalah. Lagian bukannya nanti keliatannya aku ngarep banget?"

"Bukannya emang iya?"

Witta cemberut.

"Tar, kamu sahabatku apa bukan sih? Daritadi aku dipojokin mulu," keluh Witta sambil melempar pandangannya ke seluruh sudut cafe.

"Bukannya mojokin, tapi emang bener kan apa yang aku katakan semuanya? Kenapa sih gak mau sms duluan? Selain gengsi?"

"Aku takut nantinya aku semakin suka dia, semakin ngarepin dia. Iya kalo dia ngarep ama aku juga, kalo enggak? Aku bakal sakit hati. Kamu tahu aku capek sakit hati, Tar. Aku gak mau sakit hati lagi. Aku ingin lelaki yang jadi pasanganku kelak jadi yang terakhir untukku," jelas Witta serius.

"Wit, kita semua takut sakit hati. Tapi darimana kamu tahu bahwa hubunganmu akan berhasil atau tidak jika kamu gak nyoba buat jalanin hubungan itu? Pada akhirnya, sakit hati adalah resiko yang harus kita ambil."

Witta terdiam memandangku setelah mendengar perkataanku.

"Kamu marah?"

Witta menggeleng.

"Enggak. Yang kamu omongin bener kok, Tar," jawab Witta seraya tersenyum.

Kulihat dia mengambil HP-nya kemudian jarinya bermain di atas keypad HP-nya.

"Sini, aku pinjam HP-mu," pintanya.

"Untuk apa?" tanyaku seraya menyerahkan HP-ku padanya.

"Sms Yoga. Please, mau sampai kapan kalian betah gak smsan 3 hari gara-gara gak ada yang memulai?"

Tanganku buru-buru merebut kembali HP-ku dari tangan Witta, namun sepertnya aku kalah cepat. Kulihat pada sudah ada sms yang terkirim ke nomor Yoga.

Ga, lagi apa? :)


Minggu, 17 Juni 2012

Sehangat Serabi Solo #6



"Kamu datang?"

Dia menggeleng.

"Masih belum tau," jawabnya.

"Masih cinta?"

"Mungkin," jawabnya sambil mengedikkan bahunya. "Aku tak tahu pasti," lanjutnya.

"Lalu?"

"Lalu apa?"

"Gak ingin mencari tahu secara pasti? Apakah masih cinta atau tidak? Setelah mengetahuinya secara pasti, kamu akan tahu langkah apa yang harus kamu ambil selanjutnya," kataku ulang, memperjelas.

"Bagaimana caranya?"

"Dengan datang bersamaku," jawabku.

Aku menggeleng.

"Nanti aku diusir," jawabnya santai, lalu menggigit kecil serabi solo pesanannya yang masih hangat.

"Kan kamu datang denganku, tidak akan diusir," kataku.

Dia diam saja, menghabiskan sisa serabinya dalam diam. Setelah serabinya habis, dia mengambil sebuah kertas tebal yang sedari tadi ada di tanganku.

Yoga Permana
&
Friskasya Endah

 Hotel Kusuma Sahid Prince, Solo

"Aku tahu maksudmu baik, Gik. Tapi tanpa perlu menghadiri pernikahan itu pun aku tahu secara pasti seperti apa perasaanku sebenarnya. Cintaku padanya sehangat serabi solo yang baru saja kumakan," jelasnya.

"Kamu masih mencintainya?"

Dia tersenyum, menoleh ke arahku, dan tersenyum penuh arti. Senyum yang selalu membuatku jatuh hati.

"Dulu. Cintaku seperti itu. Hangat. Menggoda. Namun kamu tahu apa yang terjadi jika terlalu lama kamu membiarkan sesuatu yang hangat? Hangat itu memudar, Gik. Tergantikan oleh dingin. Seperti hangat itu, cintai tu memudar," lanjutnya.

"Datanglah bersamaku, kalau begitu," ajakku. Lagi.

Dia menggeleng, menyandarkan bahunya padaku, dan menggenggam tanganku.

"Kamu mau aku diusir istrinya?"

Dia tertawa pelan dan kemudian kembali memasang mimik serius.

"Kamu tahu kita tak akan pernah bisa lebih dari ini, Gik. Dia kakakmu. Lagipula, aku tak ingin menyakiti atau disakiti lagi oleh seorang Permana. Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku," ucapnya.

Kontras dengan semua perkataannya, entah mengapa aku merasa dia tak setegar itu. Mungkin ini semua salahku, saat beberapa bulan yang lalu aku menyeretnya kembali ke kehidupan seorang Permana.


Sabtu, 16 Juni 2012

Sepanjang Jalan Braga #5


| 9 Juni 1995... |

Tangannya menggenggam erat tanganku.

"Aku ingin permen itu," pintaku seraya menunjuk ke seberang jalan dengan tanganku yang terbebas dari genggamannya.

"Tapi mama menyuruhku menjagamu di sini," katanya.

"Aku mau itu...," pintaku dengan nada memelas.

"Baiklah. Tapi kau tunggu di sini ya. Jangan kemana-mana."

Aku mengangguk. Kurapatkan tubuhku ke dinding toko makanan di belakangku. Kulihat dia sudah tiba di seberang jalan dan membawa dua permen gulali.

"Ini."

Aku menerima permen gulali itu dengan senyum lebar.

"Kau ini menyusahkan saja," ujarnya sambil ikut menikmati permen gulali miliknya.

"Terima kasih, Dito," kataku.


***

| 16 Juni 2012 |

"Finally! Jalan Braga! Kita bakal banyak dapat foto di sini!"

Aku tersenyum melihat reaksi sahabatku, Fira. My partner in crime, menyetujui ajakanku untuk kabur ke kota ini sebelum menghadapi ujian akhir minggu depan.

"Lu tau dari mana ada tempat seetnik ini? Internet?"

"Dulu aku pernah ke sini," jawabku.

"Oh ya? Lu pernah tinggal di Bandung?" tanyanya terkejut.

Aku mengangguk.

"Cuman sampe aku umur 5 tahun. Setelah itu, aku pindah ke Surabaya," jawabku.

"Aku hunting foto dulu ya mbaksist. Lu puas-puasin nostalgia deh," ujar Fira seraya berjalan pergi meninggalkanku sambil mengarahkan kameranya ke segala sudut bangunan tua di sini.

Mataku menangkap sosok bapak penjual permen gulali  beberapa meter di depanku Aku tersenyum. Aku berada di jalan yang tepat.

"Pak, permennya dua ya."

Sesosok laki-laki tiba-tiba muncul di hadapanku. Rambutnya dipotong cepak dan berwarna hitam. Kacamata dengan frame hitam menghiasi wajahnya.

"Ini, Mas Dito. Seperti biasa, ya?"

Laki-laki itu tersenyum dan menyebrang jalan setelah memberi uangnya kepada bapak penjual gulali. Tunggu, siapa namanya? Dito?

Mataku mengikuti kemana laki-laki itu pergi, ke sebuah kedai kopi tepat di seberangku. Deli's Coffee. 


Dia itu...


***




"Selamat datang di Deli's Coffee," sapa seorang pramusaji ketika aku masuk ke kedai kopi ini. Laki-laki itu tengah duduk seorang diri di sudut ruang. Tampak dua permen gulali yang dibelinya tadi diletakkan di atas sebuah piring kecil.

"Dito?"

Dia menoleh begitu mendengar sapaanku. Dahinya mengerut begitu melihatku.

"Siapa, ya?" tanyanya.

"Deli."

Aku tersenyum.

"Deli? Deli yang dulu itu? Sekecil ini?" tanyanya seraya mengira-ngira tinggiku saat itu dengan tangannya.

Aku mengangguk.

"Ya Tuhan! Kamu memang Deli yang itu. Senyummu masih sama ya?"

Dito bangkit dan memelukku erat. Sepertinya. Aku tak bisa membedakan siapa yang lebih rindu.

"Jadi, Deli's Coffee? Suatu kebetulan atau sengaja kamu menggunakan namaku?" tanyaku saat kami sudah duduk berhadapan.

"Aku sengaja melakukannya, agar kamu dapat menemukanku. See? Berhasil bukan?"

Aku mengangguk.

"Kamu cantik, Del. Lebih cantik dari terakhir kita bertemu dulu," katanya.

Aku tersipu.

"Jujur, aku sama sekali tidak ingat ama kamu. Yang kuingat hanyalah namamu, Dito. Dan kini melihatmu, aku mulai teringat Dito kecil yang dulu. Ya, aku mulai ingat semuanya."

Dito tersenyum kepadaku.

"Akhirnya kamu datang. Masih suka dengan permen gulali ini bukan?"

Dito memberikan satu permen gulali padaku.

"Tiap hari kau membeli permen ini? Dua biji?" tanyaku.

Dia mengangguk.

"Dan saat aku tak datang?"

"Aku memakannya semua," jawabnya sambil tertawa.

Aku ikut tertawa bersamanya. What a wonderful day! I finally found him!

***

"Del! Deli!"

Aku membuka mataku dan wajah Fira adalah gambar pertama yang berhasil kutangkap dengan jelas.

"Thank God! Kamu sakit, Del?" tanyanya.

Aku menggeleng dan melihat ke sekelilingku. Jalanan Braga. Masih di jalan ini. Aku duduk berselonjor dengan bersandar pada dinding sebuah toko.

"Kamu pingsan di sana."

Deli menunjuk ke arah sebuah bangunan usang. Aku masih bisa membaca tulisan di papan nama bangunan itu. Deli's Coffee.

Aku bangkit dan berlari menuju Deli's Coffee, tak menghiraukan tatapan orang-orang di sekitarku.

Dengan nafas tersengal-sengal akibat berlari, aku berusaha menerjemahkan semuanya. Deli's Coffee. Aku ada di depannya. Tapi tak sama seperti yang baru saja kualami barusan, bangunan ini berwarna kehitaman seperti bekas kebakaran.

"Deli! Kamu kenapa sih? Kata orang-orang, kamu tiba-tiba pingsan setelah menyebrang ke depan tempat ini," jelas Deli setelah berhasil menyusulku.

"Tadi aku gak pingsan, Del. Aku baru aja masuk ke dalam toko ini," kataku.

"Del, kamu pingsan. Dan gak mungkin kamu masuk ke toko ini. Toko ini kebakaran beberapa bulan yang lalu."

Aku menggeleng.

"Tadi aku ketemu Dito, Fir! Dito! Teman masa kecilku yang aku sendiri lupa wajahnya," jelasku.

"Toko ini kebakaran hebat beberapa bulan yang lalu dan pemiliknya ikut terbakar karena tidak sempat menyelamatkan diri."

Aku dan Deli menoleh ke pemilik suara. Bapak penjual gulali.

"Deli?" tanya bapak itu kepadaku.

Aku mengangguk.

"Dia selalu menunggumu sejak dulu di tempat ini. Dan memutuskan untuk mendirikan sebuah kedai kopi dengan namamu, berharap agar kamu menemukannya. Setiap hari dia membeli 2 gulali, untuk berjaga-jaga jika kamu menampakkan dirimu di sini."

Bapak itu memberi 2 gulali ke tanganku.

"Akhirnya kamu datang, Nak. Meski dia kini sudah berada di alam lain, bapak yakin dia masih tetap menunggumu. Bagaimana? Kamu sudah bertemu dia?"

Aku mengangguk perlahan. Bibirku bergetar mendengar semua perkataan bapak itu. Kulihat lagi kedua permen di tanganku. Masih sama seperti dulu.

Terima kasih, Dito. Terima kasih sudah menungguku.

***

| 9 Juni 1995|

"Dito, terima kasih ya sudah menjaga adik kecilnya."

Aku mengangguk.

"Ayo, Deli. Kita pulang. Jeng, kapan-kapan kita jalan lagi ya, sebelum aku ama suamiku pindah ke Surabaya," kata tante itu pada mamaku.

"Pasti, Jeng. Kabar-kabar aja kalo mau ketemu," timpal mama.

"Aku pulang dulu ya, Jeng. Dito, tante pulang duu ya. Ayo Deli, kita pulang."

Dan tante itu mengajak Deli pergi. Deli melambaikan tangannya ke arahku di pelukan perempuan itu. Aku membalas lambaiannya.

"Besok main lagi ya!" teriakku.

Dia mengangguk seraya tersenyum kepadaku. Senyum yang tidak akan pernah kulupakan.

-FIN-



Kamis, 14 Juni 2012

Jingga di Ujung Senja


Merah, tapi tak sepenuhnya merah. Kuning, tapi tak sepenuhnya kuning. Aku menyebutku Jingga, seperti jingga di ujung senja.

"Ini baru yang namanya surga, menikmati indahnya panorama sore bersama orang terkasih."

Aku menoleh, dan tersenyum.

"Dengan jagung rebus yang melumer manis di mulut ketika terkena gigit," lanjutku.

Yogi, namanya, tertawa.

"That's the reason why I love you. You complete me," ucapnya sambil terus melanjutkan menghabiskan sedikit demi sedikit jagung rebus di tangannya.

Aku merangkulkan tanganku ke lehernya dan berteriak, "Woooo!"

Keadaan di sekeliling kami seketika hening. Beberapa pejalan kaki menghentikan perjalannya, dan berhenti. Yang terdengar hanyalah deru mesin mobil-mobil yang lalu-lalang di belakang kami.

"Hahaha.." Yogi berusaha keras memperkecil volume tawanya. Begitu juga denganku.

"Gila," katanya.

"Thank you," timpalku.

"Kapan terakhir kita menikmati quality time berdua seperti ini?"

Aku terdiam.

"Aku lupa karena terlalu lama kita tidak seperti ini," jawabku.

Yogi mengangguk, setuju dengan jawabanku.

Aku memandangi wajahnya dari sudut mataku. Alisnya yang tebal. Sorot matanya yang tajam. Bibirnya yang tipis kala tersenyum. Masih sama seperti dulu.

"Why? Ada yang aneh?" tanyanya.

"Enggak. You're a handsome man," jawabku.

"Terima kasih. Bersyukurlah karena aku jatuh di orang yang tepat," katanya sambil merangkul bahuku.

Aku tersenyum. Getir.



***

|| Beberapa tahun silam . . . ||

"Yog, kenalin. Sahabatku dari Jakarta, Risa," ucapku sumringah memperkenalkan sahabat baruku pada Yogi, teman semasa kecil yang telah bertransformasi menjadi sahabat sejak dulu.

"Yogi."

"Risa."

Dan mereka berdua tersenyum satu sama lain. Aku pun tersenyum melihat kedua sahabatku ada di sisiku.

***

Kini baru aku tahu arti senyum mereka berdua kala itu.

"Len, dapat salam dari Risa. Dia minta maaf gak bisa ikut pulang ke Palembang. Kangen banget padahal," ucap Yogi setelah menutup teleponnya.

"I miss her too."

Aku tersenyum, dan menikmati sisa-sisa jingga yang tergerus hitamnya malam.

Yes, I'm a Jingga. Tanpaku, mereka tak akan bersatu. Jika tak ada Jingga, Merah dan Kuning tak akan pernah bersatu.




Rabu, 13 Juni 2012

Pagi Kuning Keemasan #2


Mataku fokus mencari sosok seorang gadis muda yang sangat kuhafal, tak sempat mengagumi pemandangan alam di sekitarku. Lautan luas dan kumpulan awan yang berjajar membentuk seolah siap menyambut sang mentari terlahir untuk kesekian kali. Semburat kuning keemasan mulai tampak. Aku menaikkan resleting jaketku. Masih membekas dingin semalam di pulau ini. Sinar mentari masih tak kuasa mengalahkannya.

Kupercepat langkahku menyusuri pantai, kembali fokus mencari gadis muda itu. Antara cemas dan kesal, aku tak juga menemukannya. Dia pasti termasuk rombongan yang tiba sebelum rombonganku. Siapa yang tak ingin menyaksikan sunrise selagi di Belitung? Apalagi gadis muda ini sangat menggilai sunrise. Selalu membuka jendela kamarku di pagi hari hanya untuk menikmati sunrise dari balik gedung-gedung tinggi ibu kota.

Mataku melebar kala aku menemukan sosok yang kucari.

"Monik!"

Dia menoleh dan seketika mulutnya menganga lebar melihatku.

"Kak! Ngapain di sini?"

Aku mendengus kesal saat dia melontarkan pertanyaan seperti itu.

"Otakmu jatuh tenggelam di lautan ya? Kamu gak tau gimana mama-papa cemas mikirin kamu yang ngilang tiba-tiba? Anak muda jaman sekarang kalo kemauannya gak diturutin, ngambeknya ekstrim ya? Kamu sama siapa ke sini? Sendirian? Nginep dimana?"

Monik tersenyum dan menggeleng.

"Sama teman-temanku, trus patungan nginep di hotel deket sini," jawabnya sambil menunjuk ke gerombolan anak muda yang lagi haha-hihi.

"Setelah sunrise, balik ke hotel, beresin bawaanmu, dan kita pulang ke Surabaya," kataku.

Monik tampak ingin membatah kata-kataku dan buru-buru kutambahkan, "Ini perintah dari mama-papa. Kalo kamu gak mau, siap-siap aja duit bulananmu dipotong."


Aku melangkahkan kakiku pergi ke sisi lain pantai, meninggalkan Monik yang masih kesal karena sikapku. Aku tak mengerti anak muda jaman sekarang. Mereka kira mereka sudah dewasa dan mandiri, tapi apa arti semua itu jika masih harus ada orang yang menjaga mereka? Bodoh ah. Seenggaknya urusan Monik kelar.

Aku tiba di sisi pantai yang sepi, tak banyak pengunjung yang mengambil spot di sini. Sang mentari perlahan namun pasti mulai memancarkan seluruh sinarnya ke bumi. Hangat. Mengingatkanku pada seseorang.

Mataku masih mengawasi Monik dari kejauhan, kala ada seorang perempuan yang berada di jalur penglihatanku. Perempuan yang sempat menjadi bagian hidupku beberapa tahun silam, hingga akhirnya berakhir karena kami tak kuasa menahan jarak yang membentang. Fina. Bukannya membuka mata, dia justru memejamkan matanya dengan senyum yang tersungging di wajahnya.

Aku suka sinar sunrise, Rik. Dia membasuh wajahku dengan lembut, kontras dengan air yang segar. Mereka seperti Yin & Yang. Berbeda, tapi melengkapi. Aneh, tapi aku suka.

Fina menoleh ke arahku, tersenyum. Tangannya melambai ke arahku, menyuruhku untuk menghampirinya.

“I miss you, sunrise,” kataku.

“I miss you too, sunshine. Every day,” bisiknya di telingaku. Kupejamkan mataku saat bibirnya mencium lembut pipiku dan saat kubuka mataku, dia menghilang tergantikan oleh udara kosong di hadapanku.

Teringat akan sesuatu, cepat-cepat kulihat jam di HP-ku. 13 Juni 2012. Hari jadi kami ke-7… jika dia masih hidup.


EPILOG

Aku tersenyum puas kala lelaki itu menemukanku. Kakakku yang tersayang. Aku tahu pasti dia bisa menemukanku dengan mudah di tempat ini. Pulau Lengkuas yang menjadi tempat favoritnya dengan Kak Fina.

Aku punya permintaan, Nik. Ajak kakakmu setiap tanggal 13 Juni ke Pulau Lengkuas, ya? Aku ingin dia tahu, bahwa aku akan selalu hidup di hatinya.


Itu pesan terakhir Kak Fina sebelum akhirnya dia menutup mata untuk selamanya. Tahun ketiga mulai terasa berat untuk mencari-cari alasan pergi ke tempat ini. Alhasil, aku harus pura-pura marah dan kabur ke tempat ini, karena aku tahu Kak Erik pasti akan menyusulku ke tempat ini. Aku menyukai sunrise sejak kepergian Kak Fina. Entahlah. Dia seperti meminjam tubuhku untuk membangunkan Kak Erik setiap pagi. Saat pagi tiba, aku bukanlah aku.

Senin, 11 Juni 2012

Menunggu Lampu Hijau #1


"Sorry telat."

"Namaku bukan telat. Indah."

Aku meringis mendengar jawabannya. Kuambil tempat di sampingnya.

"Iya. Sorry, Ndah. Gak bermaksud telat, tapi kendaraanku jalannya lambat," jelasku.

Indah memandangku heran.

"Emang lu naik apa?"

"Tuh," jawabku seraya menunjuk ke seberang kami berdua dengan daguku.

"Delman? Kemana emang motor lu?"

"Dipake adekku. Lagian aku rindu dengan semuanya yang ada di kota ini," jawabku seraya memejamkan mataku dan tersenyum.

"Najis. Kelamaan idup di Ibu Kota sih, budaya telat di diri lu makin merajalela. Gak malu ama Jam Gadang di depan lu ini? Setiap hari dia ngingetin kita buat on time."

Aku tertawa. Ini yang bikin kangen banget ama Indah. Omelannya sesuatu banget.

"Malah ketawa. Lu di sini sampe kapan?"

"Seminggu doang."

"Bentar banget."

Aku menangkap ada intonasi yang berbeda dari suaranya.

"Kenapa? Gak rela ya?" tanyaku sambil menempelkan telunjukku ke pipinya.

"Iya, aku gak rela."

Aku tertegun mendengar jawabannya, gak nyangka.

"Datang tiba-tiba, ilang juga tiba-tiba. Kasih kepastian gitu kek ke kita. Temenan, kagak. Pacaran, kagak."

Aku menghela nafas, kemudian menarik perlahan kepalanya untuk bersandar di bahuku.

"Belum saatnya, Ndah. Yang perlu kamu tahu adalah bahwa kamulah alasan tiap beberapa bulan sekali aku pulang ke Bukit Tinggi."

"Sampai kapan? Saat yang tepat itu kapan?"

Saat aku mendapat lampu hijau dari kekasihku, Ndah... untuk memutuskannya.


nb: click pictures to know the source of each picture. :3

Selasa, 05 Juni 2012

Yang Terbuang

Lama aku menantikan saat ini datang.
Saat dimana rasaku padamu hilang.
Mungkin benar dirimu bimbang.
Aku atau dirinya yang kamu sayang.
Tanpa perlu kamu mengucap kata, aku tahu bahwa dirikulah yang kau buang.

sumber: weheartit.com

Kamis, 26 Januari 2012

Menikahlah Denganku #15

Baca cerita sebelumnya di sini.

"Menikahlah denganku, Indira," ucap lelaki di hadapanku saat kami berdua diam-diam mencuri waktu untuk bertemu di lunch time. Dia mengeluarkan kotak kecil berhiaskan pita putih di sekelilingnya. Dibukanya, dan tampaklah cincin bertahtakan berlian putih. Entah berapa karat, namun yang pasti cukup untuk seorang pencuri kelas atas membobol rekening lelaki ini.

Sontak aktivitas makanku terhenti, dan menatap kedua bola matanya yang bulat. Kutemukan kesungguhan di dalamnya, dan ya, aku ikut tenggelam bersamanya. Momen inilah yang kutunggu-tunggu sejak hubungan ini berjalan hampir dua tahun. Sulit untuk Dillan, nama lelaki itu, untuk membuka pintu hati dan kehidupannya untukku. Dia tak sendiri, dia telah memiliki malaikat kecil bernama Ava. Aku tersenyum kecil saat nama malaikat kecil, mungil dan cantik itu melintas di pikiranku. Aku sangat menyayanginya, hingga rela melakukan aksi gila beberapa bulan yang lalu itu. Dan ya, aku juga sangat menyayangi ayahnya. Aku sayang mereka.

"Indira?"

Lamunanku buyar saat mendengar suara seksi Dillan. Serius, suaranya sangat seksi.

Aku mengangguk, dan tersenyum padanya. "Tentu saja aku mau menghabiskan sisa hidupku bersamamu, Dillan."

***

Segala persiapan pernikahanku dengan Dillan sudah hampir mencapai 80% in progress. Aku sangat bersemangat mendesain kartu undangan, menghabiskan waktu berdua bersama Dillan di sofa hangatku dengan menge-list tamu-tamu undangan, memilih gaun pengantin bersama sahabatku, hingga mengajak Ava memilih catering untuk resepsi pernikahan nanti.

Tak ada hari libur, pernikahan semakin dekat, dan sedikit saja waktu luang kumiliki, segera kugunakan untuk mempersiapkan apa-apa yang kurang untuk pernikahanku dengan Dillan. Seperti hari ini, aku membereskan seluruh isi rumahku, dalam rangka menyambut keluarga besar Dillan besok. Aku tak mau tampak seperti dari rumah yang berantakan di depan Dillan dan keluarganya.

Berantakan.

Tubuhku mematung, aktivitas mengelap perabot rumah tanggaku terhenti. Ya, aku memang berasal dari rumah tangga yang berantakan. Pernikahan ayah dan ibu yang gagal, kakak yang tak kunjung menikah di usianya yang semakin bertambah tua, dan aku yang dalam beberapa minggu lagi akan menyandang status sebagai istri Dillan dan mama tiri Ava. Cukup baikkah aku menjadi istrinya? Cukup baikkah aku menjadi mama tiri Ava?

Mendadak... aku takut akan pernikahan ini.

***

"Kamu melakukan itu lagi."

"Apa?" tanyaku tak mengerti.

"Melamun," jawabnya, tetap tak melepas tatapannya dariku.

"Aku hanya takut. Kamu tahu keluargaku seperti apa," ucapku, seraya menundukkan wajahku.

Dillan menggenggam tanganku. "Jangan takut. Hey, kamu tipe istri, ibu, dan menantu idaman. Kamu tak tahu di luar sana banyak orang-orang yang rela membunuhku untuk mendapatkanmu?"

Aku tersenyum mendengarnya.

"Percayalah pada dirimu, Indira. Aku percaya kamu. Ava percaya kamu," ucapnya seraya melihat Ava yang tertidur pulas di pelukannya.

"Ya, terimakasih sayang. Biar aku yang menggendong Ava ke kamarnya." Kupeluk Ava, dan kugendong kembali ke dalam kamarnya.

"Goodnight, Ava. Sweet dream," bisikku. Kucium lembut keningnya.

"Goodnight, Mommy," balasnya seraya menatapku polos, kemudian memejamkan matanya.

Aku tak tahu harus berkata apa. Aku hanya... bahagia.

pictures source: weheartit.com

Sah! #15

Keringat dingin mulai menyelimuti sekujur tubuhku. Berkali-kali kuusap kedua telapak tangan dan wajahku dengan handuk kecil yang kubawa. Gila, apakah aku benar-benar akan melakukan hal ini? Demi apa? Demi Moore? Kugelengkan kepalaku. Bukan waktunya untuk berpikiran bodoh. Bagaimanapun juga aku harus melakukan ini.

Mataku menjelajahi lantai dasar di Mall ini, bak seekor Elang yang tengah mengamati keadaan sekitar untuk memburu mangsanya. Sayangnya, sepertinya mangsa di kalimat barusan akan diperankan oleh diriku sendiri. Ya, aku akan menjadi mangsa yang empuk oleh mata-mata milik lautan manusia di sini, dan tawa-tawa mereka yang nantinya akan membahana bak parade ulang tahun ibu kota.

Oke, ini saatnya. Tak baik menunda pekerjaan terlalu lama. Aku akan menanggung apapun resikonya. Demi dia.
Roly Poly Roly Roly Poly
nan mireo naedo nan
dashi negero daga ga seo
Roly Poly Roly Roly Poly
naman bo il kkeoya
neo ege nareul boyeo jul kkeoya
Tubuhku bergerak membentuk deretan gerakan tari, mengikuti irama lagu yang keluar dari sound di sudut-sudut Mall ini. Senyumku mengembang, melupakan segala rasa malu yang sebelumnya membelenggu jiwaku. Demi dia. Ya, hanya demi dia.

***

"Bagaimana? Suka?" tanyaku pada gadis kecil berseragamkan putih-merah bercorak kotak-kotak yang duduk di pangkuanku.

Dia mengangguk kegirangan.

Aku tengah menunjukkan hasil video rekamanku menari di tengah lantai dasar sebuah Mall beberapa hari yang lalu. Aku tampak seperti perempuan yang kerasukan arwah penyanyi Korea. Bukan karena iseng aku melakukan hal gila seperti itu, tapi aku harus memenuhi permintaan gadis kecil ini. Gadis cantik yang menarik perhatianku sejak pertama ku berjumpa dengannya. Dia suka menonton video-video girlband/boyband asal Korea. Dan dengan polosnya memintaku hal gila itu, seolah hanya memintaku untuk membelikannya permen. Please, aku rela membelikan 1000 permen untuknya daripada menari seperti itu. Tapi, ya sudahlah. Toh aku sudah memenuhi permintaannya.

"Jadi? Sah dong? Boleh kakak minta itu sekarang?" tanyaku, lagi.

Aku mencondongkan tubuhku ke depan, dan *cups* dia mencium pipiku. Setelah itu, dia turun dari pangkuanku dan kembali ke dalam kelasnya karena jam istirahat telah usai.

Aku tersenyum bahagia. Akhirnya aku bisa menaklukkan gadis kecil itu. Anak dari calon suamiku.


 pictures source: weheartit.com

Rabu, 25 Januari 2012

Ini Bukan Judul Terakhir #14


"Ada satu lagu yang cocok untukmu," ucapmu seraya menempatkan jari-jarimu di senar gitar yang ada di pangkuanmu.
I'm lucky I'm in love with my best friend
Lucky to have been where I have been
Lucky to be coming home again
Ooohh ooooh oooh oooh ooh ooh ooh ooh
Aku tersenyum saat dia selesai meng-cover lagu milik Jason Mraz itu.

"Apakah menurutmu kedua keluarga kita akan terkejut bahwa kita berdua berpacaran? Sahabat sejak kecil, rumah bersebelahan. Menurutmu?" tanyanya.

Aku mengedikkan bahuku. "Entahlah. Tapi kita rahasiakan saja dulu, kita beri mereka surprise."

Kamu menggenggam tanganku, kemudian beralih lagi ke gitarmu, memainkan beberapa lagu yang membuatku seakan percaya, telah muncul dua sayap di punggungku. Terbang ke angkasa, terbuai karena nyanyianmu.

***

Jemariku masih membolak-balik sebuah undangan pernikahan berbalut pita merah yang baru datang beberapa saat yang lalu. Kubaca ulang siapa, kapan, dan dimana acara pernikahan itu diselenggarakan. Mataku berhenti di bagian 'siapa'. Nama itu... namamu.

"Gak kerasa ya, si Wira itu sudah mau menikah. Perasaan baru kemarin, ibu lihat kalian main bersama di ayunan depan rumah itu," ucap Ibuku, sambil menyelesaikan masakannya di dapur belakangku.

Aku diam, bibirku tak mampu mengucapkan patah kata apapun.

"Wira itu dijodohkan, Nduk. Katanya sih sama anak rekan bisnis ayahnya. Duh, kalo ngomong bisnis tuh nakutin. Semua cara dilakukan biar bisnis tetap berjalan, termasuk menjodohkan anaknya sendiri. Wira gak pernah cerita apa-apa ama kamu, Nduk?" tanya Ibuku, tak berniat menghentikan topik ini.

Aku menggeleng. "Dia nggak pernah cerita apa-apa, Bu."

"Ibu kira dia bakal cerita ke kamu,  Nduk. Mungkin memang benar-benar mendadak ya keputusan mereka," ucap Ibu.

Aku diam, tak menanggapi ucapan Ibu. Ah, mungkin lebih baik aku pergi dari dapur.

"Oh, ya. Kamu diminta bawain lagu di acara pernikahannya Wira besok. Siapin ya, Nduk. Yang mesra gitu, kan kalian biasa nyanyi bareng."

Haruskah aku datang?

***

"Ya, lagu selanjutnya akan dibawakan oleh Neva, sahabat Wira sejak kecil."

"Lagu ini kupersembahkan untuk sahabatku, Wira, dan untuk istrinya," ucapku seraya melemparkan pandanganku ke arah mereka berdua. Ke Wira lebih tepatnya. Dia tampak gagah dengan pakaiannya. Dan istrinya, tampak mempesona. Seharusnya aku yang ada di sana, bukan perempuan itu.

Aku menggeleng, menghilangkan pikiranku. Terimalah, Neva. Wira bukan untukmu. Jari-jariku bermain lincah dengan pianoku, yang biasanya kugunakan untuk mengiringi permainan gitarmu.

Gemuruh tepuk tangan membahana lagi seiring dengan selesainya lagu yang kumainkan. Belum, ini bukan judul terakhir. Masih ada yang ingin kunyanyikan.

Dengan cepat, jari-jariku mulai memainkan lagu ke-2, yang seharusnya tidak ada di list acara ini. Tega.
Aku tahu dirimu kini telah ada yang memiliki
Tapi bagaimanakah dengan diriku
Tak mungkin ku sanggup untuk kehilangan dirimu
Aku tahu bukan saatnya tuk mengharap cintamu lagi
Tapi bagaimanakah dengan hatiku
Tak mungkin ku sanggup hidup begini tanpa cinta darimu 
 

Selasa, 24 Januari 2012

Kalau Odol Lagi Jatuh Cinta #13

"Cowok itu ganteng, ya?"
Perempuan di sebelahku tampak terkejut dengan pertanyaanku, tak menyadari kehadiranku yang tiba-tiba. Kemudian dia menganggukkan kepalanya, tanda setuju.
"Tapi, sayang. Dia udah punya cewek," lanjutku.
"Oh ya?"
Aku mengangguk. Kemudian pergi meninggalkan perempuan itu.

***

"Selamat siang, Mas. Seperti biasa?" tanyaku pada lelaki yang baru saja meletakkan laptop dan beberapa buku di atas meja. Sepertinya minggu ini, dia sedang dikejar banyak deadline.
Dia mengangguk.
"Coffee latte satu. Ada tambahan lain?"
Dia menggeleng.
Aku tersenyum, kemudian berlalu.

***

Dua jam berlalu, dan dia masih duduk di meja itu, favoritnya. Di sudut ruang. Tak banyak yang mengganggu, begitu katanya ketika kutanya.
Dia tak tahu pesonanya tak bisa disembunyikan. Meskipun dia mencoba untuk invisible, tapi mata-mata perempuan-perempuan di sini masih bisa menangkapnya. Bisa kulihat dari gelagat mereka. Merapikan anak-anak rambutnya ke belakang telinga, mengerlingkan mata mereka, mengeluarkan tawa yang dibuat-buat dan menyeruput kopi mereka sedikit demi sedikit. Itu semua mereka lakukan dengan pose yang menurutku tampak seperti cacing kepanasan.
Jika sudah mulai seperti itu, aku pun juga beraksi.
"Cowok itu sudah punya pacar, mbak," kataku seraya meletakkan mushroom soup pesanannya.
"Oh, ya? Tapi dia tampak seperti tak punya pacar."
Aku menggeleng seraya tersenyum. "Dia memang tampak seperti itu, mbak. Tapi, sebenarnya dia sedang menunggu pacarnya datang."
Perempuan di hadapanku mengangguk mengerti. Dan ya, seperti itu, tidak ada lagi perempuan yang mengamatimu. Hanya aku.

***

Seperti itu aku mencintaimu, sejak beberapa bulan yang lalu saat kau menjadi pelanggan tetap di kedai kopi ini. Kau larut ke dalam screen laptopmu, tidak mempedulikan siapapun yang ada di dekatmu. Aku beruntung, karena aku masih bisa mendengar suaramu tiap kau memesan sesuatu.
Aku seperti odol yang sedang jatuh cinta pada pemiliknya, kamu, dan perempuan-perempuan lain hanyalah kotoran yang terselip di sela-sela gigimu. Aku akan membereskan mereka. Karena pesonamu hanya untukku, bukan mereka.


pictures source: weheartit.com

Senin, 23 Januari 2012

Merindukanmu Itu Seru #12

"Jangan rindukan aku," katamu.

Wajahku menengadah ke atas, menatap bingung ke dua matamu, menembus kacamata frame hitam milikmu. 

"Kenapa aku gak boleh rindu kamu?" tanyaku.

"Karena semakin sering kau merindukanku, semakin besar keinginanmu untuk memilikiku, menahanku di sini bersamamu. Aku harus pergi. Jalani hidupmu, tanpa aku. Seperti biasanya," pesanmu.

Kau sempat mengecup keningku, dan mengusap lembut rambutku, sebelum kau beranjak pergi. Lagi.

Ya, kau selalu seperti itu. Selalu memintaku untuk tak merindukanmu. Selalu memintaku untuk menahan besar cintaku padamu yang tak terbendung ini.

Dan kini kau pergi. Lagi. Untuk kebaikanku, katamu. Yang tak pernah kau tahu, aku selalu merindukanmu. Ibarat sebuah tape player yang rusak tombol berhentinya, terus memainkan melodi-melodi rindu.

***

Aku rindu. Kau masih tak juga menampakkan batang hidungmu. Baiklah, apa boleh buat. Mungkin aku yang harus memulai memercikkan api di antara kita. Di antara mereka, sebenarnya. Lucu bagaimana mereka bertarung, saling mengejar satu sama lain. Dan kemudian kau akan mengejarku. Kita bermain bersama. Lagi. Kemudian kau pergi. Lagi. Seru.

Kau berkata kepada rekanmu, setelah kau kembali padanya: Aku tak bisa menangkap perempuan itu. Dia terlalu cepat. Semoga lain kali kita bisa menangkap buronan itu.

Kau masuk ke dalam mobil, duduk di balik kemudi mobil, mematikan sirene dan kemudian mengemudikan mobilmu jauh dariku.



Aku tersenyum puas. Kulangkahkan kakiku menjauh dari bangunan tua, tempatku melarikan diri. Hmm, aku harus melakukan kekacauan apalagi ya untuk bertemu denganmu?


pictures source: weheartit.com

Sabtu, 21 Januari 2012

Senyum Untukmu yang Lucu #10

"You have a flat face," ucap Karin, sahabatku.

"Maksudmu?" tanyaku, tak mengerti. Pertanyaannya cukup membuat aktivitasku terhenti, meninggalkan begitu saja laporan-laporan yang sengaja kubawa untuk kucicil di kedai kopi ini.

"Wajahmu datar. Mata sendumu yang kamu gunakan untuk menatap apapun, bibirmu yang hampir seperti sebuah underline di keyboard, dan pipimu yang tak pernah terangkat sumringah. Kamu itu datar," jelasnya.

Lalu aku tersenyum. "Aku tersenyum 'kan?"

Karin mengangguk. "See? Kamu jauh lebih menarik jika banyak tersenyum seperti itu. Orang-orang akan tertarik padamu, bukan malah ngelipet-lipet wajah kayak baju yang selesai disetrika. Orang tidak antusias pada orang-orang berwajah muram sepertimu."

"Aku menyimpan senyumku untuk orang-orang terdekatku. Untuk apa aku tersenyum pada orang lain? Orang yang bahkan sedang berjalan aja tetep fokus ama Blackberyy, Ipad dan sejuta gadget lainnya. Aku tidak mau bersusah payah ramah terhadap orang-orang seperti itu," jawabku.

Karin terdiam. "Seenggaknya, kalo kamu senyum, kamu selangkah lebih dekat dengan jodohmu. Bisa aja 'kan, di saat tak terduga, lelaki yang memang ditakdirkan menjadi jodohmu, melihat senyummu dan kemudian beberapa bulan kemudian dia menjadi suamimu?"

Aku menghela nafas. "Intinya, aku senyum biar dapat jodoh 'kan? Udahlah, I'm fine anyway. Being single is great. I've learned how to stand alone for anything. Gak ngerepotin banyak orang."

"Aku ingin kamu bahagia. Aku ingin ada yang nemenin kamu. Hampir semua teman kita sudah menikah."

"Dan kamu juga akan menyusul mereka. Sudahlah, jangan memasang wajah sedih seperti itu. Kayak baru kenal aku cuman sehari aja. Emang aku bakal nangis bombay gitu jadi satu-satunya perempuan yang belum menikah di antara teman-teman kita? You should prepare your wedding party. Don't worry about me, I'm totally fine. I will find him."

Aku terdiam. Ada jeda.
"He will find me." Aku tersenyum melihat Karin yang menunjukkan tanda-tanda akan menangis karena terharu.

***

Mataku berhenti di salah satu pengunjung toko buku saat itu. Lelaki itu memakai bando merah muda di kepalanya. Tangannya memegang jari-jari  mungil milik seorang gadis kecil. Dapat kulihat dari ekspresi wajahnya yang merah padam, malu yang dia rasakan sudah tak terbendung. Tiap dia akan melepas bando-mencolok-mata itu, gadis kecil itu mulai menunjukkan tanda-tanda akan menangis. Dengan berat hati, dia memasangnya lagi. Begitu seterusnya. Kontras dengan gadis kecil yang tersenyum bahagia melihat deretan buku anak-anak.

"Kak, aku mau buku itu. Ah, ini juga bagus." Gadis kecil itu tampak antusias memilih buku.

Tiba-tiba pandangan kami bertemu. Aku dan lelaki itu, dan dia tersenyum malu padaku.

Tunggu, kenapa dia tersenyum padaku? Kuraba pipiku. Andaikan Karin tahu, dia pasti akan tertawa bahagia. For the first time, I smile to a strange man who wear a pink head craft. Dan sialnya Karin benar. Lelaki itu kini menjadi suamiku.

picture source: weheartit.com

Jumat, 20 Januari 2012

Inilah Aku Tanpamu #9

Kita adalah pasangan yang sempurna. Tidak, kamu yang sempurna. Aku tak tahu apa jadinya aku tanpamu. Kamu selalu membantuku di saat ku susah. Kamu juga selalu menemaniku di saat ku senang. Kita pasangan yang cocok, kata orang-orang. Kamu ada, di saat orang lain tak selalu ada untukku. Aku tak bisa hidup tanpamu.

Tapi semenjak dua hari yang lalu kau berubah. Tak lagi sesetia dulu. Seringkali kau tak merespon apa yang sedang kukatakan padamu. Apakah aku melakukan hal yang salah padamu? Aku minta maaf. Sungguh. Andai ada yang bisa kulakukan untuk membuatmu seperti dulu lagi. Tolong katakan padaku. Aku akan mendengarkanmu, seperti dulu kau selalu mendengarkanku. Aku akan menemanimu, seperti dulu kau menemaniku. Lihatlah aku kini. Tak berdaya. Tanpamu. Maukah kau terbuka padaku, apa yang seharusnya kulakukan agar bisa memilikimu lagi?

Aku rusak. Aku perlu diperbaiki.
 
Baiklah. Aku akan membawamu ke Service Center. Blackberry, cepatlah sembuh.


pictures source: weheartit.com

Kamis, 19 Januari 2012

Aku Benci Kamu Hari Ini #8

“Kau cantik.”

Kau belai rambutku, merapikan anak-anak rambutku yang tak tertata rapi di sekitar telingaku. Aku suka caramu memperlakukanku seperti ini, seolah kamu adalah Eugene dan aku adalah Rapunzel. Di luar, kau terkesan dingin dan seolah tak peduli pada apapun yang terjadi di sekitarmu, bahkan tetes air pun seolah tak kau dengarkan. Setelah mengenalmu, aku tahu itu hanya cangkangmu. Karena ketika ku berhasil mengoyak cangkang itu, sesuatu yang indah muncul dari dalam dirimu. Kamu spesial, tahu? Di hidupku. Di hatiku.

“Terima kasih. Kamu juga,” jawabku, tersenyum simpul, malu. Pipiku mungkin sudah seperti pipi Miiko yang bersemu merah saat digoda Tappei.

“Aku.. cantik?” tanyanya, memamerkan senyum meledeknya.

“Bukanlah. Kamu tampan,” ulangku.

Dia tersenyum, menggenggam tanganku, menelungkupkan punggung tanganku, dan kemudian diciumnya lembut. Perlakuannya seperti ini seringkali membuat bulu kudukku berdiri. Merinding, bukan karena takut, tapi karna aku suka. Aku bahkan rela virus-virus cintanya menggerogoti tiap celah tubuhku, mengambil alih tiap hela nafasku, mengalir dalam darahku, dan menyelimuti sekujur tubuhku.

Trrrt.. trrt..

HP-mu bergetar, kau membaca sebentar sebuah pesan yang masuk.

“Aku harus pergi,” katamu. Sorot matamu mengharapkan belas kasihanku, mengharapkan pengertianku. Aku tak suka tatapanmu itu. Aku tak suka...

Kau mencium keningku, kedua pipiku, dan bibirku. Tempat terakhir itu, kau tinggalkan jejakmu sedikit lebih lama.

“Hanya sebentar. Aku tak akan lama.” Kemudian kau pergi.

Aku benci kamu hari ini, hari dimana kekasihmu pulang dari perantauan. Aku benci kamu esok hari, dimana kekasihmu masih akan berada di kota ini. Aku benci kamu. Aku benci diriku. Mungkin memang aku telah terkena virusmu, yang dapat kulakukan hanyalah bertahan. Bertahan untuk disembuhkan, atau bertahan menunggu saatnya tiba, saat jiwa dan tubuh ini rusak..


picture source: weheartit.com

Rabu, 18 Januari 2012

Sepucuk Surat (Bukan) Dariku #7

Masih ingat denganku?
Putihku?
Beningku?
Murniku?
Kemilauku?
Kau pernah mengagumiku. Kau pernah menyayangiku. Aku segalanya bagimu dulu.
Kau tak ingin orang lain tahu tentangku, kau menyembunyikanku.
Kutemanimu berlatih berucap satu kalimat penuh makna itu.


Tapi, mengapa kau berubah pikiran?
Kau sematkan aku di jari perempuanmu, sejurus kemudian kau hilang, entah kemana.
Kau bawa cinta perempuan ini.
Kau bawa pasanganku.
Setega itukah?

Salam,
Kemilau di jari manis perempuanmu.

 

picture source: weheartit.com