Kamis, 02 Juni 2011

Great Photos, Great Time with Them!

Sudah lama saya tidak bercerita tentang kegiatan sehari-hari saya. Biasanya saya sok puitis, romantis dan melankolis dengan menulis sedikit catatan-catatan tentang cinta. Tapi, kali ini beda. Saya ingin menulis kegiatan saya selama dua hari di awal Juni ini, 1 dan 2 Juni 2011. Mungkin lebih tepatnya pamer foto, hehe.

Kemarin, Rabu, karena saya ternyata sia-sia datang ke Surabaya, akhirnya saya pun mengajak kak Uthia untuk jalan-jalan ke Delta. Cuman buat makan hokben sih, saya lagi ngidam makanan-makanan yang pake sumpit soalnya. Hehe, sebenernya gampang sih, makan tempe penyet bisa pake sumpit kan? -____-

Setelah puas makan sambil cerita ngalur ngidul, akhirnya kami memutuskan untuk berputar-putar membakar kalori di Delta. Dan ini ada beberapa foto sewaktu kak Uthia mencoba dress merah di Matahari Department Store.

Setelah berpuas diri memanjakan diri di Delta, akhirnya kami berdua pulang ke kos masing-masing. Agak kecewa karena 3second, tempat yang ingin sekali saya kunjungi, tutup sementara. Padahal ada diskon 20% untuk all item (masalah diskon, saya semangat 45!)

Nah, keesokan harinya, aku dan kak uthia janjian ketemuan lagi, tapi kali ini ketambahan dengan Kak Iis. Jam 12 kami pun sudah berkumpul di de-sava coffee di daerah petra togamas. Kita sedikit membahas tentang proyek kami bertiga. Proyek apa? Surprise! :p Nah, setelah berpuas diri membahas proyek kami dan pesanan makanan kami pun sudah habis, kami bernasis ria di laptop kak Uthia. Inilah beberapa hasilnya:

Sumpah, aslinya masih banyak yang lebih gila dari pose-pose di atas. Tapi karena menjaga image kami bertiga, maka kami tidak sebarluaskan ke publik, hehe. Anyway, i had enjoy this afternoon meeting with two fabulous sisters like Kak Uthia & Kak Iis. :*

Jumat, 27 Mei 2011

Apa yang Kini Kurasa?

Awalnya hanya suka.
Namun seiring bergulirnya waktu, suka ini hilang.
Lenyap tak bersisa.
Tergantikan oleh 'sesuatu' yang seringkali memusingkanku.
Cinta, itukah?
Cinta, benarkah?
Jangankan kalian, aku pun tak tahu apa jawabannya.
Aku rasa bukan cinta.
Tak mungkin aku jatuh cinta hanya melalui tatapan mata kami berdua.
Tak mungkin aku jatuh cinta hanya melalui gerak-gerik dan lekuk tubuh kami berdua.
Aku rasa ini bukan cinta.
Tapi, jika bukan cinta, apa yang kini kurasakan?

Senin, 23 Mei 2011

Saya Jatuh Cinta

Jatuh cinta.
Tolong, saya jatuh cinta.
Atau mungkin ini hanya intermezzo belaka?
Kalau memang begitu, akan saya nikmati tiap detiknya.
Jatuh cinta.
Ya, saya jatuh cinta.
Berapa kali saya mengucapkan dua kata itu?
Jatuh cinta.
Hanya jatuh cinta.
Saya tidak ingin memilikinya?
Tidak, saya sangat ingin memilikinya.
Namun saya sadar diri.
Hal itu tidak akan pernah mungkin terjadi.
Maka dari itu, saya hanya bisa jatuh cinta.. sendirian.
Tapi saya menikmati tiap jengkal dan sudut perasaan ini.
Saya jatuh cinta.
Ya, saya jatuh cinta.

Jumat, 20 Mei 2011

Jatuh Cinta Diam-diam

Jatuh cinta ini kulakukan diam-diam.

Aku tak ingin orang lain tahu.

Atau memang aku yang terlalu malu menunjukkannya pada orang lain?

Emh, menunjukkannya padamu?

Begitu banyak kata yang tersusun di otakku.

Namun seketika itu pula sirna saat bertemu denganmu.

Lidahku kelu.

Dan kemudian aku hanya terdiam.

Ya, kembali seperti semula.

Jatuh cinta diam-diam.

Palsu

Memberi harapan palsu itu seperti menyusun puzzle-puzzle gambar, yang saat akan menyatu membentuk suatu gambar utuh, namun secara tiba-tiba tertiup angin. Berantakan.

Sesaat kau tampak senang melihat puzzle-puzzle milikmu akan membentuk gambar yang kau inginkan. Tapi sedetik kemudian kesenangan itu musnah, tergantikan oleh kekecewaan yang mendalam melihat puzzle-puzzle mu berserakan tak beraturan.

Seperti kau telah berusaha mendaki sebuah bukit, namun ada orang lain yang mendorongmu jatuh.

Kau terjatuh.

Harapanmu pupus.

Harapan palsu.

Minggu, 01 Mei 2011

Crazy Little Thing Called Love! | Movie Review

Lama gak nge-post dan sekalinya nge-post aku mau sedikit berbagi tentang review sebuah film Thailand yang baru aku tonton semalem. Menghabiskan waktu pergantian bulan April ke Mei, aku menonton film Thailan ini yang berjudul Crazy Little Thing Called Love (First Love). Aku dapat dari temen kampus, dan sempet ngeliat sekilas kalo yang maen emang cakep abis. Sumpah bikin ngiri abis. -_-


Cerita ini tentang seorang gadis bernama Nam yang awalnya hanya sekedar suka (nge-fans biasa) ke seniornya yang cakep abis bernama Shone. Nah, si Nam ini awalnya gadis buruk rupa. Pakai kacamata, dekil, item, pokoknya gak banget lah! Dibantu ke-3 sahabatnya, Nam melakukan 9 metode yang ada di sebuah buku untuk mendapatkan Shone. Termasuk nge-make over si Nam. Si Nam jadi cantik bangeet. Dan dia makin percaya diri buat dapetin si Shone. Tapi, apakah si Shone tertarik dengan Nam?


Aku gak bakal cerita secara keseluruhan (biar bikin kalian penasaran), pokoknya abis nonton film ini bakal nangis dan iri banget deh! Sumpah sumpah sumpah! Ini aja aku dilema banget pengen nonton lagi. Iri sih :(

Dari skala 1-10, aku kasih film ini nilai 9!

Jadi, ayo buruan tonton film ini! ^^

Sabtu, 09 April 2011

Dear My Admire Classmate

cerita : fiksi
soundtrack : Gita Gutawa ft. Maia - Mau tapi Malu
durasi : 10-20 menit
Happy reading!

Dear my admire classmate...
Tahukah kamu, bahwa aku selalu menantikan jam kuliah datang tiap harinya? Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tak berminat dengan yang namanya weekend. Aku selalu berdoa pada Tuhan agar weekend dapat cepat berlalu dan Senin datang lebih awal. Kenapa? Karena hari itulah yang mengawali pertemuanku denganmu untuk lima hari ke depan.
Tahukah kamu, bahwa aku selalu mencuri pandang ke arahmu, yang duduk di seberang sana, saat kuliah berlangsung? Kau membuatku sulit berkonsentrasi dengan celoteh dosen di depan, yang entah sedang menjelaskan rumus apa. Kau membuat pikiranku kosong, berbanding terbalik dengan kertas bukuku yang penuh dengan tinta hitam, menorehkan baris kata catatan dosen di papan tulis. Aku mencatat, namun tak satu pun kata di catatanku yang ku mengerti. Aku terlalu sibuk mengkhayalmu, bahkan terlalu sibuk untuk memandangmu dari sudut mataku. Ya, meskipun yang kutangkap hanyalah rambut ikalmu, itu sudah setara dengan vitamin penambah daya tahan tubuh untukku.
Tahukah kamu, bahwa lidahku kelu saat berpapasan denganmu? Aku tahu kau juga menatapku, namun aku malah memilih untuk diam, membuang begitu saja pandangan mataku darimu dan yang paling parah, membiarkanmu berlalu begitu saja di hadapanku. Aku ingin menyapamu, sungguh. Andai aku punya sedikit keberanian untuk menyapamu, memulai pembicaraan denganmu, atau bahkan hanya sekedar tersenyum padamu. Tentu cinta diam-diam ini tak perlu ada.
Tahukah kamu, bahwa saat kamu tak datang di jam kuliah sore itu aku merasa kecewa? Aku mengenakan kemeja ungu favoritku, dengan corak bunga-bunga meriah, berharap kau akan sedikit lebih memperhatikanku. Aku menyemprot parfum favoritku sedikit berlebihan dari biasanya, berharap kau akan mencium wangiku dan menoleh ke arahku saat aku lewat di hadapmu. Tapi, aku sedikit kecewa saat yang kudapati hanyalah bangku kosong. Kau tak duduk di atasnya. Ada apa gerangan kau tak datang sore itu? Apakah kau sakit? Atau ada urusan lain yang tak bisa kau tinggal? Aku ingin sekali mengirimimu SMS, sekedar bertanya: mengapa tidak masuk?. Syukurlah aku masih waras, tidak cukup gila dan nekat untuk tiba-tiba menghubungimu. Yang ada nantinya mungkin kau akan menjauhiku karena bersikap sok dekat denganmu.
Tahukah kamu, bahwa saat kamu tertawa bersama teman-temanmu, yang entah kalian menertawakan apa, tawamu merupakan angin segar untukku? Seperti sebuah oase di padang gurun, seperti setangkup air di kedua telapak tangan yang membasuh wajahku, begitu menyegarkan.
Tahukah kamu, bahwa saat kamu maju ke depan kelas, mengerjakan soal yang ditulis dosen di papan tulis, aku kagum dengan kepintaranmu. Ah, andai kamu bisa memberikanku sedikit ilmumu. Pasti akan lebih menyenangkan menghabiskan waktu belajarku denganmu.
Dan tahukah kamu, bahwa aku sudah lelah dengan perasaan satu arah ini? Seperti sebuah panggilan telepon, yang hanya dijawab dengan nada sambung telepon yang membosankan. Tuuuuut... tuuuuut... tuuuuut... Ayolah, kapan kau akan menyadari panggilan ini dan mengangkat panggilanku?
Dear my admire classmate...
Kemarin, seperti biasa, aku meluangkan waktuku di kelas, di sela-sela mata kuliah yang membosankan, untuk mencuri pandang ke arahmu. Tapi, benarkah yang kulihat bahwa ku tak sengaja memergokimu melihatku? Aku meyakinkan diriku sendiri bahwa kau hanya menoleh ke arahku karena sedang melihat ke papan tulis. Tapi, papan tulis ada di depan, dan aku di seberangmu. Oke, apa kau benar-benar mencuri pandang kepadaku? Jujur, hal itu membuatku sedikit sulit tidur malam harinya. Karena hal itu benar-benar aneh.
Kukira memang kejadian kemarin hanyalah kebetulan belaka. Namun, yang namanya kebetulan pasti tak akan terjadi lagi bukan? Masalahnya adalah, aku memergokimu lagi tadi siang. Aku bersumpah demi apapun yang hidup di dunia ini, kau melihatku. Memang tidak lebih dari sedetik, tapi sangat terekam jelas di otakku. Mungkin kau meragukan kemampuan mengingatku, karena aku memang tak dapat mengingat kalimat yang diucapkan dosen, namun aku yakin 100% bahwa mataku masih normal. Jelaskan padaku, apakah kau benar-benar melihatku?
Dear my admire classmate...
Apakah itu matamu, yang juga balas menatapku? Meski hanya sepersekian detik, tapi jika boleh jujur, tatapanmu mampu menerjang dan menembus hingga relung jiwaku. Hatiku bagai tersengat listrik berkilo-kilo watt, membuatku hidup kembali.
Apakah kamu mulai merasakan apa yang kurasakan?
Apakah kamu mulai menjawab panggilan telepon ini?
Apakah nada sambung yang menjemukan itu akan segera berakhir dengan suaramu yang menjawab panggilan ini?
Dear my admire classmate...
Aku tahu bahwa tempo hari kau memang benar-benar melihatku, karena kau menyapaku pagi tadi! Apa aku perlu memeriksakan telingaku ke dokter THT? Ah, aku yakin syaraf telingaku masih normal. Ya, kau memanggilku tadi, dan tersenyum padaku. Senyumanmu melelehkan hatiku, melumpuhkan segala urat nadi dan syarafku. Tunggu, apakah senyumku membuatku tampak buruk? Apakah ada sisa-sisa makanan yang terselip di gigiku? Semoga saja tidak.
Dear my admire classmate...
Tak banyak yang kusampaikan di surat ini. Satu yang pasti untuk saat ini, kau begitu mempesonaku. Mungkin salah jika aku menjadikanmu alasan untuk semangat berangkat ke kampus. Tapi, itu lebih baik daripada tidak ada semangat sama sekali bukan?
Aku berharap, dari sapa dan senyummu tadi, hubungan kita menjadi lebih dekat. Well, setidaknya aku tidak lagi kikuk jika berada di dekatmu. Tapi, ada satu hal yang masih mengganjal di hatiku. Kapan kau putus dengan pacarmu? Jika saat itu terjadi, kau tahu harus menghubungi siapa bukan?

Sabtu, 02 April 2011

Titik Kedua

Ingatkah kau kapan pertama kali kita bertemu? Mungkin kau tak ingat. Ya, tentu saja. Kau tak melihatku saat itu. Tapi aku melihatmu. Dan untuk sesaat, aku merasakan ada yang bergetar di hatiku. Ada sesuatu yang bergejolak, hanya sepersekian detik. Dan sepersekian detik itu, mengubah kehidupanku lima tahun selanjutnya.
Dan di sinilah aku, lima tahun telah berlalu, dan aku masih mengagumi, menyukai bahkan mencintaimu.
“Bagaimana bisa kamu mencintai Ferdi? Kamu bahkan tidak mengenalnya!”
“Apa? Ferdi? Yang jelek itu?”
“Ferdi yang mana sih? Oh, yang itu. Kok bisa sih?”
Dan berbagai tanggapan serupa yang terlontar dari mulut teman-temanku. Mengenalmu? Ya, menurutku aku mengenalmu. Aku hafal namamu, dimana kelasmu, nomor teleponmu, alamat rumahmu dan yang paling penting, aku hafal lekuk tubuhmu. Lututku dapat segera terasa lumpuh saat melihat siluetmu, yang aku yakin aku berada cukup jauh dari tempatmu berdiri.
Mungkin aku memang gila. Jatuh cinta kepada orang yang bahkan tidak kukenal dekat. Dan yang paling parah, mungkin kau tak mengenalku!
Jatuh cinta kepadamu ibarat aku sedang memakai kacamata kuda, yang tak menghiraukan apa dan bagaimana tanggapan orang tentangku. Yang aku tahu, aku kagum, suka dan cinta padamu. Titik. Tanpa koma.
Tapi tahukah kau apa yang selama ini menjadi doa dan harapanku? Aku mengharapkan ada titik kedua setelah kalimatku. Aku berharap, kau berkata padaku, “Begitu juga aku, yang selama ini kagum, suka dan cinta padamu,” Dan setelah itu akan aku cantumkan titik kedua. Tamat. Happy ending. Begitulah caraku membuat ending cerita cinta ini. Semoga saja.

Kalimat Sama Beda Wanita

HP-ku bergetar cukup lama. Tanpa membaca nama yang tampil di layar HP-ku, aku sudah bisa menebak siapa yang meneleponku berulang kali saat ini. Pacarku, Zen.
“Angkat aja, Mir. Aku gak papa kok,” ucap Putri, sahabatku.
Aku menggeleng. “Nanti saja, Mir. Lanjutkan saja ceritamu. Jadi, gimana kelanjutan hubunganmu dengan Yogi?”
Putri menghembuskan nafas, berat. “Semua sudah berakhir, Mir. Entahlah, lama-lama aku capek juga digantungin kayak gini,”
“Makanya cari baru aja,”
Putri tersenyum lebar. “Cariin dong,”
Aku mengangkat sebelah alisku. “Memangnya aku biro jodoh?”
Kami tertawa.
Drrt. Drrt.
Kulihat HP-ku, bergetar lagi.
“Udah angkat aja, Mir. Kali aja ada hal penting yang mau dia omongin,”
Aku menggeleng. “Minta ditemenin setiap saat bukan hal penting kali, Put. Yang ada malah ngebetein. Dikira aku megang HP setiap saat?”
HP-ku masih bergetar. Kulihat Putri memberikan tanda untukku supaya mengangkat panggilan dari orang yang sama yang sedari tadi mencoba menghubungiku.
“Halo. Ada apa?” tanyaku, sedikit malas.
“Sayang, kamu lagi dimana? Aku sms gak dibales?”
Dahiku mengernyit mendengar pertanyaannya. “Bukannya sudah kubilang aku sedang bersama Putri di Coffee Shop? Aku sedang membicarakan hal penting dengannya,”
“Tapi seenggaknya bales smsku, sayang. Aku butuh ditemenin malam ini,”
Malam ini? Setiap malam sih iya. “Sudah aku balas sekali bukan? Kamu kenapa sih? Nanti malam saja aku temenin kamu,”
“Okelah kalau kamu lebih mentingin sahabatmu,”
Dia memutus teleponnya.
“Kenapa, Mir?” tanya Putri, memandangku melalui mata sipitnya seraya meminum kopi pesanannya.
Aku tersenyum dan menggelengkan kepalaku. “Tidak apa-apa,”
Putri meletakkan cangkirnya dan kembali memandangku, lebih dalam. “Ayolah, sudah berapa lama sih aku jadi sahabatmu? Kamu gak bisa bohongin aku, Mir,”
Kali ini aku yang menghembuskan nafas berat. “Dia posesif. Dia selalu ingin diperhatikan. Ya, memang sih itu tugasnya pacar. Tapi, apa harus setiap saat? Ada waktu dimana aku ingin sendiri, meluangkan waktu dengan sahabatku tanpa harus dia ganggu bukan?”
“Kamu coba beri dia pengertian, Mir,”
Aku menggelengkan kepalaku. “Sia-sia. Setiap aku memberi saran padanya, dia selalu menolak saranku,”
Hening. Aku larut dalam pikiranku. Seperti sebuah film pendek yang diputar mundur, aku mengingat semua kenanganku dengan Zen. Ada beberapa yang bahagia, membuatku hampir percaya bahwa cinta sejati itu memang benar-benar ada. Namun, tak sedikit pula yang membuatku frustasi melihat tingkahnya yang terlalu posesif dan protektif. Seharusnya aku senang bila pasanganku takut kehilanganku dan berusaha menjagaku. Tapi seperti ada sebuah terali besi yang mengurungku, menghambat semua aktivitasku. Aku tak bisa mengekspresikan diriku sebebas yang aku mau.
“Aku akan putusin dia, Put,”
Putri sedikit terbelalak matanya. “Yakin? Sudah dipikirin matang-matang?”
Aku mengangguk. “Sangat matang,”


Aku terbangun pagi ini dengan semangat baru yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Tak pernah aku merasa sebahagia ini. Hubunganku dengan Zen telah berakhir. Masih terekam jelas di benakku bagaimana dia menolak untuk mengakhiri hubunganku dengannya. Namun, akhirnya dia menyerah setelah aku bersikukuh ingin tetap putus dengannya.
Aku bangkit dari tempat tidurku dan membuka gorden kamar. Segera sinat matahari menembus masuk melalui jendela kamarku yang kini terbuka lebar. Ah, betapa hangatnya hari baru ini.
Aku hendak masuk ke dalam kamar mandiku, ketika kulihat sebuah boneka teddy bear di pojokan meja belajarku. Hadiah dari Zen. Mmh, sepertinya hari ini aku harus menyingkirkan semua benda pemberiannya. Bukan membuangnya, hanya menyimpannya di tempat yang jarang aku lihat.
Meskipun perpisahan ini adalah keinginanku, bukan berarti aku tidak tersakiti. Aku masih punya hati, setidaknya. Dan hati ini masih terasa sakit setiap mengingat bahwa hubunganku dengannya telah berakhir.
Aku kira rasa sakit ini akan hilang dalam hitungan hari, namun dua minggu selanjutnya, luka hati ini belum sembuh sepenuhnya. Untunglah ada Putri dan sahabat-sahabatku lainnya yang setia menemaniku setiap aku ingin jalan-jalan keluar, entah itu hanya nongkrong di cafe dekat rumah, atau melakukan rutinitas wanita kebanyakan, window shoping.
“Put, kebiasaan deh selesai main facebook gak di-log out,”
Putri yang tengah berbaring di tempat tidurku hanya tersenyum lebar.
Saat kursor panah kuarahkan ke pojok kanan atas layar, aku menemukan akun Zen di halaman utama Putri. Dengan jantung yang tiba-tiba berdegup kencang, kubuka profilnya. Tampak fotonya yang tengah berpose bersama teman-teman kuliahnya. Aku tersenyum melihatnya. Lalu kubaca satu persatu status miliknya, dan aku menangkap akun seorang perempuan yang rajin mengomentari status Zen. Dari balas-balasan komentar itu, tampaknya mereka sedang dekat saat ini.
Kamu bikin gemes deh. Eh, jangan nyanyi, tuh makin hujan kan?
Nafasku tertahan sejenak saat membaca komentar dari Zen untuk perempuan itu. Kalimat yang sama, yang pernah dia ucapkan padaku, dulu. Lukaku kembali menguak, menganga lebih lebar dari sebelumnya. Entah aku yang gila atau memang seperti ini rasanya saat melihat mantan kekasihmu telah berhubungan dekat dengan wanita lain dalam waktu singkat.
Aku mengulang membaca komentarnya beberapa kali. Dulu, dia meyakinkanku bahwa dia akan tetap mencintaiku hingga akhir hayatnya. Bodoh, hampir aku tertipu olehnya. Ternyata dia sama saja dengan lelaki lain. Semua kata-kata yang keluar dari mulut mereka hanyalah gombalan semata, demi menarik simpati dari perempuan yang tengah diincarnya.
Aku bangkit dan meraih sebuah kardus berisi boneka dan barang-barang pemberiannya yang lain.
“Mau kamu apakan kardus itu, Mir?” tanya Putri saat dia melihat aktivitasku ini dari sudut matanya.
“Buang,” jawabku seraya tersenyum penuh makna padanya. Mungkin terkesan aku tidak menghargai barang-barang pemberiannya, namun aku tak bisa melanjutkan hidupku jika masih terbayang-bayang semua hal yang berhubungan dengannya. Jika Zen bisa memulai hidup barunya secepat ini, mengapa aku tidak?

Meski Bukan Untukku, Maukah Kau Kembali?

Cerita : Fiksi
Soundtrack : Kelly Clarkson - Because Of You
Durasi : 5-10 menit

Enjoy!

Rumah ini begitu kecil, namun segalanya teratur dengan apik, minimalis. Kala hujan turun, aku, kakak, ayah dan ibu kerap menghabiskan waktu bersama dengan menonton acara televisi yang menurutku sangat membosankan. Namun kebosananku sirna akan kehangatan yang terpancar dari kami, duduk berempat di sofa empuk berwarna kecoklatan, menyelonjorkan kaki, berbagi selimut yang sama, jajanan yang sama dan yang paling kusuka, gelak tawa yang sama.

Ya, rumah kecil yang hangat, siapa yang tak suka itu?

Namun kini yang kurasakan hanya dingin yang menggerogoti tubuh, perlahan membunuhku, mengambil jiwaku. Hangat itu telah hilang, tersingkirkan kekuatan dingin yang angkuh. Kucoba menghidupkan kembali hangat itu, namun nihil. Kucoba mencari sisa-sisa kehangatan yang tersisa, berharap dapat menumbuhkan kembali hangat itu, namun hingga ke sudut ruangan pun hangat itu tak dapat kutemukan.

Hangat itu hilang, semenjak ayah pergi. Ayah? Apa masih pantas aku memanggilnya ‘ayah’? Apa pantas orang yang pergi begitu saja, dengan wanita jalang tak tahu diri, tanpa mempedulikan anak-anak dan istrinya, kupanggil ‘ayah’? Lidahku kelu, seakan mendadak lupa bagaimana melafalkan sebutan itu.

Ah, ingin aku berteriak pada semua orang, bahwa aku membencinya. Aku tak peduli bila tanpa dia aku tak akan hadir di dunia ini, sungguh aku tak peduli. Untuk apa? Toh dia juga tidak mempedulikan anak, bahkan istrinya bukan? Dia tak peduli betapa hancurnya hati kami, betapa hancurnya hati ibu.

Rumah ini masih kecil, masih tertata tapi dan masih minimalis. Tapi tak ada hangat lagi seperti dulu. Pelukanku, kakak dan ibu tak cukup membuat rumah ini hangat. Aku benci mengakui ini, namun ada sesuatu yang hilang. Aku rindu kehangatan yang dulu bersinar dan terpancar di rumah ini. Aku kehilangan momen-momen indah itu.

Aku ingin dia, yang panggilannya tak bisa kulafalkan, kembali. Bukan untukku, bukan untuk kakakku, tapi untuk ibu. Aku mungkin hanya kehilangan suatu momen, tapi ibu kehilangan separuh jiwanya. Ibu telah memberikan seluruh cinta dan kasih sayang pada lelaki yang dulu bersedia menjadi imamnya, namun kini berubah menjadi lelaki tak bertanggung jawab. Tak kutemukan lagi kehidupan di kedua mata ibu kala aku memandangnya. Nanar, penuh luka, penuh derita. Aku ingin menghidupkan kembali kehangatan pancaran mata ibu. Dan demi ibu, aku ingin dia kembali.

Senin, 07 Maret 2011

Terima Kasih, Hujan

Pandangan mataku lurus ke depan. Pikiranku berpacu dengan tiap tetes air hujan yang menghantam bumi, berkonsentrasi menghitung berapa tetes air hujan yang turun saat ini. Mataku perih. Aku menyerah, aku tak sanggup lagi menghitungnya. Ratusan? Jutaan? Mungkin. Oh, suatu saat aku akan menciptakan suatu alat yang dapat menghitung tiap tetes air hujan yang jatuh. Tunggu, apakah itu konyol? Gila? Mungkin. Tapi para ilmuwan terkenal pada awalnya dianggap gila bukan?


Aku memeluk tubuhku, membangun benteng dari dingin yang mulai merasuki tubuhku. Hujan kali ini sangat deras dan berangin. Aku harus merelakan sepatu hitam kesayanganku sedikit basah terkena cipratan air hujan yang menetes di dekatku. Kulihat jam tanganku. 20 menit berlalu, namun mataku masih belum menangkap sosoknya datang menjemputku. Satu per satu, kawan-kawanku pulang ke rumahnya masing-masing, tentu saja tanpa harus cemas seragam putih mereka basah karena hujan. Mobil-mobil yang berhenti di dekatku pun beraneka macam. Mau mobil keluaran tahun berapa? Semua ada. Mendadak seperti ada sebuah showroom di jalan raya ini.

Mobil pertama berhenti, aku melengos, mobil pertama pergi disusul datangnya mobil kedua, dan begitu seterusnya. Selain iri pada mereka yang bisa dengan tenang pulang tanpa harus kehujanan, aku mulai cemas karena sosok yang kutunggu tak kunjung datang. Sudah kubilang 'kan tadi pagi? Aku bisa pulang sendiri. Malah lebih enak, aku bisa bareng dengan kawanku yang memiliki mobil dan mungkin sekarang aku sudah duduk di depan TV dengan secangkir teh hangat.

Akhirnya mataku menangkap sosoknya dari kejauhan. Aku tertegun. Aku hafal dengan motor tua itu. Aku hafal dengan helm kusam berwarna putih itu. Aku hafal lekuk tubuh orang yang mengendarai motor tua itu. Tubuhnya terbungkus jas hujan biru. Sandalnya basah, celana hitamnya dinaikkan hingga di bawah lutut. Matanya berusaha berkonsentrasi dengan jalan di depannya, agak sulit mengingat hujan yang turun masih tak kunjung mereda. Sesekali diusapnya wajahnya yang basah.

Aku melambaikan tanganku ke arah sosok itu, berusaha memberi sinyal dimana keberadaanku. Motornya berbelok ke arahku dan berhenti tepat di depanku.

"Pakai jas hujan ini. Sepatunya dimasukkan kantong plastik ya, besok 'kan masih dipakai. Maaf membuat adek lama menunggu,"

Kuterima jas hujan dan kantong plastik itu. Ada yang bergetar di dadaku. Bodoh, mengapa tadi aku sempat-sempatnya mengeluh? Aku punya sosok hebat sepertinya di hidupku. Berjuang menembus derasnya hujan, hanya untuk menjemput gadis manja sepertiku.

Aku tersenyum haru. "Terimakasih, Ayah,"

Dan terima kasih hujan telah mengingatkanku bahwa aku punya sosok hebat seperti beliau di dalam hidupku. Mungkin bila kau tak hujan hari ini, aku tak akan pernah tahu seberapa besar pengorbanannya untukku. Sekali lagi, terima kasih hujan, sampai ketemu lain waktu!

Sumber gambar : klik here

Kamis, 03 Maret 2011

Terlambat Memilikimu

Aku mengagumi sebuah gaun putih yang terpasang cantik di sebuah manekin di salah satu butik yang kulewati.
Gaun putih itu begitu cantik, begitu menggodaku. Aku menginginkannya.
Namun aku tak mempunyai uang untuk membeli gaun putih itu.
Harganya terlalu mahal. Mungkin aku harus menabung terlebih dahulu dan kembali beberapa hari lagi.
Saat ku kembali, aku tak mendapati gaun itu, tergantikan mini dress berwarna merah.
Kulihat seorang wanita keluar dari butik itu, membawa sebuah tas kertas berisikan sesuatu yang berwarna putih.
Saat dia melewatiku, aku dapat melihat bahwa itu adalah gaun putih yang selama ini kuinginkan setengah mati.
Aku kecewa. Bukan karena aku tak bisa memiliki gaun itu, namun karena aku terlambat sepersekian detik untuk memilikinya.


Aku mengagumi seorang laki-laki berparas tampan yang selalu duduk di depanku saat kami menaiki bis yang sama.
Lelaki itu begitu tampan, begitu mempesona. Aku menginginkannya.
Namun aku tak mempunyai nyali untuk hanya sekedar menyapanya, atau duduk di sampingnya.
Aku akan mengumpulkan keberanianku terlebih dahulu, hanya sebentar.
Saat kami bertemu kembali, kulihat tempat duduk di sampingnya tidak lagi kosong.
Seorang wanita cantik duduk di sampingnya.
Tak hanya duduk, dia bersandar di bahumu.
Apakah dia .. ?
Aku kecewa. Bukan karena tak memilikimu, namun karena aku terlambat sepersekian detik untuk mengenalmu.

Bukan inginku untuk terlambat membeli gaun itu.
Bukan inginku untuk terlambat berkenalan denganmu.
Bisakah aku kembali ke masa lalu untuk memperbaiki kesalahanku?
Aku mohon...

Rabu, 02 Maret 2011

Halo, Fina #CurhatCintaColongan

Kemarin aku baru saja mengirim naskah cerpen #curhatcintacolongan (dapat kamu lihat di sini) dan akan dibukukan melalui nulisbuku. Di bawah ini adalah hasil naskah cerpen milikku. Selamat membaca :)


Jarum panjang jam dinding di kamarku menunjuk ke angka 4. Seperti biasa, aku segera menuju ke telepon di sebelah tempat tidurku dan kemudian menekan sederet nomor yang sudah kuhafal tanpa perlu lagi melihat ulang dan mengecek apa nomor yang kutekan benar atau tidak.
"Halo, Fin. Bagaimana kabarmu? .. Aku juga baik-baik saja. Fina, aku rasa aku jatuh cinta pada pandangan pertama dengan laki-laki di sekolahku. Hari ini tidak ada kegiatan belajar-mengajar di sekolah, melainkan diganti dengan acara Pentas Seni dalam rangka mengisi Kegiatan Tengah Semester. Laki-laki itu menyanyikan sebuah lagu berjudul With Me dari SUM 41. Kamu tahu ‘kan itu lagu favoritku, Fin? Aku seperti tersihir saat melihatnya bernyanyi dan memainkan gitarnya. Sungguh, aku benar-benar tersihir, Fin. Aku begitu menikmati setiap kata yang dinyanyikannya dan setiap irama yang keluar dari gitarnya. Apakah aku bodoh jatuh cinta pada laki-laki yang namanya saja aku tidak tahu? .. Jadi menurutmu aku harus mencari tahu tentangnya? .. Baiklah, Fin. Besok aku akan menghubungimu lagi. Lanjutkan pekerjaanmu, Fin. Sampai jumpa besok! .. Ya, maksudku di saluran telepon ini .. Bye, Fin!"

Aku berlari secepat mungkin, menaiki tiap anak tangga di rumahku tergesa-gesa. Sebentar lagi jam tanganku akan menunjukkan pukul 4 sore. Setelah melemparkan tasku ke sembarang arah, masih lengkap dengan seragamku, aku menyambar telepon di kamar dan menekan nomor Fina. Aku sudah tidak sabar menceritakan kejadian hari ini padanya.
“Halo, Fina? Bagaimana kabarmu? .. Aku juga baik-baik saja. Fina, aku sudah tahu siapa nama laki-laki itu! Namanya Ervan Pratama. Ternyata dia salah satu seniorku, pantas aku tidak mengenali wajahnya. Dia ketua ekskul band di sekolah. Sekarang aku tahu bagaimana bisa dia mahir bermain gitar. Apa aku ikut bergabung dengannya di ekskul band? Bagaimana menurutmu? Eh, tapi aku sama sekali tidak bisa memainkan alat musik. Alat musik yang kubisa hanyalah seruling, itu pun terpaksa kupelajari karena aku mengambil kesenian musik di sekolah .. Suaraku merdu? Kamu yakin? .. Ide pintar, Fina! Aku tidak perlu mahir bermain alat musik, karena aku bisa mendaftar menjadi vokalis! .. Fina, kamu cerdas! Besok aku kabari lagi ya, Fin. Bye, Fin!"

“Fina! Coba tebak apa yang baru saja kualami tadi siang di sekolah! Aku berpapasan dengannya, Fina! Demi Tuhan, aku tak sanggup menatap matanya saat kami berpapasan. Ingin aku menyapanya, namun dia pasti hanya akan menganggapku adik kelas yang aneh dan tidak dikenal tiba-tiba menyapanya. Jadi dengan cepat kuurungkan niatku. Kamu tahu? Aku mencoba bercerita pada Hamid, salah satu teman sekelasku. Ternyata dia kenal Ervan. Mereka sering kumpul bersama di luar jam sekolah. Dan coba tebak lagi. Aku sudah mempunyai nomor HP Ervan! Aku senang sekali, Fina. Menurutmu bagaimana? Apa aku harus menelponnya? Atau hanya sekedar mengirim SMS? Aku bingung, Fina .. Iya, aku tahu kamu pasti akan menyuruhku untuk menghubunginya, tapi apa yang kubahas nanti? .. Benar juga. Dengan alasan bahwa aku tertarik menjadi vokalis, dia pasti akan membalas SMS-ku. Lagipula dia ‘kan ketuanya. Fina, kamu cerdas! .. Terima kasih, Fina sayang. Besok aku kabari lagi bagaimana perkembangan selanjutnya!”
Kututup teleponku dan mengakhiri percakapanku dengan Fina. Jari-jariku bermain di keypad HP-ku dan kemudian mengirim SMS ke Ervan. Sekarang, aku hanya tinggal menunggu balasan Ervan. Semoga dia tidak lama membalas SMS-ku.

"Fina, terima kasih atas saranmu kemarin! Berkat saranmu, aku akhirnya berhasil berteman dengan Ervan. Tadi saja di sekolah aku berani menyapan dan memperkenalkan diri padanya. Dia ternyata orang yang cukup ramah, Fina. Kamu tahu? Dia memiliki logat yang sangat unik, aku hanya bisa tersenyum mendengarnya. Fina, aku benar-benar jatuh cinta pada Ervan,"

Kuusap airmataku dan kemudian menekan sederet nomor yang kuhafal. Saat ini tepat pukul 4 sore.
“Fina, aku patah hati. Hubunganku dengan Ervan berjalan lancar. Kukira aku sudah cukup tahu semua hal tentangnya, namun ternyata aku salah. Sepulang sekolah, dengan mataku sendiri, aku melihatnya membonceng seorang perempuan cantik, Fin. Aku sedih .. Tidak, itu bukan temannya. Teman seperti apa yang dibonceng kemudian merangkul pinggangnya? Hatiku sakit, Fina. Perasaan ini sungguh aneh. Padahal aku baru mengenalnya, namun perasaan ini begitu kuat. Entahlah, Fin. Aku merasa bahwa dia jodoh dari Tuhan untukku. Bodoh ya? .. Iya, Fina, aku tidak akan sedih lagi. Maafkan aku harus menangis seperti ini,”

Kumatikan laptop dan menuju tempat favoritku di jam 4 sore.
“Fina, aku memilih mundur dari kehidupan Ervan. Maafkan aku baru mengabarimu sekarang. Banyak kejadian yang menimpaku beberapa minggu yang belakangan ini. Mulai dari nilai-nilai sekolahku yang merosot, hingga merenggangnya hubunganku dengan Ervan. Masih ingat perempuan yang aku ceritakan dulu padamu? Namanya Arin. Awalnya Ervan dengan senang hati memperkenalkanku pada Arin. Namun mungkin Arin bisa membaca niatku untuk berteman dengan Ervan. Dia memarahiku, Fin. Padahal awalnya aku senang dengan hubungan mereka. Aku bahagia asalkan Ervan bahagia, meski tidak bersama diriku. Dan semenjak Arin memarahiku beberapa hari yang lalu, hubunganku dengan Ervan kini merenggang. Aku memilih keluar dari ekskul band, Fin. Aku tak sanggup lagi bila harus bertemu dengannya. Melihatnya dari kejauhan saja, tubuhku dalam sekejap bisa melemas dan jantungku berdegup kencang, bagaimana jika harus berinteraksi dengannya dalam jarak yang cukup dekat? .. Tidak, Fina. Lebih baik kupendam saja perasaan ini. Biarlah dia bahagia bersama, Arin. Aku ikhlas. Jika kelak aku berjodoh dengannya, pasti Tuhan akan mempertemukan aku dengannya bukan, Fin? Rencana Tuhan itu selalu indah .. Jadi begitulah, Fin. Kisah cinta pertamaku yang tak terbalas .. Aku tidak sedih lagi, Fina. Untuk apa aku bersedih terlalu lama jika aku punya sahabat sepertimu yang senantiasa mendengarkan keluh kesahku? .. Kapan kita bertemu, Fina? Aku rindu padamu,”

Jarum panjang jam dinding di kamarku menunjuk ke angka 4. Seperti biasa, aku segera menuju ke telepon di sebelah tempat tidurku dan kemudian menekan sederet nomor yang sudah kuhafal tanpa perlu lagi melihat ulang dan mengecek apa nomor yang kutekan benar atau tidak.
“Nomor yang anda hubungi tidak terdaftar. Silahkan tutup atau ulangi dan masukkan kembali nomor yang benar,”
“Halo, Fin. Bagaimana kabarmu? ..

Kamis, 24 Februari 2011

Dengarkan

Mungkin sudah umum bagaimana orang-orang mendefinisikan arti dari sebuah "sahabat". Sahabat adalah orang yang mau menerima kita apa-adanya, dengan segala kekurangan dan kelebihan kita, dan tetap setia berada di sisi kita baik suka maupun duka. Ya, semua orang sudah tahu definisi itu bukan?

Namun beberapa akhir ini aku memahami apa arti dari kalimat "menerima kita apa-adanya". Ya, mau sahabatmu cengeng, mau gampang emosi, mau kadang bersikap konyol dan berlebihan seperti apapun, kamu tetap ada buat dia. Di situ lah fungsi kita sebagai sahabatnya bukan? Membuatnya tidak lagi cengeng, membuatnya tidak lagi gampang emosi dan membuatnya tidak lagi berlebihan. Bukan malah lari dan meninggalkan sahabat kita 'kan?


Salah satu dari sekian banyak hal yang kita cari dari sebuah persahabatan adalah kesetiaannya untuk senantiasa mendengarkan cerita kita. Belajarlah untuk mendengarkan cerita sahabatmu, karna walaupun bagimu cerita itu tidak penting dan hanya membuang-buang waktu, tapi bagi sahabatmu itu adalah cerita luar biasa di kehidupannya. Dan dia butuh seseorang untuk mendengarkannya, bersedia menerima luapan hatinya. Dia tidak butuh saran, kadang mungkin butuh saran, namun seringkali dia hanya butuh kita untuk mendengarkan saja. Apakah pekerjaan yang sulit, duduk bersama sahabatmu, mendengarkan dia berkeluh kesah padamu? Apakah itu sulit?


Seharusnya kamu menghargai inisiatif sahabatmu saat dia datang kepadamu untuk menceritakan apa yang dia rasakan. Itu artinya dia memilihmu, dia mempercayaimu, dia menganggapmu spesial, lebih dari sekedar teman. Dia menganggapmu sahabat. Bahkan kalau bisa, kamu yang lebih peka, kamu yang mendatangi sahabatmu duluan dan bertanya "Ada apa? Mau cerita?"

Itu pekerjaan yang mudah. Dan jika kamu tidak sanggup, maka menurutku kamu belum memiliki seorang sahabat dan belum menjadi seorang sahabat yang baik. Dengarkan sahabatmu. Ya, dengarkan dia.


Sumber Gambar : http://www.google.co.id/

Senin, 14 Februari 2011

Hanya Sebuah Mimpi?

Soundtrack : Rossa - Kini

Begitu sempurnanya lelaki itu. Tidak, tak ada manusia di dunia ini yang sempurna.
Caranya memperlakukanku sebagai wanita, sempurna.
Caranya menerimaku apa adanya sebagai wanita, sempurna.
Caranya menyayangi dan mencintaiku, sempurna.

Aku sempat berpikir, apakah ini semua mimpi, saat ada lelaki seperti itu datang di kehidupanku.
Apakah aku bahagia? Tentu saja aku bahagia.
Ya, sebegitu bahagianya aku sampai aku ingin membagi perasaan ini dengan beliau.
Namun betapa kecewanya hati ini saat beliau berkata
"Tidak! Jauhi lelaki itu! Kita berbeda!"

Aku menangis dalam diamku.
Aku mencoba menjauh dari lelaki itu.
Ya, menjauh dari lelaki hebat itu.
Begitu singkat kebahagiaan ini.
Dan mungkin memang benar, semua ini hanya mimpi.

Metamorfosis

Morning evribadeh! (everybody maksudnya)

Aah, langsung to the point aja ya. Barusan nih, aku nata file-file dan folder-folde di Toshi-ku. Dan pas aku membuka folder qimiqimimoART trus langsung masuk ke folder output. Nah, output ini maksudnya hasil-hasil editanku. Dan guess what? Ternyata udah aku urutin berdasarkan tahun aku ngedit foto-foto (malang) itu. Dimulai dari tahun 2006, saat aku mulai mengenal adobe photoshop dan microsoft digital image pro 10. Oya, sedia kantung plastik ya, kali aja kalian muntah liatnya. Soalnya, jujur, editanku sangat mengenaskan.

2006(love him forever, red)

(kejamnya sekolah ini, red)
(bego sangat, red)


2007(tak mau kau lagi, pergilah kau jauh dari qimi, red)
(remaja oon, red)


2008


2009
2010

Jadi, seperti itulah metamorfosis saya dalam hal edit-mengedit foto. Bisa dibilang tahun 2006-2007 adalah masa-masa suram saya. Memakai kata-kata dan huruf tidak jelas dan jika dicari di kamus besar bahasa indonesia tidak akan dapat ditemukan artinya. Tahun 2008 merupakan tahun peralihan saya, yang dengan semangat menggebu-gebu, berusaha mempelajari segala trik dan cara mengedit yang bisa menimbulkan decak kagum bagi yang melihatnya. Tahun 2009-2010? Mmh.. bisa dibilang saya cukup bangga lah yaa :D

Oiya, lebaran taun kemarin saya memenangkan lomba desain e-card lebaran loh. Pemenang favorit 1 dan masuk sebagai harapan 1. Ayeey!




Minggu, 13 Februari 2011

Hidup

Song : Miley Cyrus - The Climb

Hidup itu pilihan. Kita menjalani hidup bagaikan menelusuri sebuah pohon mulai dari batang hingga ranting-rantingnya yang bercabang. Namun, kehidupan ini tak hanya kita yang punya, namun juga milik orang lain.

Seringkali, pilihan yang kita ambil sama dengan pilihan yang diambil oranglain. Seringkali pula, dari pilihan tersebut membutuhkan sebuah perjuangan untuk mencapai garis finish. Ya, sebuah persaingan. Apakah salah jika orang lain mengambil pilihan yang sama dengan yang kita ambil? Tidak salah bukan? Kita mempunyai hak untuk memilih, begitu pula dengan mereka.

Jadi, hadapi persaingan tersebut secara sportif. Menang dan kalah hanyalah sebuah status berupa hitam di atas kertas. Namun sesungguhnya tidak ada gelar menang ataupun kalah. Yang ada hanyalah sebuah proses yang harus dilewati untuk mengambil keputusan dan pilihan selanjutnya. Kamu menang, ya, langkah apa yang kamu ambil selanjutnya. Atau kamu kalah, ya, langkah apa yang kamu ambil selanjutnya untuk menata ulang hidupmu.

Kalian pasti mempunyai rencana hidup bukan? Bagaimana kedepannya, apa jalan yang harus kalian ambil, bagaimana jika rencana kalian tidak berjalan sesuai kehendak, rencana cadangan seperti apa yang kalian butuhkan. Untuk mencapai akhir hidup yang happy ending dengan versi kalian pasti melewati banyak jalan dan pilihan bukan? Hadapi apapun yang akan menghadangmu, segala bentuk persaingan yang melibatkan perasaan dan emosi di diri kalian. Jangan kecewa, toh Tuhan sudah mempersiapkan yang terbaik untuk kalian apabila kalian tak lupa untuk senantiasa berdoa padaNya. Tuhan bukan hanya mempersiapkan, namun juga menuntun kalian ke jalan terbaik itu, ke happy ending versi kalian.

Jadi, takutkah kalian dengan segala bentuk persaingan itu? Takutkah kalian sehingga menyalahkan orang lain yang mengambil pilihan yang sama dengan kalian? Takutkah kalian menghadapi hidup?

Sejarah Hari Valentine - Mitos Valentine

Menurut berbagai sumber on the net, ternyata hari valentine (hari kasih sayang) memiliki sejarah yang rancu. Dugaan yang beredar memiliki beberapa versi dibawah ini:

Asal Muasal Hari Valentine :

Perayaan hari Valentine termasuk salah satu hari raya bangsa Romawi paganis (penyembah berhala), di mana penyembahan berhala adalah agama mereka semenjak lebih dari 17 abad silam. Perayaan valentin tersebut merupakan ungkapan dalam agama paganis Romawi kecintaan terhadap sesembahan mereka.

Perayaan Valentine's Day memiliki akar sejarah berupa beberapa kisah yang turun-temurun pada bangsa Romawi dan kaum Nasrani pewaris mereka. Kisah yang paling masyhur tentang asal-muasalnya adalah bahwa bangsa Romawi dahulu meyakini bahwa Romulus (pendiri kota Roma) disusui oleh seekor serigala betina, sehingga serigala itu memberinya kekuatan fisik dan kecerdasan pikiran. Bangsa Romawi memperingati peristiwa ini pada pertengahan bulan Februari setiap tahun dengan peringatan yang megah. Di antara ritualnya adalah menyembelih seekor anjing dan kambing betina, lalu dilumurkan darahnya kepada dua pemuda yang kuat fisiknya. Kemudian keduanya mencuci darah itu dengan susu. Setelah itu dimulailah pawai besar dengan kedua pemuda tadi di depan rombongan. Keduanya membawa dua potong kulit yang mereka gunakan untuk melumuri segala sesuatu yang mereka jumpai. Para wanita Romawi sengaja menghadap kepada lumuran itu dengan senang hati, karena meyakini dengan itu mereka akan dikaruniai kesuburan dan melahirkan dengan mudah.

Sejarah hari valentine I :

Menurut tarikh kalender Athena kuno, periode antara pertengahan Januari dengan pertengahan Februari adalah bulan Gamelion, yang dipersembahkan kepada pernikahan suci Dewa Zeus dan Hera. Tahu gak dewa Zeus? itu bokap-nye hercules.

Di Roma kuno, 15 Februari adalah hari raya Lupercalia, sebuah perayaan Lupercus, dewa kesuburan, yang dilambangkan setengah telanjang dan berpakaian kulit kambing. Sebagai ritual penyucian, para pendeta Lupercus meyembahkan korban kambing kepada dewa dan kemudian setelah minum anggur, mereka akan berlari-lari di jalanan kota Roma sambil membawa potongan kulit domba dan menyentuh siapa pun yang mereka jumpai dijalan. Sebagian ahli sejarah mengatakan ini sebagai salah satu sebab cikal bakal hari valentine.

Sejarah Valentine's Day II :

Menurut Ensiklopedi Katolik, nama Valentinus diduga bisa merujuk pada tiga martir atau santo (orang suci) yang berbeda yaitu dibawah ini:

  • pastur di Roma
  • uskup Interamna (modern Terni)
  • martir di provinsi Romawi Afrika.
Hubungan antara ketiga martir ini dengan hari raya kasih sayang (valentine) tidak jelas. Bahkan Paus Gelasius I, pada tahun 496, menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada yang diketahui mengenai martir-martir ini namun hari 14 Februari ditetapkan sebagai hari raya peringatan santo Valentinus. Ada yang mengatakan bahwa Paus Gelasius I sengaja menetapkan hal ini untuk mengungguli hari raya Lupercalia yang dirayakan pada tanggal 15 Februari.

Sisa-sisa kerangka yang digali dari makam Santo Hyppolytus, diidentifikasikan sebagai jenazah St. Valentinus. Kemudian ditaruh dalam sebuah peti dari emas dan dikirim ke gereja Whitefriar Street Carmelite Church di Dublin, Irlandia. Jenazah ini telah diberikan kepada mereka oleh Paus Gregorius XVI pada tahun 1836. Banyak wisatawan sekarang yang berziarah ke gereja ini pada hari Valentine (14 Februari), di mana peti dari emas diarak dalam sebuah prosesi dan dibawa ke sebuah altar tinggi. Pada hari itu dilakukan sebuah misa yang khusus diadakan dan dipersembahkan kepada para muda-mudi dan mereka yang sedang menjalin hubungan cinta.

Hari raya ini dihapus dari kalender gerejawi pada tahun 1969 sebagai bagian dari sebuah usaha yang lebih luas untuk menghapus santo-santo yang asal-muasalnya tidak jelas, meragukan dan hanya berbasis pada legenda saja. Namun pesta ini masih dirayakan pada paroki-paroki tertentu.

Sejarah hari valentine III :

Catatan pertama dihubungkannya hari raya Santo Valentinus dengan cinta romantis adalah pada abad ke-14 di Inggris dan Perancis, di mana dipercayai bahwa 14 Februari adalah hari ketika burung mencari pasangan untuk kawin. Kepercayaan ini ditulis pada karya sastrawan Inggris Pertengahan bernama Geoffrey Chaucer. Ia menulis di cerita Parlement of Foules (Percakapan Burung-Burung) bahwa:

For this was sent on Seynt Valentyne's day (Bahwa inilah dikirim pada hari Santo Valentinus) Whan every foul cometh ther to choose his mate (Saat semua burung datang ke sana untuk memilih pasangannya)
Pada jaman itu bagi para pencinta sudah lazim untuk bertukaran catatan pada hari valentine dan memanggil pasangan Valentine mereka. Sebuah kartu Valentine yang berasal dari abad ke-14 konon merupakan bagian dari koleksi naskah British Library di London. Kemungkinan besar banyak legenda-legenda mengenai santo Valentinus diciptakan pada jaman ini. Beberapa di antaranya bercerita bahwa:

  • Sore hari sebelum santo Valentinus akan mati sebagai martir (mati syahid), ia telah menulis sebuah pernyataan cinta kecil yang diberikannya kepada sipir penjaranya yang tertulis "Dari Valentinusmu".
  • Ketika serdadu Romawi dilarang menikah oleh Kaisar Claudius II, santo Valentinus secara rahasia membantu menikahkan mereka diam-diam.
Pada kebanyakan versi legenda-legenda ini, 14 Februari dihubungkan dengan keguguran sebagai martir.

Sejarah Valentines Day IV :

Kisah St. Valentine

Valentine adalah seorang pendeta yang hidup di Roma pada abad ke-III. Ia hidup di kerajaan yang saat itu dipimpin oleh Kaisar Claudius yang terkenal kejam. Ia sangat membenci kaisar tersebut. Claudius berambisi memiliki pasukan militer yang besar, ia ingin semua pria di kerajaannya bergabung di dalamya.

Namun sayangnya keinginan ini tidak didukung. Para pria enggan terlibat dalam peperangan. Karena mereka tak ingin meninggalkan keluarga dan kekasih hatinya. Hal ini membuat Claudius marah, dia segera memerintahkan pejabatnya untuk melakukan sebuah ide gila.

Claudius berfikir bahwa jika pria tidak menikah, mereka akan senang hati bergabung dengan militer. Lalu Claudius melarang adanya pernikahan. Pasangan muda saat itu menganggap keputusan ini sangat tidak masuk akal. Karenanya St. Valentine menolak untuk melaksanakannya.

St. Valentine tetap melaksanakan tugasnya sebagai pendeta, yaitu menikahkan para pasangan yang tengah jatuh cinta meskipun secara rahasia. Aksi ini akhirnya diketahui oleh kaisar yang segera memberinya peringatan, namun ia tidak menggubris dan tetap memberkati pernikahan dalam sebuah kapel kecil yang hanya diterangi cahaya lilin.

Sampai pada suatu malam, ia tertangkap basah memberkati salah satu pasangan. Pasangan tersebut berhasil melarikan diri, namun malang St. Valentine tertangkap. Ia dijebloskan ke dalam penjara dan divonis hukuman mati dengan dipenggal kepalanya. Bukannya dihina oleh orang-orang, St. Valentine malah dikunjungi banyak orang yang mendukung aksinya itu. Mereka melemparkan bunga dan pesan berisi dukungan di jendela penjara dimana dia ditahan.

Salah satu dari orang-orang yang percaya pada cinta kasih itu adalah putri penjaga penjara sendiri. Sang ayah mengijinkan putrinya untuk mengunjungi St. Valentine. Tak jarang mereka berbicara lama sekali. Gadis itu menumbuhkan kembali semangat sang pendeta. Ia setuju bahwa St. Valentine telah melakukan hal yang benar alias benul eh betul.

Pada hari saat ia dipenggal alias dipancung kepalanya, yakni tanggal 14 Februari gak tahu tahun berapa, St. Valentine menyempatkan diri menuliskan sebuah pesan untuk gadis putri sipir penjara tadi, ia menuliskan Dengan Cinta dari Valentinemu.

Pesan itulah yang kemudian mengubah segalanya. Kini setiap tanggal 14 Februari orang di berbagai belahan dunia merayakannya sebagai hari kasih sayang. Orang-orang yang merayakan hari itu mengingat St. Valentine sebagai pejuang cinta, sementara kaisar Claudius dikenang sebagai seseorang yang berusaha mengenyahkan cinta.

Kesimpulan :

Dari semua asal usul atau sejarah diatas bisa disimpulkan bahwa "hari valentin memiliki latar belakang yang tidak jelas sama-sekali", baik dari ceritanya maupun waktu terjadinya (perhatikan abad terjadinya sejarah diatas walaupun ada nama tokoh yang sama). Gimana menurut Anda?

Artikel di atas yang berjudul "Sejarah Hari Valentine - Mitos Valentine Day - Asal Muasal Hari Valentine" dikutip dari www.ateonsoft.com dan dari berbagai sumber lainnya.

Semoga bermanfaat.

diambil dari : http://ugiq.blogspot.com/2010/01/sejarah-hari-valentine-mitos-valentine.html

Rabu, 09 Februari 2011

Aku Sayang Beliau

Song : Ada Band - Yang Terbaik Bagimu, Taylor Swift - The Best Day, Miley Cyrus - Butterfly Fly Away

Aku merindukan saat-saat kami berdua dahulu, saat aku masih kecil, yang bahkan meraih buku di atas meja belajar harus naik ke atas kursi terlebih dulu, atau saat menggayung air di kamar mandi dengan berjinjit saat airnya surut.

Aku rindu saat aku manja dan minta digendong di punggungnya dari ruang TV ke kamarku.
Aku rindu saat aku naik di kakinya, berjalan berdua dengan aku bertumpu di kakinya, tanganku menggandeng tangannya.
Aku rindu saat aku memilih duduk di depan saat harus berboncengan dengannya.
Aku rindu saat beliau menemaniku kunjungan ke kebun binatang, menggandengku, kemudian mengambil foto diriku dengan senyum lebar dan gigi kelinciku yang tampak jelas.
Aku rindu saat beliau memintaku untuk memijit kedua kakinya, dan diselingi dengan pertanyaan-pertanyaan tentang pembagian dan perkalian, atau bahkan mengetesku dengan pancasila.
Aku rindu saat beliau mengijinkanku, untuk pertama kalinya, merayakan ulangtahun dengan teman-temanku, dan harus berdesakan di dalam mobil tua 'kenangan' kami.

Saat aku diperlakukan jahat oleh teman-temanku untuk pertama kalinya, aku datang ke beliau sambil berurai airmata, dan menceritakan apa yang baru saja aku alami dengan sesenggukan. Dan aku ingat apa yang beliau katakan padaku saat itu. "Nak, tidak selamanya teman-teman di sekelilingmu itu benar-benar baik. Bisa saja dia baik di depanmu, namun menjelek-jelekkanmu di belakangmu. Yang hati-hati dalam memilih teman ya, Nak,"

Aku bangga pada beliau. Beliau tak terlihat takut sedikitpun di hadapanku dan membuatku nyaman saat berada di dekatnya. Aku tak pernah melihat beliau takut saat ada tikus, bahkan saat seekor nyambik (biawak) sekalipun, yang masuk ke dalam rumah.

Dan aku pun mulai beranjak dewasa. Aku tahu beliau akan sangat khawatir dengan pergaulanku, terutama pergaulan dengan lawan jenis. Beliau selalu bercanda dengan berkata, "Kalau cari pacar harus gagah dan ganteng kayak gini ya," sambil menepuk-nepukkan tangannya ke dadanya. Dan aku hanya bisa tertawa.

Aku pernah membuat beliau kecewa, sedih dan bahkan marah. Ya, aku pernah menangis saat beliau berkata padaku cukup keras. Aku segera masuk ke dalam kamar, menangis dengan menutup bantal di kepalaku, sedikit kaget dengan reaksi beliau. Namun, akhirnya beliau ikut menyusulku ke dalam kamar. Beliau meminta maaf padaku, mengusap rambutku dan kemudian memelukku seraya meminta maaf akibat perkataannya yang keras. Beliau hanya ingin aku tidak salah dalam memilih jalan. Ya, beliau pagarku di sepanjang jalan hidupku.

Aku ingin membuat beliau bangga padaku kelak. Ya, betapa aku ingin saat kelak beliau sudah menua, beliau tersenyum bangga melihatku, yang dulunya hanyalah anak manja yang sering membuat ulah, berhasil mewujudkan cita-citaku (amin). Aku ingin beliau tetap ada saat aku diwisuda, saat aku menikah, bahkan saat aku melahirkan anakku (cucunya) kelak. Apakah terlalu muluk aku mengharapkan beliau tetap ada di sampingku, orang yang aku sayangi? Aku hanya tidak bisa membayangkan bagaimana jika tidak ada beliau.

Sebenarnya banyak yang ingin aku katakan tentang beliau. Namun aku rasa beberapa paragraf di atas sudah mewakili semua perasaanku terhadap beliau. Dan aku yakin kalian sudah tahu siapa yang aku maksud.

Ayah / Bapak / Papa / AbahAku menulis ini bukan berarti aku tidak menyayangi Ibuku. Tidak. Aku sangat menyayangi mereka berdua. Namun, ada beberapa hal yang tidak bisa Ibu lakukan untuk kita bukan? Dan di situlah peran Ayah. Ayah menyempurnakan peran Ibu untuk kita. Mereka berdua sempurna. Dan apabila ada salah satu dari orangtua kalian telah tiada, aku rasa kita harus lebih memahami dan menghormati beliau. Betapa susahnya berperan sebagai Ibu sekaligus Ayah, atau sebaliknya, di dalam sebuah keluarga bukan?

Minggu, 06 Februari 2011

Online Shop : Toko Falihah

Mencoba merintis bisnis via online shop ^^
Jual macam-macam jilbab, ada ciput dan mukena juga.
Bisa di add via facebook di sini
Bisa add juga akun facebook-ku di sini

Happy Shoping, sist! ^^