Sabtu, 14 Januari 2012

Kamu Manis, Kataku #3


Ada ya makhluk ciptaan Tuhan yang sebegini sempurnanya? Ya, Tuhan pasti menciptakan semua makhluknya secara sempurna fisik, tapi aku tidak pernah melihat lelaki sesempurna dia.
Tinggi badannya sekitar 180cm, dengan berat badan proporsional. Rambutnya cepak, berwarna hitam, dan berponi. Bukan poni Dora, si anak yang selalu tersesat kemana-mana itu. Oh, dan bukan poni lempar seperti anak band yang beberapa tahun lalu sempet booming itu. Poninya biasa aja. Standard Nasional Indonesia. SNI.

Sampai mana kita? Oh, rambut. Kita beralih ke alisnya. Alisnya cukup tebal, dan keduanya seperti terlihat menyambung. Ada rambut-rambut alis tipis yang tumbuh di tengah-tengahnya. Alisnya yang tebal mempertajam tatapannya. See? Saat ini dia tengah menatapku, dan aku seakan sedang menerima sengatan listrik dengan tegangan tinggi. Kupalingkan mataku, tak kuat menahan kekuatan matanya. Kekuatan? Dia bukan super hero kok. Tapi, dia super hero ku di dunia ini.

Hidungnya cukup mancung, bibirnya sexy, dan dagunya mengerucut di ujungnya jika dia tersenyum. Tubuhku seakan meleleh jika melihat senyumannya, seperti saat ini, seakan-akan tubuhku tak mempunyai tenaganya lagi.

“Kamu manis,” kataku tiba-tiba, meluncur begitu saja. Dia masih menatapku dan masih tersenyum. Ayolah, berilah tanggapan, jangan diam saja.

“Ega, ayo berangkat. Ditunggu papa nih,” teriak abangku dari luar kamarku.

Bola mataku berputar ke kanan, atas, dan kiri. Abangku kenapa gak seneng liat adiknya bahagia dan sedang ‘kencan’ dengan lelakinya sih?

“Aku berangkat sekolah dulu ya. Jangan sedih, nanti siang aku sudah pulang ke rumah kok,” ucapku, sambil melayangkan cium jauh untuknya.

Dia masih tersenyum, dan menatapku. Dia melekat erat di dinding kamarku. Sebuah poster. Idolaku.


Jumat, 13 Januari 2012

Goodnight, Troy

"Kamu terlalu baik buatku,"

Itu kalimat terakhir yang dia ucapkan padaku. Murahan. Ayolah. Apa aku tampak seperti perempuan polos yang sekian tahun hidup di desa, tak tahu apa-apa dan nekat merantau ke kota kemudian bertemu dengannya? Dengan teganya, -aku menduga dia tak punya hati-, dia melangkah meninggalkanku sendirian di restoran favorit kami berdua, dengan bill yang ternyata belum dia bayar. Lelaki macam apa pula dia? Tak tahu tata krama kah dia? Bisa dibilang, malam itu adalah malam terburukku. Diputusin, disuruh bayar bill, dan... AHA! dan terkatung-katung di jalanan raya menunggu kendaraan umum.

"El,"

Lamunanku mengabur, dan mataku kembali normal melihat wajah orang yang memanggil namaku, setelah sebelumnya mataku hanya menampakkan background hitam-putih masa lalu. Mataku terpaku menatap orang di hadapanku ini, bibirku tak bergerak, dan sepertinya aku hampir tak bisa merasakan nafasku sendiri.

"Troy," ucapku, akhirnya.

Troy, lelaki yang baru saja kulihat di proyektor mataku. Aku cukup terkejut dengan kehadirannya, yang ternyata mempunyai cukup nyali untuk menemuiku kembali, setelah peristiwa peninggalan-mantan-kekasih-beserta-bill beberapa bulan yang lalu itu.

"Ada apa? Mendadak sekali kau ingin bertemu denganku," ucapnya, setelah selesai memposisikan duduknya di kursi seberangku.

Aku menggeleng, dan tersenyum. "Tak apa. Tiba-tiba saja aku teringat denganmu saat kemarin melewatkan lunch dengan klien di restoran ini,"

"Teringat padaku?" tanyanya, mengulang kalimatku dan kemudian tersenyum lebar. "Ah, kau merindukanku, ya?"

Rindu? Seperti itukah perasaanku padamu? Mungkin. Ya, jika itu katamu.

Sebagai respon, aku hanya mengedikkan bahuku dan tersenyum manis padamu. Masih sama manisnya saat kau masih menjadi pasanganku. Masih sama manisnya saat kau meninggalkanku dengan alasan murahan itu. Dan masih sama manisnya saat ku tahu bahwa kau telah memiliki penggantiku, hanya selang dua hari setelah kau memutuskanku. Hebat. Aku masih bisa tersenyum manis. So proud of me!

Kemudian kau bercerita banyak tentang kehidupanmu setelah kepergianku. Oh, setelah kepergianmu dariku. Kau bilang kau menyesal telah meninggalkanku. Kau bilang kau tak bisa menemukan penggantiku, perempuan yang perhatian seperti diriku. Anehnya, kau bilang akulah yang terbaik.

Aku menggeleng tak percaya. "Bukankah alasan kau meninggalkanku saat itu, adalah aku terlalu baik untukmu?"

Kurasakan jemarimu menggenggamku perlahan. "Aku salah saat itu, El. Maafkan aku. Aku kangen kamu,".

Kubalas genggaman jemarimu di jemariku, dan tersenyum.

"Aku juga. Mengapa kita tak pulang ke apartemenmu saja, dan kemudian bernostalgia akan kenangan-kenangan manis kita berdua dulu?" tawarku padanya.

"Dengan senang hati, princess."

Ah, semudah inikah untuk kembali ke pangkuan seorang Troy? Aku mengutuk diriku mengapa tak sejak dulu melakukan hal ini. Mengapa menunggu hampir setahun untuk mengumpulkan keberanian bertemu Troy? Sudahlah, toh kini aku sudah berada di mobilnya, meluncur ke apartemennya.

"Welcome back, princess,".

Troy membukakan pintu, kemudian membungkuk dan tangannya menyilakanku masuk ke dalam apartemennya. Kuedarkan mataku. Tempat ini masih sama seperti dulu, tidak ada yang berubah. Keringat dingin mulai kurasakan di tubuhku, dan jantungku berdegup cepat.

"I miss you," ucap Troy di daun telingaku, seraya menarikku ke dalam pelukannya. Aku hanya tersenyum malu mendengarnya. Ini saatnya.

JLEB!

Troy terdiam dan hanya menatapku tak percaya. Tangannya kini memegang perutnya, yang tertancap sebuah pisau belati.. milikku.
"Kenapa, El?" tanyanya di sela-sela rintihan kesakitannya.

"Seperti itulah sakit yang kurasakan setahun ini, Troy. Ya, aku merindukanmu. Aku tak sabar untuk bertemu denganmu. Tapi sepertinya, konsep rindu milik kita berdua berbeda."

Tawaku memecah keheningan malam ini. Kuambil tas genggamku dan segera melangkah keluar dari apartemennya.

"Goodnight, Troy. Sleep tight."

Dag Dig Dug! #2


“Aku berjanji akan mengutarakan perasaanku padanya,”
Mataku terbuka lebar. “Bener? Yakin?”
Dia mengangguk. “Kamu saksi dari ucapanku ya,”
Lalu kami berdua menautkan kedua kelingking kami dan diakhiri dengan menempelkan kedua ibu jari kami.
                Setahun berlalu sejak perjanjian sederhana itu. Seharusnya aku tahu, bahwa dia tak akan berhasil menepati janjinya. Perasaan itu, yang menurutnya merupakan sebuah ramun penuh serbuk-serbuk cinta, masih setia ngendon di sudut ruang hatinya. Bukan karena tak mau, namun serbuk-serbuk cinta itu tak bisa keluar dari ruang hatinya. Pintu hatinya telah tertutup. Sama seperti kedua matanya yang tak akan pernah terbuka lagi, tak pernah lagi akan membagi kerlingan-kerlingan matanya seiring cecandaan yang dia lontarkan. Dia telah pergi, membawa ikut serta serbuk-serbuk cintanya pada lelaki itu.

**

                Kuelus perlahan batu nisan bertuliskan namanya, tanggal dimana dia dilahirkan di dunia ini dan tanggal dimana dia harus meninggalkan dunia ini. Meninggalkan aku. Meninggalkan lelaki pujaannya.
                “Kamu pernah bilang, janji harus ditepati bukan?” tanyaku padanya, yang bersembunyi di dalam batu nisan ini.
             “Lalu, bagaimana jika aku mengeluarkanmu dari dalam sana, kemudian membawamu pergi ke tempat lelaki pujaanmu, agar kau bisa mengeluarkan semua serbuk-serbuk cinta itu?”
Aku tertawa, makin lama makin lirih, dan kemudian tawaku hilang. Aku masih waras, tak cukup gila untuk melakukan apa yang barusan kukatakan.
“Baiklah. Ijinkan aku mengambil alih tugasmu, ya? Tenang, aku tak akan salah orang,” ucapku, sambil tersenyum memegang selembar foto. Tampak sosok lelaki pujaanmu yang melebur dalam keramaian ruang kelasmu.
“Lelaki ini, ‘kan?”. Kuarahkan potret dirinya ke arahnya. “Baiklah, aku pergi. Aku akan mengabarimu setelah misi ini selesai.”

**

Atma Torino. Atma Torino. Atma Torino. Kuulang terus nama lelaki yang ada di foto ini, sambil terus mengedarkan mataku sekeliling tempat ini. Tak banyak orang di lorong ini. Hanya ada beberapa lelaki dan perempuan yang duduk di meja dekatku berdiri. Dapat kulihat mereka tengah berbicara dengan nada yang berbisik, sambil sesekali melihat ke arahku. Aku tahu hal ini akan terjadi.
Aku menoleh ke pintu ruang kelas di sebelahku yang mendadak terbuka, dan seorang laki-laki paruh baya yang menenteng tas kerjanya berjalan keluar diiringi mahasiswa-mahasiswinya. Dan seketika itu pula aku menangkap sosok lelaki itu. Aku berjalan cepat mengejar langkahnya.
“Atma!” Kuberanikan diri untuk memanggilnya.
Atma berhenti dan berbalik. Tubuhnya terpaku saat melihatku di hadapannya, seakan dia sedang melihat hantu. “Ni..Nina?”
DAG DIG DUG!
Jantungku berdetak tak beraturan saat aku memandang Atma, seperti kehilangan irama hidupku.
DAG DIG DUG!
Makin lama, makin cepat. Slows down. Ada apa dengan diriku?
DAG DIG DUG!
Nina, apakah serbuk-serbuk cintamu sudah berpindah di hatiku? Seperti inikah perasaanmu pada lelaki di hadapanku ini? Ninaaaa..
“Aku...aku Nena,” ucapku pada akhirny dan aku tak mampu berkata-kata lagi.
Sejak saat itu, aku mampu terbiasa dengan irama jantungku saat melihat Atma, lelakimu yang kini telah menjadi lelakiku.
DAG DIG DUG! DAG DIG DUG! DAG DIG DUG!
Nina, akukah yang mencintainya? Ataukah tetap kamu, yang hidup di dalam tubuhku?

Kamis, 12 Januari 2012

Halo, Siapa Namamu? #1


Menurut kacamata orang lain, tubuhmu kurus, tak berlekuk, seperti tiang listrik di depan rumahku.
Menurut kacamataku, kamu seperti Ade Rai dengan six packs dan tubuh kekarnya.

Menurut kacamata orang lain, kamu tampak weird karena berhasil menyelesaikan sebagian besar soal yang diberikan.
Menurut kacamataku, kamu tampak sexy saat berusaha mengingat materi yang telah diberikan sebelumnya. Dahimu mengerut, bola matamu berputar ke atas dan ke samping, serta bibirmu yang sedikit membuka. It’s so sexy.

Menurut kacamata orang lain, kamu adalah lelaki dari negeri antah berantah, dengan kemeja biru kusam dan jeans belel.
Menurut kacamataku, kamu adalah lelaki yang diturunkan oleh Tuhan ke bumi, untuk membiusku seperti saat ini. Kemeja biru kusam dan jeans belel? Ah, itu kedokmu bukan? Kamu malaikatku ‘kan? Karena setiap senti kulitmu mengeluarkan cahaya, seperti Edward Cullen. Tunggu, kamu bukan vampir ‘kan? Kamu bisa membaca pikiranku?

Menurut kacamata orang lain, model rambutmu was so out of date.
Menurut kacamataku, mereka buta. Model rambutmu, ikal dengan sedikit poni di dahimu, jambang yang kau biarkan tumbuh dan alis tebalmu. Just like a Hollywood star!

Menurut kacamata orang lain, suara kecap yang muncul kala mulutmu mengunyah bekal makan siangmu, seperti suara petir di siang hari. Mengganggu.
Menurut kacamataku, suara kecapmu seperti sebuah not-not balok yang kemudian melebur menjadi sebuah melodi indah di telingaku. Menenangkan.

Menurut kacamata orang lain, kamu terlihat sombong dengan mengeluarkan buku-buku tebal, membolak-balik halamannya dan matamu bergerak kiri ke kanan, membaca tiap kata demi kata di lembar itu.
Menurut kacamataku, kamu terlihat bertanggung jawab dengan mengeluarkan buku-buku tebal, dan melakukan hal itu semua. Bertanggung jawab pada masa depanmu, memperkecil peluang kegagalanmu dengan mengingat lagi materi yang akan dikeluarkan di tes ini. Oooh, maukah kau menjadi pendamping hidupku saja? Bertanggung jawab pada hidupmu saja kau mampu, apalagi bertanggung jawab pada hidup kita berdua kelak?

Menurut kacamata orang lain, bau tubuhmu tak lebih dari sebuah wewangian murahan yang bisa didapatkan di toko-toko parfum terdekat.
Menurut kacamataku, bau tubuhmu seperti sebuah wewangian mahal, limited edition dan pantas diperjuangkan untuk mendapatkannya. Bau tubuhmu masih melekat di kedua lubang hidungku, bahkan saat kau sudah mencapai mejamu. Seperti asap sate. Bukan maksudku baumu seperti sate, namun saat tubuhku terkena aroma tubuhmu, aroma tubuhmu melekat erat di setiap helai pakaianku. Sama seperti saat aku menembuh segumpal asap sate di tengah jalan kemarin.

Menurut kacamata orang lain, perempuan yang menghampirimu, mencium pipi dan menggenggam jemarimu saat tes berakhir, adalah kekasihmu.
Menurut kacamataku, aku tak menangkap sosok perempuan itu di lensaku.

Karena memang hanya ada kamu di kacamataku.
Jadi, apakah aku harus mulai berjalan ke arahmu, menegurmu dan bertanya, “Halo, siapa namamu?”



*pictures source : weheartit.com

Kamis, 01 Desember 2011

A Beautiful Twist

Aku tidak tertarik pada Desember, aku masih setia pada November.
Kamu tidak tertarik pada November, kamu segera ingin bertemu Desember.

Aku tidak tertarik untuk mencari tambatan hati lain, hatiku masih setia menyenandungkan namamu.
Kamu tidak tertarik untuk mencari tambatan hati lain, hatimu masih setia menyenandungkan namanya.

Aku tidak tertarik untuk melupakanmu, otakku terlalu jenius untuk menghapus namamu.
Kamu tidak tertarik untuk melupakanku, otakmu saja tak menyimpan satu kenangan denganku, penuh dengan kenangan-kenanganmu bersamanya.

Aku tidak tertarik untuk menyembuhkan luka ini, hatiku terbuat dari baja asal kau tahu, masih mampu menahan bertubi-tubi jarum yang kau sarangkan di hati ini.
Kamu tidak tertarik untuk menyembuhkan lukaku, kamu terlalu sibuk menjaga hatinya.

Aku tidak tertarik untuk menghapus namamu dalam kamusku, namamu terlalu indah untuk kuhapus.
Kamu tidak tertarik untuk menghapus namaku dalam kamusmu, namaku terlalu mudah untuk dilupakan dalam kedipan mata.

Aku tidak tertarik untuk menjauhimu, kau bagaikan kutub utara magnet dan aku bagaikan kutub selatan magnet.
Kamu tidak tertarik untuk mendekatiku, aku dan kamu memiliki sisi kutub magnet yang sama katamu.

Aku tidak tertarik untuk mengabaikan senyumanmu kala kita bertemu, lesung pipimu terlalu menggoda untuk kulewatkan.
Kamu tidak tertarik untuk berhenti tersenyum, senyuman yang kau tujukan padanya menembus diriku.

Aku tidak tertarik pada kekasihmu, aku tertarik padamu.
Kamu tidak tertarik padaku, kamu tertarik padanya. 



Desember telah datang, dan aku masih tetap berdiri di sini bersama bayang-bayang November. Tak akan pernah kuubah perasaan ini, perasaan yang kuyakin kelak akan berakhir indah bersamanya. #GoodbyeNovember. Thank you for a little twist in my life, a beautiful twist.

Kamis, 10 November 2011

Midnightmezzo

Kadang, yang dibutuhkan seseorang bukanlah status.
Cukup mengetahui, bahwa perasaannya berbalas, itu sudah cukup.
Atau bahkan tidak berbalas.
Itu lebih baik daripada mati dalam angan dan tanya yang tak akan pernah terjawab.
"Aku suka kamu. Bagaimana dengan perasaanmu padaku?"




  
source: weheartit.com

Rabu, 09 November 2011

Quote Of The Day

The right one is worth waiting.

The Girl Who Can't Break Up, The Boy Who Can't Leave - Leessang

Translation
 
The girl who can’t say good bye
The boy that can’t leave
The two of us are no longer in love
So no no no no no no (x2)

Anywhere together in a 3000 dollar used car
Without a care in the world
Linking arms, committing memories in a photo
Understanding each other in our sleepless nights
My dreams became your future
A pair of beautiful birds chasing each other
A love I could never get enough of
A person I want to meet when reborn
But in front of this thing called time
We can’t win against our greed
Sounds of your tears alone in the bathroom
The suspicious gazes focused on me
As the days go by I think of breaking up again

The sun is hot but your heart is frozen
Whose fault is this? But I love you baby
Everything else is the same but we changed
Whose fault is this? I still love you baby

The girl who can’t say good bye
The boy that can’t leave
The two of us are no longer in love
So no no no no no no (x2)

I’m so busy that I feel guilty
I fill my wallet with money and make some time
Even though I don’t express my love
When I have dinner and watch a movie with you
I hope you might feel better but
I continue to be in debt to my thoughts
As I walk and tease you
it’s all a played out game
Love is passing,
Love and heartbreak are one and the same
Hearbreak takes love and goes away.

The sun is hot but your heart is frozen
Whose fault is this? But I love you baby
Everything else is the same but we changed
Whose fault is this? I still love you baby

The girl who can’t say good bye
The boy that can’t leave
The two of us are no longer in love
So no no no no no no (x2)

Love is passing,
Love and heartbreak are one and the same
Hearbreak takes love and goes away. (x2)

How nice would it be if love
was something that could be earned?
(It’s all a dream, holding your hand)
How nice would it be
if love was something to get by wanting it?
(It’s all a dream but I can’t escape)

The girl who can’t say good bye
The boy that can’t leave
The two of us are no longer in love
So no no no no no no (x2)

Are men caught in love done so because of weakness?
Are men starved of love not worthy of it?
Are men that keep secrets bad men?
Why is it that love changes?

Sad Movie | Movie Review

Sad Movie menghadirkan empat kisah sedih yang masih berhubungan di dalam satu kota. Pemainnya antara lain: Jung Woo-sung, Im So-jeong, Cha Tae-hyun, Yeom Jung-ah, Shin Min-ah, Son Tae-young, dan Lee Ki-woo.

Kisah pertama
Jin-woo (Jung Woo-sung) berprofesi sebagai seorang pemadam kebakaran yang memacari seorang penerjemah bahasa isyarat di acara berita bernama Su-jung. Keduanya ini pasangan serasi, satu tampan, satu cantik. Yang sulit untuk meneruskan hubungan keduanya ke jenjang pernikahan adalah Jin-woo menolak untuk berhenti menjadi pemadam kebakaran. Su-jung kerap kuatir dengan profesinya itu. Mereka berdua bertemu saat beberapa waktu sebelumnya Jin-woo menyelamatkan adik Su-jung, Su-eun.

Kisah kedua
Su-eun (Shin Min-ah), adik Su-jung. Dia bisu dan mempunyai bekas luka bakar di pipinya. Su-eun sehari-harinya bekerja sebagai badut putri salju di taman hiburan. Saat tengah bekerja, dia melihat Sang-gyu (Lee Ki-woo), seorang pelukis, dan akhirnya jatuh cinta pada laki-laki itu. Karena Su-eun tidak percaya diri dengan wajahnya, dia memberikan perhatian pad Sang-gyu dengan kostum badut.



Kisah ketiga
Ju-yung (Yeom Jung-ah) adalah tokoh ketiga dalam film ini. Dia adalah seorang wanita karir dengan schedule yang padat, yang kerap bertengkar dengan putranya, Hui-chan. Keadaan mulai berubah ketika Ju-yung masuk rumah sakit akibat ditabrak mobil. Hui-chan secara tak sengaja menemukan buku-buku harian sang ibu saat dia hendak mengambil makanan di dapur. Buku-buku harian itu menceritakan tentang kelahiran hingga saat dirinya dibesarkan. Awalnya hubungan mereka semakin membaik, karena keduanya sama-sama mulai saling mengerti. Namun suasana sedih muncuk saat Ju-yung ternyata mengidap kanker dan divonis tidak akan bertahan hidup.

Kisah keempat
Ha-seok (Cha Tae-hyun), si tokoh keempat yang bekerja serabutan sebagai target pukul seorang petinju. Suk-hyun (Son Tae-young) memutuskan hubungan mereka, karena dia tidak merasa yakin dengan masa depan Ha-seok. Akhirnya, Ha-seok berusaha mencari cara untuk mendapatkan penghasilan yang lebih besar untuk meyakinkan Suk-hyun. Secar tak disengaja, Ha-seok terpikir untuk membuka jasa "memutuskan pacarmu". Jadi, seperti jika seseorang takut mengatakan pada pacarnya bahwa dia ingin putus, maka Ha-seok lah perantara untuk mengatakannya.


Sad Movie benar-benar mengaduk-aduk emosi siapapun yang menontonnya. Didukung dengan background music yang menyayat-nyayat hati. Aku menonton film ini tengah malam, dan dengan sukses berdera air mata.

Rabu, 02 November 2011

Mas, Cakep Deh!

Mas, cakep deh. Lebih cakep lagi kalo skripsinya diselesaiin. Lirik

Mas, cakep deh. Lebih cakep lagi kalo mau kujadiin selingkuhan.


Mas, cakep deh. Lebih cakep lagi kalo ngajarin aku dapetin cintamu.

Mas, cakep deh. Lebih cakep lagi kalo nonton reeva ama aku. ( ื▿ ืʃƪ) cc:  

Mas, cakep deh. Lebih cakep lagi kalo gak ujan-ujanan kayak gitu. Sini aku payungin.

Mas, cakep deh. Lebih cakep lagi kalo bisa ngelupain mantanmu. Sini aku bantu move on.  

Mas, cakep deh. Lebih cakep lagi kalo cuman aku yang ada di hatimu.  

Mas, cakep deh. Lebih cakep lagi kalo tangannya gak melambai-lambai gimance gitu.

Mas, cakep deh. Lebih cakep lagi kalo ceweknya aku *ngarep* -

RT : Mas cakep deh. Apalagi kalo beli tiket reeva. Mwehehe

Mas, cakep deh. Lebih cakep lagi kalo gigit aku jadi vampir juga.  

Mas cakep deh. Apalagi kalo ceweknya gak lebai gitu protektifnya.-

Mas, cakep deh. Lebih cakep lagi kalo jadi imamku.  

♥ RT : Mas cakep deh. Apalagi kalo bisa ngobatin rinduku. Mwahahaha

TOP!! :D RT : mas. Cakep deh. Apalagi kalo masih single  

Mas, cakep deh. Lebih cakep lagi kalo poninya gak lempar-lemparan gitu. Mending lempar cinta ke aku.  

Mas, cakep deh. Lebih cakep lagi kalo gak p-l-a-y-b-o-y,b-o-y. ♬ ♬  

Mas, cakep deh. Lebih cakep lagi kalo gak ngegantungin hubungan kita!!  

Mas, cakep deh. Lebih cakep lagi kalo minta pin bbku. :p

Mas, cakep deh. Lebih cakep lagi kalo minta nomer hpku, daripada curi-curi pandang kayak gitu.  

Mas, cakep deh. Lebih cakep lagi kalo nembak aku.

Mas, cakep deh. Lebih cakep lagi kalo gak homo.  

Mas, cakep deh. Lebih cakep lagi kalo bayarin aku makan.  

Mas, cakep deh. Lebih cakep lagi kalo gak jelalatan matanya.

Mas, cakep deh. Lebih cakep lagi kalo pacarnya diputusin.  

Selasa, 01 November 2011

Hai.

Hai.
Sebuah satu kata yang singkat, namun begitu berat untuk kuucapkan saat kita berpapasan.
Hai.
Andai aku berani mengucapkan satu kata itu, mungkin selanjutnya kita akan bertukar cerita, tentang apapun itu, aku rela mendengarkanmu.
Hai.
Andai aku berani mengucapkan satu kata itu, tentu saja tak perlu lagi kubayangkan tiap malam sebelum tertidur, berbagai macam percakapan yang mungkin terjadi di antara kita.
Hai.
Andai kau berani mengucapkan itu lebih dulu, setidaknya.
Hai.
Hai.
Hai.
Aneh kah? Aku berlatih mengucapkannya.
Hai.
Hai.
Hai.
Hai.
Hai.
Aku mulai hafal. Apakah suaraku terdengar aneh?
Hai.
Hai.
Hai.
Hai.
Hai.
Hai.
Ah, sudahlah. Berapa kali pun aku berlatih, aku tak akan berani untuk mengucapkannya.

Running Man Gallery #1






Senin, 24 Oktober 2011

Andien - Sahabat Setia

Sahabat Setia
Andien


lama sudah bersama
memberi arti di hati
hari pasti berganti
namun kau tetap di sini

(*)
berbagi semua kisah
canda tawa serta ceria
air mata dalam duka
kita masih bersama
rajut mimpi mimpi indah
menghias dunia kita
berjanji di dalam cita
akan slalu bersama

kita bisa bernyanyi
sunyi di dalam rahasia
kita senantiasa
berjalan dengan senyuman

#
betapa bahagia diriku bersamamu
mutiara dunia dalam kasih dan harapan


Minggu, 23 Oktober 2011

Drive - Melepasmu

Melepasmu
Drive

Tak mungkin menyalahkan waktu
Tak mungkin menyalahkan keadaan
Kau datang di saat ku membutuhkanmu
Dari masalah hidupku bersamanya

(*)
Semakin ku menyayangimu semakin ku harus melepasmu dari hidupku
Tak ingin lukai hatimu lebih dari ini
Kita tak mungkin trus bersama

Suatu saat nanti kau kan dapatkan
Seorang yang akan dampingi hidupmu
Biarkan ini menjadi kenangan
Dua hati yang tak pernah menyatu

Back to (*)

Maafkan aku yang membiarkanmu masuk ke dalam hidupku ini
Maafkan aku yang harus melepasmu walau ku tak ingin

Semakin ku menyayangimu semakin ku harus melepasmu dari hidupku
Tak ingin lukai hatimu lebih dari ini
Kita tak mungkin trus bersama
Semakin terasa cintamu semakin ku harus melepasmu dari hidupku
Tak ingin lukai hatimu lebih dari ini
Kita tak mungkin trus bersama


Rabu, 05 Oktober 2011

Maliq - Terdiam

Mataku terus tertuju padamu
saat kuLihat dirimu tersenyum
ingin aku menyapa
namun..
ku terdiam
tak kuLakukan

Mungkinkah kaupun juga begitu
tau kau masih maLu untuk

sungguh ingin kusapa
namun
ku terdiam
tak kuLakukan

oo

Reff:
apakah kau rasakan getaranku
pada dirimu (oo)
ku hanya duduk terdiam
menunggu untuk tau namamu

oo
(ku menunggu tuk tau namamu… u..u..u..u)
oo
(namun ku terdiam tak kulakukan)

Reff 2x

bridge :
mataku terus tertuju padamu
ingin kusapa dirimu namun ku
masih maLu tuk hampiri dirimu
ku terdiam aku menunggu
aku terpaku




Minggu, 02 Oktober 2011

Sebuah Intermezzo

...

Senyuman yang terukir di wajah manismu, membuatku terbuai dan hampir melupakan sederet kalimat sepanjang kereta api jurusan jakarta-surabaya. Kucoba mengalihkan pandangan mataku ke arah lain, yang justru makin membuat dadaku sesak. Kulihat pasangan di seberang kita, saling menggenggam tangan satu sama lain, tertawa kecil yang sedikit menyeruak keheningan di cafe ini.

"Hey, kok malah ngelamun?"

Aku terkesiap saat kau melambaikan telapak tanganmu di hadapanku.

Hening.
Awkward, tidak seperti biasanya. Sepertinya kamu juga menangkap 'keganjilan' yang tengah menari-nari di antara kita berdua.

"Ada apa? Kok murung?"

Aku masih terdiam. Tak ada tanda-tanda bibirku akan membuka katupnya.

Kurasakan tanganmu menyelip di telapak tangan kananku. "Ada apa?", tanyamu lagi.

"Maafkan aku," hanya itu yang terucap dari bibirku. Kucoba menghindari kontak mata denganmu. Tak sadarkah kau kedua mata beningmu itu yang membuatku tak bisa tidur seminggu lebih beberapa bulan yang lalu?

Kamu terdiam. Aku terdiam, lagi. Tangan kita masih menyatu. Tak ada kata-kata lagi yang keluar dari kedua bibir kita, seakan katup beda manusia ini memiliki telepati yang kuat, untuk menutup rapat-rapat. Sepertinya kamu mulai menangkap apa yang sedang terjadi, apa yang sedang kupikirkan, apa yang sedang kurasakan, dan mungkin apa yang akan aku katakan.

"Aku tidak bisa meneruskan hubungan ini," ucapku.  Aku lantas tertawa kecil begitu menyadari sesuatu. "Hubungan? Aku bahkan tak yakin apakah ini dinamakan suatu hubungan,"

"Tentu saja ini hubungan, Vi. Aku menyayangimu. Kamu menyayangiku. Ini hubungan dua arah. Itu sudah cukup untuk menamakan ini suatu hubungan,"

"Aku menyayangimu. Kamu menyayangiku," aku memberikan sedikit jeda, kemudian melanjutkan, "Kamu menyayanginya,".

Kamu tak memberikan respon, namun dapat kurasakan genggamanmu makin kuat di tanganku.

"Beri aku sedikit waktu, aku akan meninggalkannya untukmu. Aku benar-benar menyayangimu," nada suaramu sedikit memohon kepadaku. Aku tak tahu apakah itu benar-benar ucapan yang sungguh, atau hanya sebuah latihan drama yang biasa kau lakukan sabtu sore.

"Seingatku aku tak pernah memberimu pilihan, untuk memilihku atau memilih dia, ... kekasihmu," kuberanikan untuk menatap kedua matamu yang menjadi hal favoritku selama enam bulan terakhir.

Aku menghela nafas. "Dari awal ini semua salahku, Ren. Aku yang masuk ke dalam kehidupanmu. Kukira aku tak akan pernah sakit hati lagi dengan menjalin 'hubungan' seperti ini. Tapi ternyata aku salah. Aku terlalu dalam masuk ke kehidupanmu, tanpa kusadari bahwa semakin dalam aku melangkah, semakin dalam pula lubang yang kugali di hatiku. Aku kira aku tak akan pernah merasakan sakit dengan menjalani 'hubungan' seperti ini, tapi lagi-lagi aku salah. Karena di sini, sakit Ren," kutepuk dada sebelah kiriku.

Kamu.. masih diam.

"Aku tak bisa menyakitiku lebih dalam lagi. Aku tak bisa membuatmu menyakitinya, kekasihmu, lebih dalam lagi. Kekasihmu yang memberikanmu kepercayaan untukmu. Apa tak pernah kau bayangkan bagaimana sakitnya dia jika tahu apa yang kita perbuat selama ini?"

"Vi, kamu sendiri yang pernah mengatakan padaku, untuk apa menjalani hubungan jarak jauh jika tidak ada kepercayaan?" tanyanya.

Aku mengangguk. "Iya, memang benar. Tapi apa tak pernah sedikitpun kamu merasa bahwa aku ini wanita jahat, yang mengatakan hal suci seperti itu, kemudian malah datang ke kehidupanmu dan menggodamu?" tanyaku balik, dengan setetes airmata mengalir di pipi kananku.

"Vi, aku sayang kamu," ucapmu lirih. Genggaman di tangan kananku tak kau lepas.

"Aku sayang padamu, Ren. Tapi ini tidak benar, ini tidak adil. Kau menyayangiku, tapi kau juga menyayanginya. Kau egois jika tetap mempertahankan 'hubungan' seperti ini,"

"Vi.....,"

Kutarik perlahan telapak tangan kananku dari genggamanmu. "Maafkan aku, Ren. Aku tak bisa untuk tetap ada di posisi ini. Aku tak akan membuatmu memilih antara aku atau dia, karena memang jelas di sini akulah pihak yang bersalah. Jangan putuskan kekasihmu dengan alasan karenaku. Jalani kembali kehidupanmu dengan dia. Jika memang kita berjodoh, suatu saat jalan kita akan menemukannya sendiri,"

"Bagaimana jika kita tidak berjodoh?"

Kupandangi wajahmu, bergantian dari bibir, hidung, pipi, rambut, telinga, alis hingga kedua mata itu. Kucoba mengingat bagaimana rupamu, untuk terakhir kalinya.

Aku tersenyum, seraya bangkit dan membungkukkan badanku hingga bibirku tepat di telinga kananmu. "Jika kita tidak berjodoh? Maka anggaplah aku hanya sebuah intermezzo di kehidupanmu," aku tersenyum. Kukecup pipimu, dan kulangkahkan kakiku keluar dari cafe ini. Meninggalkanmu. Meninggalkan kisah kita.

Sabtu, 06 Agustus 2011

Super Junior - Mr. Simple

Because you naughty, naughty, Hey!

Mr. Simple
Because you naughty, naughty, Suju

kanda!

Sesangi ne mang daero an dwindago

hwaman nemyeon andwae keu reol pilyo

opji
keokcheong-do paljada jakeun ire nomu

yeonyeonhaji marja mome chuji ana

Sojeoki chuwatdaga napatdaga keureon

keoji mwo cheung! seolchikhi uratdaga

teoreochyeotda keureon taedo itji

eocheomyeon kwaenchanha swiweo kaneun

keotdo chua modeun geoshi ttae, ttae,

ttae, ttae, ttae-ga itneun keonikka

Keuttaega namja-ramyeon chingul manna

sul han chane teoreobeorigo

(Alright!) Alright

Keuttaega namja-ramyeon chingul manna

suda tteoreo nallyeobeorigo

(Alright!) Alright, Alright

*Bwara Mr. Simple, Simple Keuttae-

neun Keuttae-neun Keuttae-ro

meotchyeo
Bwara Miss Simple, SImple, Keuttae-

neun Keuttae-ro yeppeo (SJ Call)
Bwara Mr. Simple, Simple Keuttae-neun

Keuttae-neun Keuttae-ro meotchyeo
Bwara Miss Simple, SImple, Keuttae-

neun Keuttae-ro yeppeo (SJ Call)

**Kaja kaja eoseo kaja Makhyeosseul

ttaen dorakaja kot kotchi apa

chukketdamyeon oneul haruman norgo

boja
Han keurae-do keochin sesang chukeora

ttwimyeon naman jicheo kidaryeobwa

akkidwi pak neowi nari kot ultenikka

Blow Your Mind kara Mr. Simple
Blow Your Mind ttae-ga watjanha

Duryeowo malgo
Blow Your Mind Kaja Mr. Simple
Blow Your Mind ttae-ga watjanha Junbi

dwaetjanha

Sok sseokneun iri an doo kaji anin

seseang-e urin sara keukeon ae-do ara
mwo ireohke eoryeopna uri chal meokgo

chal jago tto charamyeon kereohke

hamyeon dwiji

Keuttae-ga hwa-ga na-myeon chingul

mannna dwitdamhwaro peureobeorigo

(Alright!) Alright
Keuttae-ga kwireupda-nyeon norae

borreo sori jilleo nalryeobeorigo

(Alright!) Alright, Alright

*Repeat

Dance jaryuran-ke mwo keuri byeol geo

ittna Just Get It Get It
Sosohan iltaree jaemi deung deung

deung keung keung keung
Sara-ittneun keuttael neukki-go

shipna Just Grab It Grab It
kaseum ttwineun ne kkum-deuri aeki

deung deung deung keung keung keung
(Because You Naughty, Naughty)

Ije keokjeong hajima ap-en choo-eun

nari ulkeoya Shimgakan aekin da dwiro

mirwodugo
Oneur-eun barke useobwa keuddae-wi

hwanhan useum-e modu kibon choha-

chyeo

*Repeat

**Repeat

Blow Your Mind kara Mr. Simple
Blow Your Mind ttaega wattjanha

Duryeowo malgo
Blow Your Mind kaja Mr. Simple
Blow Your Mind kara Mr. Simple

Source of Korean lyrics: Sj-

market.com
Credit: Koreanindo

Kamis, 07 Juli 2011

Dreamhigh (Con't) | Serial TV Review

Aaaah, Dream High akhirnya kelaaaar! :)
Oke, ini review saya.
Serial drama satu ini bagus, apalagi banyak lagu-lagunya. Oh ya, soundtrack utamanya yang berjudul Dream High, sama dengan judul serialnya, enak banget didengerin di telinga! Apalagi intronya yang bikin hati deg-deg seeer dan bikin semangat. ^___^

Awalnya aku suka dengan Song Sam Dong, tapi lama kelamaan kok bosen ya liat wajahnya? Gimana ya? Too good to be true :p

Jadilah, aku beralih suka dengan Jason (Wooyoung 2PM) dan Pilsuk (IU). Pasangan satu ini lucu bangeet, jadi penyegar di antara konflik-konflik berat yang dialami pemeran lainnya.

Sebenarnya mungkin aku beralih suka ke pasangan Jason dan Pilsuk, karena dalam kehidupan sehari-hari aku sama seperti Pilsuk, cenderung lebih memendam perasaan dan berkata "aku cuman fans". Sangat membahagiakan melihat ending dari Jason dan Pilsuk. :)

Ini gambar Jason dan Pilsuk di Dream High ^^

source of pictures : weheartit.com

Sabtu, 02 Juli 2011

Jatuh Cinta

Saya ingin jatuh cinta.
Tapi saya tak ingin patah hati.
Jika kelak saya mencintai anda, namun pada akhirnya hanya akan membuat saya patah hati, maka maaf.
Saya tak ingin jatuh cinta pada anda, dan lebih memilih pergi.
Saya mencintai hati saya lebih dari apapun di dunia ini.
Saya egois?
Anda tidak suka?
Itu urusan anda, bukan saya.


source : www.weheartit.com

Jodoh dari Tuhan

Ku duduk manis di sebelah jendela kamar.
Kusibakkan sedikit tirai jendela, mengintip ke arah teras rumah. Ya, kebetulan kamarku berada di bagian depan, sehingga aku bisa leluasa mengintip siapa saja yang tengah bertamu ke rumah.

Lelaki-lelaki itu, datang silih berganti.
Mereka singgah, namun tak lama menghilang tak berjejak.
Mengapa mereka mengetuk pintu bila mereka berniat pergi?
Mengapa mereka memberi harapan bila mereka berniat mengecewakan?

Tak ada lagi senyum sumringah saat menyambut lelaki yang datang berkunjung.
Ada sedikit takut saat kubuka pintu itu untuk lelaki yang datang.
Tapi, bila tak kubuka pintu itu, aku tak akan pernah tahu seperti apakah dia, apakah hati kami memang ditakdirkan untuk saling melengkapi? Layaknya sebuah gembok dan kuncinya?

Lelaki-lelaki itu masih silih berganti berdatangan.
Dan aku masih duduk di sebelah jendela kamar ini.
Menanti, menanti lelaki yang tepat.
Kata Tuhan, lelaki itu jodohku.
source : weheartit.com / tumblr