Kamis, 30 Agustus 2012

Electric Blue Pattern Scarf

Hey, bloghearts.

Kamu pasti punya banyak cara untuk mengalihkan perhatianmu dari hal yang membuatmu pusing, bahkan sedih. Termasuk saya juga. So, Senin kemarin saya mencoba berbagai scarf dan berkreasi dengannya. Gak banyak yang mau saya katakan kok. Mungkin foto-foto saya dapat menjadi donor darah baru supaya blog saya tetap hidup. Syukur-syukur kalau bisa menginspirasi kalian. I wear Electric Blue Pattern Scarf from Galeri Najihah. You can sending a friend request on Facebook. :)

Jumat, 27 Juli 2012

Gengsi

"Dia sudah sms?"

"Belum."

"Kapan terakhir kamu smsan ama dia?" tanyaku.

"Kemarin," jawabnya seraya memanyunkan bibirnya.

"Kenapa tuh mulut manyun? Kangen ya?"

Witta, pemilik bibir manyun sekaligus sahabatku itu, mengacak-acak rambutnya.

"Iya, banget. Tapi kenapa dia gak sms duluan sih?"

"Sms duluan sana kek. Gengsi ya?"

Witta mengangguk.

"Iyalah. Lagian bukannya nanti keliatannya aku ngarep banget?"

"Bukannya emang iya?"

Witta cemberut.

"Tar, kamu sahabatku apa bukan sih? Daritadi aku dipojokin mulu," keluh Witta sambil melempar pandangannya ke seluruh sudut cafe.

"Bukannya mojokin, tapi emang bener kan apa yang aku katakan semuanya? Kenapa sih gak mau sms duluan? Selain gengsi?"

"Aku takut nantinya aku semakin suka dia, semakin ngarepin dia. Iya kalo dia ngarep ama aku juga, kalo enggak? Aku bakal sakit hati. Kamu tahu aku capek sakit hati, Tar. Aku gak mau sakit hati lagi. Aku ingin lelaki yang jadi pasanganku kelak jadi yang terakhir untukku," jelas Witta serius.

"Wit, kita semua takut sakit hati. Tapi darimana kamu tahu bahwa hubunganmu akan berhasil atau tidak jika kamu gak nyoba buat jalanin hubungan itu? Pada akhirnya, sakit hati adalah resiko yang harus kita ambil."

Witta terdiam memandangku setelah mendengar perkataanku.

"Kamu marah?"

Witta menggeleng.

"Enggak. Yang kamu omongin bener kok, Tar," jawab Witta seraya tersenyum.

Kulihat dia mengambil HP-nya kemudian jarinya bermain di atas keypad HP-nya.

"Sini, aku pinjam HP-mu," pintanya.

"Untuk apa?" tanyaku seraya menyerahkan HP-ku padanya.

"Sms Yoga. Please, mau sampai kapan kalian betah gak smsan 3 hari gara-gara gak ada yang memulai?"

Tanganku buru-buru merebut kembali HP-ku dari tangan Witta, namun sepertnya aku kalah cepat. Kulihat pada sudah ada sms yang terkirim ke nomor Yoga.

Ga, lagi apa? :)


Minggu, 17 Juni 2012

Sehangat Serabi Solo #6



"Kamu datang?"

Dia menggeleng.

"Masih belum tau," jawabnya.

"Masih cinta?"

"Mungkin," jawabnya sambil mengedikkan bahunya. "Aku tak tahu pasti," lanjutnya.

"Lalu?"

"Lalu apa?"

"Gak ingin mencari tahu secara pasti? Apakah masih cinta atau tidak? Setelah mengetahuinya secara pasti, kamu akan tahu langkah apa yang harus kamu ambil selanjutnya," kataku ulang, memperjelas.

"Bagaimana caranya?"

"Dengan datang bersamaku," jawabku.

Aku menggeleng.

"Nanti aku diusir," jawabnya santai, lalu menggigit kecil serabi solo pesanannya yang masih hangat.

"Kan kamu datang denganku, tidak akan diusir," kataku.

Dia diam saja, menghabiskan sisa serabinya dalam diam. Setelah serabinya habis, dia mengambil sebuah kertas tebal yang sedari tadi ada di tanganku.

Yoga Permana
&
Friskasya Endah

 Hotel Kusuma Sahid Prince, Solo

"Aku tahu maksudmu baik, Gik. Tapi tanpa perlu menghadiri pernikahan itu pun aku tahu secara pasti seperti apa perasaanku sebenarnya. Cintaku padanya sehangat serabi solo yang baru saja kumakan," jelasnya.

"Kamu masih mencintainya?"

Dia tersenyum, menoleh ke arahku, dan tersenyum penuh arti. Senyum yang selalu membuatku jatuh hati.

"Dulu. Cintaku seperti itu. Hangat. Menggoda. Namun kamu tahu apa yang terjadi jika terlalu lama kamu membiarkan sesuatu yang hangat? Hangat itu memudar, Gik. Tergantikan oleh dingin. Seperti hangat itu, cintai tu memudar," lanjutnya.

"Datanglah bersamaku, kalau begitu," ajakku. Lagi.

Dia menggeleng, menyandarkan bahunya padaku, dan menggenggam tanganku.

"Kamu mau aku diusir istrinya?"

Dia tertawa pelan dan kemudian kembali memasang mimik serius.

"Kamu tahu kita tak akan pernah bisa lebih dari ini, Gik. Dia kakakmu. Lagipula, aku tak ingin menyakiti atau disakiti lagi oleh seorang Permana. Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku," ucapnya.

Kontras dengan semua perkataannya, entah mengapa aku merasa dia tak setegar itu. Mungkin ini semua salahku, saat beberapa bulan yang lalu aku menyeretnya kembali ke kehidupan seorang Permana.


Sabtu, 16 Juni 2012

Sepanjang Jalan Braga #5


| 9 Juni 1995... |

Tangannya menggenggam erat tanganku.

"Aku ingin permen itu," pintaku seraya menunjuk ke seberang jalan dengan tanganku yang terbebas dari genggamannya.

"Tapi mama menyuruhku menjagamu di sini," katanya.

"Aku mau itu...," pintaku dengan nada memelas.

"Baiklah. Tapi kau tunggu di sini ya. Jangan kemana-mana."

Aku mengangguk. Kurapatkan tubuhku ke dinding toko makanan di belakangku. Kulihat dia sudah tiba di seberang jalan dan membawa dua permen gulali.

"Ini."

Aku menerima permen gulali itu dengan senyum lebar.

"Kau ini menyusahkan saja," ujarnya sambil ikut menikmati permen gulali miliknya.

"Terima kasih, Dito," kataku.


***

| 16 Juni 2012 |

"Finally! Jalan Braga! Kita bakal banyak dapat foto di sini!"

Aku tersenyum melihat reaksi sahabatku, Fira. My partner in crime, menyetujui ajakanku untuk kabur ke kota ini sebelum menghadapi ujian akhir minggu depan.

"Lu tau dari mana ada tempat seetnik ini? Internet?"

"Dulu aku pernah ke sini," jawabku.

"Oh ya? Lu pernah tinggal di Bandung?" tanyanya terkejut.

Aku mengangguk.

"Cuman sampe aku umur 5 tahun. Setelah itu, aku pindah ke Surabaya," jawabku.

"Aku hunting foto dulu ya mbaksist. Lu puas-puasin nostalgia deh," ujar Fira seraya berjalan pergi meninggalkanku sambil mengarahkan kameranya ke segala sudut bangunan tua di sini.

Mataku menangkap sosok bapak penjual permen gulali  beberapa meter di depanku Aku tersenyum. Aku berada di jalan yang tepat.

"Pak, permennya dua ya."

Sesosok laki-laki tiba-tiba muncul di hadapanku. Rambutnya dipotong cepak dan berwarna hitam. Kacamata dengan frame hitam menghiasi wajahnya.

"Ini, Mas Dito. Seperti biasa, ya?"

Laki-laki itu tersenyum dan menyebrang jalan setelah memberi uangnya kepada bapak penjual gulali. Tunggu, siapa namanya? Dito?

Mataku mengikuti kemana laki-laki itu pergi, ke sebuah kedai kopi tepat di seberangku. Deli's Coffee. 


Dia itu...


***




"Selamat datang di Deli's Coffee," sapa seorang pramusaji ketika aku masuk ke kedai kopi ini. Laki-laki itu tengah duduk seorang diri di sudut ruang. Tampak dua permen gulali yang dibelinya tadi diletakkan di atas sebuah piring kecil.

"Dito?"

Dia menoleh begitu mendengar sapaanku. Dahinya mengerut begitu melihatku.

"Siapa, ya?" tanyanya.

"Deli."

Aku tersenyum.

"Deli? Deli yang dulu itu? Sekecil ini?" tanyanya seraya mengira-ngira tinggiku saat itu dengan tangannya.

Aku mengangguk.

"Ya Tuhan! Kamu memang Deli yang itu. Senyummu masih sama ya?"

Dito bangkit dan memelukku erat. Sepertinya. Aku tak bisa membedakan siapa yang lebih rindu.

"Jadi, Deli's Coffee? Suatu kebetulan atau sengaja kamu menggunakan namaku?" tanyaku saat kami sudah duduk berhadapan.

"Aku sengaja melakukannya, agar kamu dapat menemukanku. See? Berhasil bukan?"

Aku mengangguk.

"Kamu cantik, Del. Lebih cantik dari terakhir kita bertemu dulu," katanya.

Aku tersipu.

"Jujur, aku sama sekali tidak ingat ama kamu. Yang kuingat hanyalah namamu, Dito. Dan kini melihatmu, aku mulai teringat Dito kecil yang dulu. Ya, aku mulai ingat semuanya."

Dito tersenyum kepadaku.

"Akhirnya kamu datang. Masih suka dengan permen gulali ini bukan?"

Dito memberikan satu permen gulali padaku.

"Tiap hari kau membeli permen ini? Dua biji?" tanyaku.

Dia mengangguk.

"Dan saat aku tak datang?"

"Aku memakannya semua," jawabnya sambil tertawa.

Aku ikut tertawa bersamanya. What a wonderful day! I finally found him!

***

"Del! Deli!"

Aku membuka mataku dan wajah Fira adalah gambar pertama yang berhasil kutangkap dengan jelas.

"Thank God! Kamu sakit, Del?" tanyanya.

Aku menggeleng dan melihat ke sekelilingku. Jalanan Braga. Masih di jalan ini. Aku duduk berselonjor dengan bersandar pada dinding sebuah toko.

"Kamu pingsan di sana."

Deli menunjuk ke arah sebuah bangunan usang. Aku masih bisa membaca tulisan di papan nama bangunan itu. Deli's Coffee.

Aku bangkit dan berlari menuju Deli's Coffee, tak menghiraukan tatapan orang-orang di sekitarku.

Dengan nafas tersengal-sengal akibat berlari, aku berusaha menerjemahkan semuanya. Deli's Coffee. Aku ada di depannya. Tapi tak sama seperti yang baru saja kualami barusan, bangunan ini berwarna kehitaman seperti bekas kebakaran.

"Deli! Kamu kenapa sih? Kata orang-orang, kamu tiba-tiba pingsan setelah menyebrang ke depan tempat ini," jelas Deli setelah berhasil menyusulku.

"Tadi aku gak pingsan, Del. Aku baru aja masuk ke dalam toko ini," kataku.

"Del, kamu pingsan. Dan gak mungkin kamu masuk ke toko ini. Toko ini kebakaran beberapa bulan yang lalu."

Aku menggeleng.

"Tadi aku ketemu Dito, Fir! Dito! Teman masa kecilku yang aku sendiri lupa wajahnya," jelasku.

"Toko ini kebakaran hebat beberapa bulan yang lalu dan pemiliknya ikut terbakar karena tidak sempat menyelamatkan diri."

Aku dan Deli menoleh ke pemilik suara. Bapak penjual gulali.

"Deli?" tanya bapak itu kepadaku.

Aku mengangguk.

"Dia selalu menunggumu sejak dulu di tempat ini. Dan memutuskan untuk mendirikan sebuah kedai kopi dengan namamu, berharap agar kamu menemukannya. Setiap hari dia membeli 2 gulali, untuk berjaga-jaga jika kamu menampakkan dirimu di sini."

Bapak itu memberi 2 gulali ke tanganku.

"Akhirnya kamu datang, Nak. Meski dia kini sudah berada di alam lain, bapak yakin dia masih tetap menunggumu. Bagaimana? Kamu sudah bertemu dia?"

Aku mengangguk perlahan. Bibirku bergetar mendengar semua perkataan bapak itu. Kulihat lagi kedua permen di tanganku. Masih sama seperti dulu.

Terima kasih, Dito. Terima kasih sudah menungguku.

***

| 9 Juni 1995|

"Dito, terima kasih ya sudah menjaga adik kecilnya."

Aku mengangguk.

"Ayo, Deli. Kita pulang. Jeng, kapan-kapan kita jalan lagi ya, sebelum aku ama suamiku pindah ke Surabaya," kata tante itu pada mamaku.

"Pasti, Jeng. Kabar-kabar aja kalo mau ketemu," timpal mama.

"Aku pulang dulu ya, Jeng. Dito, tante pulang duu ya. Ayo Deli, kita pulang."

Dan tante itu mengajak Deli pergi. Deli melambaikan tangannya ke arahku di pelukan perempuan itu. Aku membalas lambaiannya.

"Besok main lagi ya!" teriakku.

Dia mengangguk seraya tersenyum kepadaku. Senyum yang tidak akan pernah kulupakan.

-FIN-



Kamis, 14 Juni 2012

Blue Flower Shawl

I just bought blue flower shawl from @DressUpForLife. Totally love it! What do you think?


Jingga di Ujung Senja


Merah, tapi tak sepenuhnya merah. Kuning, tapi tak sepenuhnya kuning. Aku menyebutku Jingga, seperti jingga di ujung senja.

"Ini baru yang namanya surga, menikmati indahnya panorama sore bersama orang terkasih."

Aku menoleh, dan tersenyum.

"Dengan jagung rebus yang melumer manis di mulut ketika terkena gigit," lanjutku.

Yogi, namanya, tertawa.

"That's the reason why I love you. You complete me," ucapnya sambil terus melanjutkan menghabiskan sedikit demi sedikit jagung rebus di tangannya.

Aku merangkulkan tanganku ke lehernya dan berteriak, "Woooo!"

Keadaan di sekeliling kami seketika hening. Beberapa pejalan kaki menghentikan perjalannya, dan berhenti. Yang terdengar hanyalah deru mesin mobil-mobil yang lalu-lalang di belakang kami.

"Hahaha.." Yogi berusaha keras memperkecil volume tawanya. Begitu juga denganku.

"Gila," katanya.

"Thank you," timpalku.

"Kapan terakhir kita menikmati quality time berdua seperti ini?"

Aku terdiam.

"Aku lupa karena terlalu lama kita tidak seperti ini," jawabku.

Yogi mengangguk, setuju dengan jawabanku.

Aku memandangi wajahnya dari sudut mataku. Alisnya yang tebal. Sorot matanya yang tajam. Bibirnya yang tipis kala tersenyum. Masih sama seperti dulu.

"Why? Ada yang aneh?" tanyanya.

"Enggak. You're a handsome man," jawabku.

"Terima kasih. Bersyukurlah karena aku jatuh di orang yang tepat," katanya sambil merangkul bahuku.

Aku tersenyum. Getir.



***

|| Beberapa tahun silam . . . ||

"Yog, kenalin. Sahabatku dari Jakarta, Risa," ucapku sumringah memperkenalkan sahabat baruku pada Yogi, teman semasa kecil yang telah bertransformasi menjadi sahabat sejak dulu.

"Yogi."

"Risa."

Dan mereka berdua tersenyum satu sama lain. Aku pun tersenyum melihat kedua sahabatku ada di sisiku.

***

Kini baru aku tahu arti senyum mereka berdua kala itu.

"Len, dapat salam dari Risa. Dia minta maaf gak bisa ikut pulang ke Palembang. Kangen banget padahal," ucap Yogi setelah menutup teleponnya.

"I miss her too."

Aku tersenyum, dan menikmati sisa-sisa jingga yang tergerus hitamnya malam.

Yes, I'm a Jingga. Tanpaku, mereka tak akan bersatu. Jika tak ada Jingga, Merah dan Kuning tak akan pernah bersatu.




Rabu, 13 Juni 2012

Pagi Kuning Keemasan #2


Mataku fokus mencari sosok seorang gadis muda yang sangat kuhafal, tak sempat mengagumi pemandangan alam di sekitarku. Lautan luas dan kumpulan awan yang berjajar membentuk seolah siap menyambut sang mentari terlahir untuk kesekian kali. Semburat kuning keemasan mulai tampak. Aku menaikkan resleting jaketku. Masih membekas dingin semalam di pulau ini. Sinar mentari masih tak kuasa mengalahkannya.

Kupercepat langkahku menyusuri pantai, kembali fokus mencari gadis muda itu. Antara cemas dan kesal, aku tak juga menemukannya. Dia pasti termasuk rombongan yang tiba sebelum rombonganku. Siapa yang tak ingin menyaksikan sunrise selagi di Belitung? Apalagi gadis muda ini sangat menggilai sunrise. Selalu membuka jendela kamarku di pagi hari hanya untuk menikmati sunrise dari balik gedung-gedung tinggi ibu kota.

Mataku melebar kala aku menemukan sosok yang kucari.

"Monik!"

Dia menoleh dan seketika mulutnya menganga lebar melihatku.

"Kak! Ngapain di sini?"

Aku mendengus kesal saat dia melontarkan pertanyaan seperti itu.

"Otakmu jatuh tenggelam di lautan ya? Kamu gak tau gimana mama-papa cemas mikirin kamu yang ngilang tiba-tiba? Anak muda jaman sekarang kalo kemauannya gak diturutin, ngambeknya ekstrim ya? Kamu sama siapa ke sini? Sendirian? Nginep dimana?"

Monik tersenyum dan menggeleng.

"Sama teman-temanku, trus patungan nginep di hotel deket sini," jawabnya sambil menunjuk ke gerombolan anak muda yang lagi haha-hihi.

"Setelah sunrise, balik ke hotel, beresin bawaanmu, dan kita pulang ke Surabaya," kataku.

Monik tampak ingin membatah kata-kataku dan buru-buru kutambahkan, "Ini perintah dari mama-papa. Kalo kamu gak mau, siap-siap aja duit bulananmu dipotong."


Aku melangkahkan kakiku pergi ke sisi lain pantai, meninggalkan Monik yang masih kesal karena sikapku. Aku tak mengerti anak muda jaman sekarang. Mereka kira mereka sudah dewasa dan mandiri, tapi apa arti semua itu jika masih harus ada orang yang menjaga mereka? Bodoh ah. Seenggaknya urusan Monik kelar.

Aku tiba di sisi pantai yang sepi, tak banyak pengunjung yang mengambil spot di sini. Sang mentari perlahan namun pasti mulai memancarkan seluruh sinarnya ke bumi. Hangat. Mengingatkanku pada seseorang.

Mataku masih mengawasi Monik dari kejauhan, kala ada seorang perempuan yang berada di jalur penglihatanku. Perempuan yang sempat menjadi bagian hidupku beberapa tahun silam, hingga akhirnya berakhir karena kami tak kuasa menahan jarak yang membentang. Fina. Bukannya membuka mata, dia justru memejamkan matanya dengan senyum yang tersungging di wajahnya.

Aku suka sinar sunrise, Rik. Dia membasuh wajahku dengan lembut, kontras dengan air yang segar. Mereka seperti Yin & Yang. Berbeda, tapi melengkapi. Aneh, tapi aku suka.

Fina menoleh ke arahku, tersenyum. Tangannya melambai ke arahku, menyuruhku untuk menghampirinya.

“I miss you, sunrise,” kataku.

“I miss you too, sunshine. Every day,” bisiknya di telingaku. Kupejamkan mataku saat bibirnya mencium lembut pipiku dan saat kubuka mataku, dia menghilang tergantikan oleh udara kosong di hadapanku.

Teringat akan sesuatu, cepat-cepat kulihat jam di HP-ku. 13 Juni 2012. Hari jadi kami ke-7… jika dia masih hidup.


EPILOG

Aku tersenyum puas kala lelaki itu menemukanku. Kakakku yang tersayang. Aku tahu pasti dia bisa menemukanku dengan mudah di tempat ini. Pulau Lengkuas yang menjadi tempat favoritnya dengan Kak Fina.

Aku punya permintaan, Nik. Ajak kakakmu setiap tanggal 13 Juni ke Pulau Lengkuas, ya? Aku ingin dia tahu, bahwa aku akan selalu hidup di hatinya.


Itu pesan terakhir Kak Fina sebelum akhirnya dia menutup mata untuk selamanya. Tahun ketiga mulai terasa berat untuk mencari-cari alasan pergi ke tempat ini. Alhasil, aku harus pura-pura marah dan kabur ke tempat ini, karena aku tahu Kak Erik pasti akan menyusulku ke tempat ini. Aku menyukai sunrise sejak kepergian Kak Fina. Entahlah. Dia seperti meminjam tubuhku untuk membangunkan Kak Erik setiap pagi. Saat pagi tiba, aku bukanlah aku.

Senin, 11 Juni 2012

Menunggu Lampu Hijau #1


"Sorry telat."

"Namaku bukan telat. Indah."

Aku meringis mendengar jawabannya. Kuambil tempat di sampingnya.

"Iya. Sorry, Ndah. Gak bermaksud telat, tapi kendaraanku jalannya lambat," jelasku.

Indah memandangku heran.

"Emang lu naik apa?"

"Tuh," jawabku seraya menunjuk ke seberang kami berdua dengan daguku.

"Delman? Kemana emang motor lu?"

"Dipake adekku. Lagian aku rindu dengan semuanya yang ada di kota ini," jawabku seraya memejamkan mataku dan tersenyum.

"Najis. Kelamaan idup di Ibu Kota sih, budaya telat di diri lu makin merajalela. Gak malu ama Jam Gadang di depan lu ini? Setiap hari dia ngingetin kita buat on time."

Aku tertawa. Ini yang bikin kangen banget ama Indah. Omelannya sesuatu banget.

"Malah ketawa. Lu di sini sampe kapan?"

"Seminggu doang."

"Bentar banget."

Aku menangkap ada intonasi yang berbeda dari suaranya.

"Kenapa? Gak rela ya?" tanyaku sambil menempelkan telunjukku ke pipinya.

"Iya, aku gak rela."

Aku tertegun mendengar jawabannya, gak nyangka.

"Datang tiba-tiba, ilang juga tiba-tiba. Kasih kepastian gitu kek ke kita. Temenan, kagak. Pacaran, kagak."

Aku menghela nafas, kemudian menarik perlahan kepalanya untuk bersandar di bahuku.

"Belum saatnya, Ndah. Yang perlu kamu tahu adalah bahwa kamulah alasan tiap beberapa bulan sekali aku pulang ke Bukit Tinggi."

"Sampai kapan? Saat yang tepat itu kapan?"

Saat aku mendapat lampu hijau dari kekasihku, Ndah... untuk memutuskannya.


nb: click pictures to know the source of each picture. :3

Minggu, 10 Juni 2012

Revenge Season 1 | Serial TV Review

Saya baru saja selesai menonton episode terakhir Revenge Season 1 dan saya benar-benar speechless. Kalimat pertama yang terlintas di otak saya adalah "Penulisnya benar-benar hebat!"
Sejak awal menonton serial tv ini, saya sudah dibuat kagum bagaimana penulisnya membuat jalan cerita yang begitu menakjubkan! Dia tahu bagaimana harus menempatkan klimaks dan memberikan ending cerita yang sangat sangat sangat membuat penonton terpukau dan penasaran untuk menonton Revenge Season 2!

Para pemerannya pun benar-benar mahir berakting. Siapa sangka bahwa di dunia nyata, dua orang ini benar-benar menjalin cinta?


Dari 5 bintang, saya beri skor 5 penuh untuk serial ini! Worth watching tv series so far!

Jumat, 08 Juni 2012

Wonder-shawl-ful

Here some pictures of mine with my best friend, Urwatuz Zahara. It was a crazy night because it's her first time wore shawl like that. We went to theater to watched MIB 3. This movie has a unexpected anti-klimaks. Super duper love it! <3





Brown Cerruti Scarf

So, two days ago I tried to wear my scarf in 2 model of hijab. I love it so much.

- scarf bought from Labbaika HC -

What do you think?

Salah Satu Tips Move On

"Saat dirimu mencoba untuk move on, ajak sahabat-sahabatmu untuk melakukannya juga."

Seringkali sebagian besar dari kita, termasuk saya, lupa akan pihak-pihak lain yang terlibat dalam suatu hubungan percintaan. Keluargamu. Keluarganya. Sahabatmu.
Saya punya alasan kuat yang mendasari statement saya di atas.
Kemana dan pada siapa anda mengadu saat hubungan percintaan anda sedang mengalami masalah? Sahabat.
Kemana dan pada siapa anda menceritakan kencan pertama anda? Sahabat.
Kemana dan pada sapa anda saat sedang menyukai seseorang? Sahabat.
Jadi, saat anda ingin move on entah dari siapapun itu, yang sahabat anda ketahui, maka ajaklah sahabat-sahabat anda untuk ikut move on.
Tidak percaya? Saya beri contoh.
Anda : "Aku benar-benar harus move on. Ya, aku pasti bisa!"
 *Saat bertemu sahabat anda*
Teman : "Eh, si A lewat tuh. Ciye...."
 Anda : ". . . Sial, barusan aja move on"
*Beberapa waktu kemudian saat anda mulai move on*
Teman : "Eh, tau gak sih? Tadi aku ketemu si A di kantin lagi makan sama si B."
Anda : "Trus...?"
Teman : "Gak pengen nyusul dia ke kantin? Lumayan kan bisa ngecengin. Ciye....."
Anda : ". . ."
See? Pernah mengalami saat-saat seperti itu bukan? Jadi, saat anda memutuskan untuk move on dari orang terkasih, ajak serta sahabat-sahabat anda.

source : weheartit.com

Selasa, 05 Juni 2012

Yang Terbuang

Lama aku menantikan saat ini datang.
Saat dimana rasaku padamu hilang.
Mungkin benar dirimu bimbang.
Aku atau dirinya yang kamu sayang.
Tanpa perlu kamu mengucap kata, aku tahu bahwa dirikulah yang kau buang.

sumber: weheartit.com

Minggu, 29 Januari 2012

Aqoowh Bukan Alay | Book Review



Sebuah buku skenario berjudul 'Aqoowh Bukan 4alay' dari Mas Christian Pramudia / @christpramudia.

Ini untuk pertama kalinya, saya membaca sebuah buku dengan konsep skenario seperti ini. Saya mendapat pengetahuan baru tentang bagaimana menulis sebuah skenario. Dulu, saya kira nulis skenario itu sama seperti nulis tugas drama jaman SMP dan SMA gitu, ternyata saya salah besar. Mas Uchis memberikan kosakata baru tentang dunia per-skenario-an seperti Close Up, Cut Back To, Long Shot, Off Screen dan masih ada lagi yang lain.

Kisah di dalam buku ini menarik, apalagi dengan tokoh-tokohnya yang memiliki karakter unik. Latar belakang? Tentulah Negara Alay. Jika anda tidak lulus tes ke-alay-an, anda akan cukup dipusingkan dengan tulisan-tulisan alay di buku ini. Lain dengan saya yang pernah mengalami fase ke-alay-an beberapa tahun silam, saya kalem aja baca buku ini.

Menurut saya, ending-nya sedikit kurang greget dan sedikit disayangkan karena yang ditonjolkan hanya satu tokoh di dalam buku ini. Menurut saya, tokoh-tokoh yang lain juga tak kalah seru cerita hidupnya. Tapi selebihnya, buku ini cukup menghibur saya. Buku ini termasuk bacaan yang ringan. Boleh lah dijadikan selingan kegiatan kampus atau kantor yang padat.

I give 4 from 5 stars for this book!

ps: cukup klik gambar di atas untuk memesan buku ini via nulisbuku.com dan akun twitter Mas Uchis jika ingin sharing dengannya.

Tentang #15HariNgeblogFF

Tiga hari berlalu sudah sejak berakhirnya #15HariNgeblogFF. Terimakasih buat @WangiMS & @momo_DM yang mencetuskan ide cemerlang ini. Berkat mereka berdua, blog saya tidak lagi mati suri. Ibaratnya seperti Putri Tidur yang sudah menemukan Pangerannya, terbangun dari tidur panjangnya.

Kadang emang, saya masih agak bingung mau menulis apa di blog. Mau nulis curhatanku kok kayaknya gak penting buat orang lain. Sapa elo?, mungkin yang ada di benak mereka. Mau nulis biografi, juga gak ada prestasi yang dapat dibanggakan dari saya. Ada sih, menang lomba 17-an masukin jarum ke botol. Diitung gak?

Ah, malah ngelantur. Saya super duper senang pokoknya dengan adanya #15HariNgeblogFF, dan kayaknya penulis-penulis lain juga masih nerusin FF sampe hari ini, ya? Beberapa hari ini saya (sok) sibuk jadi gak buka twitter, sedikit ketinggalan berita.
Alhamdulillah, dari 16 judul, saya sudah ikutan 15 judul. Yang satu kemana? Kayaknya ikutan kabur ama model cilik yang kemarin heboh itu. Enggak ding, ada perihal yang harus saya selesaikan sewaktu itu, jadi gak bisa ikutan 1 judul FF.

Berkat #15HariNgeblogFF juga saya jadi kenal banyak penulis baru, yang wow, mereka tuh hebat banget nulisnya. Keren! Dan suatu saat saya yakin mereka bakal bisa nerbitin buku lewat penerbit terkenal di Indonesia dan saya bakal bilang ke anak-cucu saya, "Tahu orang ini? Yang nulis buku ini? Mama kenal ama orang ini." Berlebihan lagi? Biarin lah. Hehe.

Semoga dengan adanya event seperti ini kemarin, saya jadi lebih rajin nge-blog dan mengasah kemampuan menulis saya. Nambah temen, syukur-syukur ketemu jodoh di sini. *ngakak*. Who knows kan?

Sekali lagi, terimakasih buat @WangiMS & @momo_DM, dan temen-temen lain yang udah mampir ke blog saya. Salam hangat untuk keluarga ter-Dahsyat di seluruh Indonesia. *salah fokus, ternyata ngetik sambil nonton RCTI* =))

Kamis, 26 Januari 2012

Menikahlah Denganku #15

Baca cerita sebelumnya di sini.

"Menikahlah denganku, Indira," ucap lelaki di hadapanku saat kami berdua diam-diam mencuri waktu untuk bertemu di lunch time. Dia mengeluarkan kotak kecil berhiaskan pita putih di sekelilingnya. Dibukanya, dan tampaklah cincin bertahtakan berlian putih. Entah berapa karat, namun yang pasti cukup untuk seorang pencuri kelas atas membobol rekening lelaki ini.

Sontak aktivitas makanku terhenti, dan menatap kedua bola matanya yang bulat. Kutemukan kesungguhan di dalamnya, dan ya, aku ikut tenggelam bersamanya. Momen inilah yang kutunggu-tunggu sejak hubungan ini berjalan hampir dua tahun. Sulit untuk Dillan, nama lelaki itu, untuk membuka pintu hati dan kehidupannya untukku. Dia tak sendiri, dia telah memiliki malaikat kecil bernama Ava. Aku tersenyum kecil saat nama malaikat kecil, mungil dan cantik itu melintas di pikiranku. Aku sangat menyayanginya, hingga rela melakukan aksi gila beberapa bulan yang lalu itu. Dan ya, aku juga sangat menyayangi ayahnya. Aku sayang mereka.

"Indira?"

Lamunanku buyar saat mendengar suara seksi Dillan. Serius, suaranya sangat seksi.

Aku mengangguk, dan tersenyum padanya. "Tentu saja aku mau menghabiskan sisa hidupku bersamamu, Dillan."

***

Segala persiapan pernikahanku dengan Dillan sudah hampir mencapai 80% in progress. Aku sangat bersemangat mendesain kartu undangan, menghabiskan waktu berdua bersama Dillan di sofa hangatku dengan menge-list tamu-tamu undangan, memilih gaun pengantin bersama sahabatku, hingga mengajak Ava memilih catering untuk resepsi pernikahan nanti.

Tak ada hari libur, pernikahan semakin dekat, dan sedikit saja waktu luang kumiliki, segera kugunakan untuk mempersiapkan apa-apa yang kurang untuk pernikahanku dengan Dillan. Seperti hari ini, aku membereskan seluruh isi rumahku, dalam rangka menyambut keluarga besar Dillan besok. Aku tak mau tampak seperti dari rumah yang berantakan di depan Dillan dan keluarganya.

Berantakan.

Tubuhku mematung, aktivitas mengelap perabot rumah tanggaku terhenti. Ya, aku memang berasal dari rumah tangga yang berantakan. Pernikahan ayah dan ibu yang gagal, kakak yang tak kunjung menikah di usianya yang semakin bertambah tua, dan aku yang dalam beberapa minggu lagi akan menyandang status sebagai istri Dillan dan mama tiri Ava. Cukup baikkah aku menjadi istrinya? Cukup baikkah aku menjadi mama tiri Ava?

Mendadak... aku takut akan pernikahan ini.

***

"Kamu melakukan itu lagi."

"Apa?" tanyaku tak mengerti.

"Melamun," jawabnya, tetap tak melepas tatapannya dariku.

"Aku hanya takut. Kamu tahu keluargaku seperti apa," ucapku, seraya menundukkan wajahku.

Dillan menggenggam tanganku. "Jangan takut. Hey, kamu tipe istri, ibu, dan menantu idaman. Kamu tak tahu di luar sana banyak orang-orang yang rela membunuhku untuk mendapatkanmu?"

Aku tersenyum mendengarnya.

"Percayalah pada dirimu, Indira. Aku percaya kamu. Ava percaya kamu," ucapnya seraya melihat Ava yang tertidur pulas di pelukannya.

"Ya, terimakasih sayang. Biar aku yang menggendong Ava ke kamarnya." Kupeluk Ava, dan kugendong kembali ke dalam kamarnya.

"Goodnight, Ava. Sweet dream," bisikku. Kucium lembut keningnya.

"Goodnight, Mommy," balasnya seraya menatapku polos, kemudian memejamkan matanya.

Aku tak tahu harus berkata apa. Aku hanya... bahagia.

pictures source: weheartit.com

The Duet Project: Kakak-Adik | Book Review

The Duet Project: Kakak-Adik, merupakan kumpulan cerpen karya Lakuning Banyu & Septianessty Sutjipto. Buku ini cukup unik, karena memiliki dua sudut pandang yang berbeda, kakak dan adik. Well, sebagai seorang anak bungsu dari tiga bersaudara, saya sangat mengerti bagaimana perasaan adik-adik di cerita-cerita ini.
  • Bagaimana rasanya ketika kakak kita tiba-tiba saja dengan seenaknya sendiri melakukan sesuatu, tanpa persetujuan kita.
  • Bagaimana rasanya ketika hubungan yang terasa 'asing' dengan kakak sendiri.
  • Dan saat peristiwa-peristiwa yang dialami kakak secara tidak langsung terdoktrin ke cara berpikir kita.
Tiga poin di atas adalah salah satu perasaan yang saya dapat dari membaca buku ini. Hampir di semua cerita, tercetus kalimat, "Oh, iya. Aku pernah ngerasain kayak gini" dalam benak saya.
Saya suka semua cerita di dalam buku ini. "My Sister: A Stranger?" merupakan favorit saya, karena saya sendiri pernah mengalami hal seperti ini dengan kakak laki-laki saya. :)
Kekurangan yang saya tangkap hanyalah: ada sedikit typo di beberapa kata di dalamnya. Selebihnya, buku ini bagus. Cocok untuk kamu yang gak mau mikir berat-berat kalo baca buku. Penyampaiannya santai, namun pesan yang disampaikan tetap mengena di hati. Saya beri 4 dari 5 bintang untuk buku ini. Sukses untuk Mbak Nesty & Mbak Bee. Ditunggu duet project selanjutnya!
Ps: Jika ingin mengorder buku ini, cukup klik gambar di atas. Dan jika ingin berkunjung ke blog kedua penulisnya, cukup klik nama dari masing-masing penulis.

Sah! #15

Keringat dingin mulai menyelimuti sekujur tubuhku. Berkali-kali kuusap kedua telapak tangan dan wajahku dengan handuk kecil yang kubawa. Gila, apakah aku benar-benar akan melakukan hal ini? Demi apa? Demi Moore? Kugelengkan kepalaku. Bukan waktunya untuk berpikiran bodoh. Bagaimanapun juga aku harus melakukan ini.

Mataku menjelajahi lantai dasar di Mall ini, bak seekor Elang yang tengah mengamati keadaan sekitar untuk memburu mangsanya. Sayangnya, sepertinya mangsa di kalimat barusan akan diperankan oleh diriku sendiri. Ya, aku akan menjadi mangsa yang empuk oleh mata-mata milik lautan manusia di sini, dan tawa-tawa mereka yang nantinya akan membahana bak parade ulang tahun ibu kota.

Oke, ini saatnya. Tak baik menunda pekerjaan terlalu lama. Aku akan menanggung apapun resikonya. Demi dia.
Roly Poly Roly Roly Poly
nan mireo naedo nan
dashi negero daga ga seo
Roly Poly Roly Roly Poly
naman bo il kkeoya
neo ege nareul boyeo jul kkeoya
Tubuhku bergerak membentuk deretan gerakan tari, mengikuti irama lagu yang keluar dari sound di sudut-sudut Mall ini. Senyumku mengembang, melupakan segala rasa malu yang sebelumnya membelenggu jiwaku. Demi dia. Ya, hanya demi dia.

***

"Bagaimana? Suka?" tanyaku pada gadis kecil berseragamkan putih-merah bercorak kotak-kotak yang duduk di pangkuanku.

Dia mengangguk kegirangan.

Aku tengah menunjukkan hasil video rekamanku menari di tengah lantai dasar sebuah Mall beberapa hari yang lalu. Aku tampak seperti perempuan yang kerasukan arwah penyanyi Korea. Bukan karena iseng aku melakukan hal gila seperti itu, tapi aku harus memenuhi permintaan gadis kecil ini. Gadis cantik yang menarik perhatianku sejak pertama ku berjumpa dengannya. Dia suka menonton video-video girlband/boyband asal Korea. Dan dengan polosnya memintaku hal gila itu, seolah hanya memintaku untuk membelikannya permen. Please, aku rela membelikan 1000 permen untuknya daripada menari seperti itu. Tapi, ya sudahlah. Toh aku sudah memenuhi permintaannya.

"Jadi? Sah dong? Boleh kakak minta itu sekarang?" tanyaku, lagi.

Aku mencondongkan tubuhku ke depan, dan *cups* dia mencium pipiku. Setelah itu, dia turun dari pangkuanku dan kembali ke dalam kelasnya karena jam istirahat telah usai.

Aku tersenyum bahagia. Akhirnya aku bisa menaklukkan gadis kecil itu. Anak dari calon suamiku.


 pictures source: weheartit.com

Rabu, 25 Januari 2012

Sebuah 'Tepukan Pelan' Untukku

Malam ini tadi, aku ikut menemani ayah dan ibuku menjenguk salah seorang anak dari almarhum teman ayah. Anak itu yatim piatu, dan kini diasuh tante dari keluarga ibunya. Tante ini sudah menganggap anak ini seperti anaknya sendiri.

Almarhum ayahnya meninggal duluan, kemudian disusul ibunya. Keduanya meninggal karena komplikasi penyakit, yang aku sendiri kurang tahu apa. Kita sebut saja nama anak ini Alfa. Mbak Alfa ini masih kuliah semester 7 di sebuah universitas negeri di Jawa Timur. Ayah bercerita padaku, bagaimana kehidupan Mbak Alfa ini seusai kepergian ayah dan ibunya. Mbak Alfa ini anak tunggal, dan mirisnya, keluarga ayahnya seolah-olah tak peduli dengannya. Sebagai anak tunggal, otomatis segala harta gono-gini milik ayah dan ibunya, menjadi miliknya secara hukum. Dan entah, sepertinya keluarga ayahnya tak peduli karena iri atau semacamnya. Sudah jarang sanak saudara yang mengunjunginya, ada pula kerabat dari ayahnya, yang notabene memiliki pekerjaan terpandang, malah meminta kiriman uang dari Mbak Alfa ini. Uang pensiun almarhum orangtua Mbak Alfa masuk ke Mbak Alfa sendiri.

Thank God, Mbak Alfa memiliki tantenya yang baik ini. Beliau menganggap Mbak Alfa sudah seperti anaknya sendiri.

Alhamdulillah, aku masih bisa merasakan kasih sayang dari ayah dan ibuku. Kejadian ini seperti tepukan pelan terhadap pintu hatiku, yang mungkin masih kaku terhadap ayah dan ibuku. Tahu kan, perbedaan-perbedaan pendapat yang kerap terjadi di antara kami sekeluarga. Itu tidak ada harganya bila dibandingkan dengan kehidupan Mbak Alfa saat ini. Aku gak bisa bayangin gimana perasaannya.

Anyway, Mbak Alfa ini baru saja menjalani operasi. Ada sesuatu yang mengganjal di sekitar lehernya. Katanya sih kalo buat nelan susah dan sulit untuk tidur di malam hari. Alhamdulillah operasi berjalan lancar. Get well very soon, Mbak Alfa. Meskipun baru pertama kali bertemu, terima kasih sudah memberi saya inspirasi tentang hidup dan lebih banyak bersyukur. Semoga bisa berjumpa di lain waktu, dengan keadaan yang lebih baik tentunya. :)

Ini Bukan Judul Terakhir #14


"Ada satu lagu yang cocok untukmu," ucapmu seraya menempatkan jari-jarimu di senar gitar yang ada di pangkuanmu.
I'm lucky I'm in love with my best friend
Lucky to have been where I have been
Lucky to be coming home again
Ooohh ooooh oooh oooh ooh ooh ooh ooh
Aku tersenyum saat dia selesai meng-cover lagu milik Jason Mraz itu.

"Apakah menurutmu kedua keluarga kita akan terkejut bahwa kita berdua berpacaran? Sahabat sejak kecil, rumah bersebelahan. Menurutmu?" tanyanya.

Aku mengedikkan bahuku. "Entahlah. Tapi kita rahasiakan saja dulu, kita beri mereka surprise."

Kamu menggenggam tanganku, kemudian beralih lagi ke gitarmu, memainkan beberapa lagu yang membuatku seakan percaya, telah muncul dua sayap di punggungku. Terbang ke angkasa, terbuai karena nyanyianmu.

***

Jemariku masih membolak-balik sebuah undangan pernikahan berbalut pita merah yang baru datang beberapa saat yang lalu. Kubaca ulang siapa, kapan, dan dimana acara pernikahan itu diselenggarakan. Mataku berhenti di bagian 'siapa'. Nama itu... namamu.

"Gak kerasa ya, si Wira itu sudah mau menikah. Perasaan baru kemarin, ibu lihat kalian main bersama di ayunan depan rumah itu," ucap Ibuku, sambil menyelesaikan masakannya di dapur belakangku.

Aku diam, bibirku tak mampu mengucapkan patah kata apapun.

"Wira itu dijodohkan, Nduk. Katanya sih sama anak rekan bisnis ayahnya. Duh, kalo ngomong bisnis tuh nakutin. Semua cara dilakukan biar bisnis tetap berjalan, termasuk menjodohkan anaknya sendiri. Wira gak pernah cerita apa-apa ama kamu, Nduk?" tanya Ibuku, tak berniat menghentikan topik ini.

Aku menggeleng. "Dia nggak pernah cerita apa-apa, Bu."

"Ibu kira dia bakal cerita ke kamu,  Nduk. Mungkin memang benar-benar mendadak ya keputusan mereka," ucap Ibu.

Aku diam, tak menanggapi ucapan Ibu. Ah, mungkin lebih baik aku pergi dari dapur.

"Oh, ya. Kamu diminta bawain lagu di acara pernikahannya Wira besok. Siapin ya, Nduk. Yang mesra gitu, kan kalian biasa nyanyi bareng."

Haruskah aku datang?

***

"Ya, lagu selanjutnya akan dibawakan oleh Neva, sahabat Wira sejak kecil."

"Lagu ini kupersembahkan untuk sahabatku, Wira, dan untuk istrinya," ucapku seraya melemparkan pandanganku ke arah mereka berdua. Ke Wira lebih tepatnya. Dia tampak gagah dengan pakaiannya. Dan istrinya, tampak mempesona. Seharusnya aku yang ada di sana, bukan perempuan itu.

Aku menggeleng, menghilangkan pikiranku. Terimalah, Neva. Wira bukan untukmu. Jari-jariku bermain lincah dengan pianoku, yang biasanya kugunakan untuk mengiringi permainan gitarmu.

Gemuruh tepuk tangan membahana lagi seiring dengan selesainya lagu yang kumainkan. Belum, ini bukan judul terakhir. Masih ada yang ingin kunyanyikan.

Dengan cepat, jari-jariku mulai memainkan lagu ke-2, yang seharusnya tidak ada di list acara ini. Tega.
Aku tahu dirimu kini telah ada yang memiliki
Tapi bagaimanakah dengan diriku
Tak mungkin ku sanggup untuk kehilangan dirimu
Aku tahu bukan saatnya tuk mengharap cintamu lagi
Tapi bagaimanakah dengan hatiku
Tak mungkin ku sanggup hidup begini tanpa cinta darimu