Minggu, 02 Oktober 2011

Sebuah Intermezzo

...

Senyuman yang terukir di wajah manismu, membuatku terbuai dan hampir melupakan sederet kalimat sepanjang kereta api jurusan jakarta-surabaya. Kucoba mengalihkan pandangan mataku ke arah lain, yang justru makin membuat dadaku sesak. Kulihat pasangan di seberang kita, saling menggenggam tangan satu sama lain, tertawa kecil yang sedikit menyeruak keheningan di cafe ini.

"Hey, kok malah ngelamun?"

Aku terkesiap saat kau melambaikan telapak tanganmu di hadapanku.

Hening.
Awkward, tidak seperti biasanya. Sepertinya kamu juga menangkap 'keganjilan' yang tengah menari-nari di antara kita berdua.

"Ada apa? Kok murung?"

Aku masih terdiam. Tak ada tanda-tanda bibirku akan membuka katupnya.

Kurasakan tanganmu menyelip di telapak tangan kananku. "Ada apa?", tanyamu lagi.

"Maafkan aku," hanya itu yang terucap dari bibirku. Kucoba menghindari kontak mata denganmu. Tak sadarkah kau kedua mata beningmu itu yang membuatku tak bisa tidur seminggu lebih beberapa bulan yang lalu?

Kamu terdiam. Aku terdiam, lagi. Tangan kita masih menyatu. Tak ada kata-kata lagi yang keluar dari kedua bibir kita, seakan katup beda manusia ini memiliki telepati yang kuat, untuk menutup rapat-rapat. Sepertinya kamu mulai menangkap apa yang sedang terjadi, apa yang sedang kupikirkan, apa yang sedang kurasakan, dan mungkin apa yang akan aku katakan.

"Aku tidak bisa meneruskan hubungan ini," ucapku.  Aku lantas tertawa kecil begitu menyadari sesuatu. "Hubungan? Aku bahkan tak yakin apakah ini dinamakan suatu hubungan,"

"Tentu saja ini hubungan, Vi. Aku menyayangimu. Kamu menyayangiku. Ini hubungan dua arah. Itu sudah cukup untuk menamakan ini suatu hubungan,"

"Aku menyayangimu. Kamu menyayangiku," aku memberikan sedikit jeda, kemudian melanjutkan, "Kamu menyayanginya,".

Kamu tak memberikan respon, namun dapat kurasakan genggamanmu makin kuat di tanganku.

"Beri aku sedikit waktu, aku akan meninggalkannya untukmu. Aku benar-benar menyayangimu," nada suaramu sedikit memohon kepadaku. Aku tak tahu apakah itu benar-benar ucapan yang sungguh, atau hanya sebuah latihan drama yang biasa kau lakukan sabtu sore.

"Seingatku aku tak pernah memberimu pilihan, untuk memilihku atau memilih dia, ... kekasihmu," kuberanikan untuk menatap kedua matamu yang menjadi hal favoritku selama enam bulan terakhir.

Aku menghela nafas. "Dari awal ini semua salahku, Ren. Aku yang masuk ke dalam kehidupanmu. Kukira aku tak akan pernah sakit hati lagi dengan menjalin 'hubungan' seperti ini. Tapi ternyata aku salah. Aku terlalu dalam masuk ke kehidupanmu, tanpa kusadari bahwa semakin dalam aku melangkah, semakin dalam pula lubang yang kugali di hatiku. Aku kira aku tak akan pernah merasakan sakit dengan menjalani 'hubungan' seperti ini, tapi lagi-lagi aku salah. Karena di sini, sakit Ren," kutepuk dada sebelah kiriku.

Kamu.. masih diam.

"Aku tak bisa menyakitiku lebih dalam lagi. Aku tak bisa membuatmu menyakitinya, kekasihmu, lebih dalam lagi. Kekasihmu yang memberikanmu kepercayaan untukmu. Apa tak pernah kau bayangkan bagaimana sakitnya dia jika tahu apa yang kita perbuat selama ini?"

"Vi, kamu sendiri yang pernah mengatakan padaku, untuk apa menjalani hubungan jarak jauh jika tidak ada kepercayaan?" tanyanya.

Aku mengangguk. "Iya, memang benar. Tapi apa tak pernah sedikitpun kamu merasa bahwa aku ini wanita jahat, yang mengatakan hal suci seperti itu, kemudian malah datang ke kehidupanmu dan menggodamu?" tanyaku balik, dengan setetes airmata mengalir di pipi kananku.

"Vi, aku sayang kamu," ucapmu lirih. Genggaman di tangan kananku tak kau lepas.

"Aku sayang padamu, Ren. Tapi ini tidak benar, ini tidak adil. Kau menyayangiku, tapi kau juga menyayanginya. Kau egois jika tetap mempertahankan 'hubungan' seperti ini,"

"Vi.....,"

Kutarik perlahan telapak tangan kananku dari genggamanmu. "Maafkan aku, Ren. Aku tak bisa untuk tetap ada di posisi ini. Aku tak akan membuatmu memilih antara aku atau dia, karena memang jelas di sini akulah pihak yang bersalah. Jangan putuskan kekasihmu dengan alasan karenaku. Jalani kembali kehidupanmu dengan dia. Jika memang kita berjodoh, suatu saat jalan kita akan menemukannya sendiri,"

"Bagaimana jika kita tidak berjodoh?"

Kupandangi wajahmu, bergantian dari bibir, hidung, pipi, rambut, telinga, alis hingga kedua mata itu. Kucoba mengingat bagaimana rupamu, untuk terakhir kalinya.

Aku tersenyum, seraya bangkit dan membungkukkan badanku hingga bibirku tepat di telinga kananmu. "Jika kita tidak berjodoh? Maka anggaplah aku hanya sebuah intermezzo di kehidupanmu," aku tersenyum. Kukecup pipimu, dan kulangkahkan kakiku keluar dari cafe ini. Meninggalkanmu. Meninggalkan kisah kita.

0 komentar:

Poskan Komentar