Kamis, 24 Januari 2013

Dia

Tepat setelah aku memutuskan untuk menutup pintu hatiku, dia datang.
Mataku tak sedikitpun berpaling dari dirinya.
Pesonanya terlalu kuat untuk kuingkari.
Dia pun akhirnya berjalan, menujuku.
Tersenyum kepada banyak orang di sekitarku.
Aku menunggu senyumnya untukku, tapi dia berlalu begitu saja, hingga yang dapat mengobati kekecewaanku hanyalah punggungnya, yang lambat laun menghilang di belokan jalan ini.

Kemudian kami bertemu lagi.
Di satu waktu yang telah Tuhan persiapkan.
Kini kami duduk berhadapan, saling bertukar cerita, saling bertukar tawa dan canda.
Dua gelas esteh dan dua piring nasi goreng menjadi saksi perbincangan pertama kami.

Saat dia bertanya, "Kita pernah satu ruang saat seminar beberapa bulan lalu, bukan? Kau ingat?"
Aku menggeleng dan tersenyum.
Kemudian dia berkata, "Wah, sulit ternyata untuk menarik perhatianmu."
Aku kembali tersenyum.

Sebuah pesan singkat masih tersimpan di history bbmku.

"Hai. Aku Tony. Salam kenal."

Aku hampir pingsan saat membaca pesan itu.

0 komentar:

Poskan Komentar