Rabu, 02 Maret 2011

Halo, Fina #CurhatCintaColongan

Kemarin aku baru saja mengirim naskah cerpen #curhatcintacolongan (dapat kamu lihat di sini) dan akan dibukukan melalui nulisbuku. Di bawah ini adalah hasil naskah cerpen milikku. Selamat membaca :)


Jarum panjang jam dinding di kamarku menunjuk ke angka 4. Seperti biasa, aku segera menuju ke telepon di sebelah tempat tidurku dan kemudian menekan sederet nomor yang sudah kuhafal tanpa perlu lagi melihat ulang dan mengecek apa nomor yang kutekan benar atau tidak.
"Halo, Fin. Bagaimana kabarmu? .. Aku juga baik-baik saja. Fina, aku rasa aku jatuh cinta pada pandangan pertama dengan laki-laki di sekolahku. Hari ini tidak ada kegiatan belajar-mengajar di sekolah, melainkan diganti dengan acara Pentas Seni dalam rangka mengisi Kegiatan Tengah Semester. Laki-laki itu menyanyikan sebuah lagu berjudul With Me dari SUM 41. Kamu tahu ‘kan itu lagu favoritku, Fin? Aku seperti tersihir saat melihatnya bernyanyi dan memainkan gitarnya. Sungguh, aku benar-benar tersihir, Fin. Aku begitu menikmati setiap kata yang dinyanyikannya dan setiap irama yang keluar dari gitarnya. Apakah aku bodoh jatuh cinta pada laki-laki yang namanya saja aku tidak tahu? .. Jadi menurutmu aku harus mencari tahu tentangnya? .. Baiklah, Fin. Besok aku akan menghubungimu lagi. Lanjutkan pekerjaanmu, Fin. Sampai jumpa besok! .. Ya, maksudku di saluran telepon ini .. Bye, Fin!"

Aku berlari secepat mungkin, menaiki tiap anak tangga di rumahku tergesa-gesa. Sebentar lagi jam tanganku akan menunjukkan pukul 4 sore. Setelah melemparkan tasku ke sembarang arah, masih lengkap dengan seragamku, aku menyambar telepon di kamar dan menekan nomor Fina. Aku sudah tidak sabar menceritakan kejadian hari ini padanya.
“Halo, Fina? Bagaimana kabarmu? .. Aku juga baik-baik saja. Fina, aku sudah tahu siapa nama laki-laki itu! Namanya Ervan Pratama. Ternyata dia salah satu seniorku, pantas aku tidak mengenali wajahnya. Dia ketua ekskul band di sekolah. Sekarang aku tahu bagaimana bisa dia mahir bermain gitar. Apa aku ikut bergabung dengannya di ekskul band? Bagaimana menurutmu? Eh, tapi aku sama sekali tidak bisa memainkan alat musik. Alat musik yang kubisa hanyalah seruling, itu pun terpaksa kupelajari karena aku mengambil kesenian musik di sekolah .. Suaraku merdu? Kamu yakin? .. Ide pintar, Fina! Aku tidak perlu mahir bermain alat musik, karena aku bisa mendaftar menjadi vokalis! .. Fina, kamu cerdas! Besok aku kabari lagi ya, Fin. Bye, Fin!"

“Fina! Coba tebak apa yang baru saja kualami tadi siang di sekolah! Aku berpapasan dengannya, Fina! Demi Tuhan, aku tak sanggup menatap matanya saat kami berpapasan. Ingin aku menyapanya, namun dia pasti hanya akan menganggapku adik kelas yang aneh dan tidak dikenal tiba-tiba menyapanya. Jadi dengan cepat kuurungkan niatku. Kamu tahu? Aku mencoba bercerita pada Hamid, salah satu teman sekelasku. Ternyata dia kenal Ervan. Mereka sering kumpul bersama di luar jam sekolah. Dan coba tebak lagi. Aku sudah mempunyai nomor HP Ervan! Aku senang sekali, Fina. Menurutmu bagaimana? Apa aku harus menelponnya? Atau hanya sekedar mengirim SMS? Aku bingung, Fina .. Iya, aku tahu kamu pasti akan menyuruhku untuk menghubunginya, tapi apa yang kubahas nanti? .. Benar juga. Dengan alasan bahwa aku tertarik menjadi vokalis, dia pasti akan membalas SMS-ku. Lagipula dia ‘kan ketuanya. Fina, kamu cerdas! .. Terima kasih, Fina sayang. Besok aku kabari lagi bagaimana perkembangan selanjutnya!”
Kututup teleponku dan mengakhiri percakapanku dengan Fina. Jari-jariku bermain di keypad HP-ku dan kemudian mengirim SMS ke Ervan. Sekarang, aku hanya tinggal menunggu balasan Ervan. Semoga dia tidak lama membalas SMS-ku.

"Fina, terima kasih atas saranmu kemarin! Berkat saranmu, aku akhirnya berhasil berteman dengan Ervan. Tadi saja di sekolah aku berani menyapan dan memperkenalkan diri padanya. Dia ternyata orang yang cukup ramah, Fina. Kamu tahu? Dia memiliki logat yang sangat unik, aku hanya bisa tersenyum mendengarnya. Fina, aku benar-benar jatuh cinta pada Ervan,"

Kuusap airmataku dan kemudian menekan sederet nomor yang kuhafal. Saat ini tepat pukul 4 sore.
“Fina, aku patah hati. Hubunganku dengan Ervan berjalan lancar. Kukira aku sudah cukup tahu semua hal tentangnya, namun ternyata aku salah. Sepulang sekolah, dengan mataku sendiri, aku melihatnya membonceng seorang perempuan cantik, Fin. Aku sedih .. Tidak, itu bukan temannya. Teman seperti apa yang dibonceng kemudian merangkul pinggangnya? Hatiku sakit, Fina. Perasaan ini sungguh aneh. Padahal aku baru mengenalnya, namun perasaan ini begitu kuat. Entahlah, Fin. Aku merasa bahwa dia jodoh dari Tuhan untukku. Bodoh ya? .. Iya, Fina, aku tidak akan sedih lagi. Maafkan aku harus menangis seperti ini,”

Kumatikan laptop dan menuju tempat favoritku di jam 4 sore.
“Fina, aku memilih mundur dari kehidupan Ervan. Maafkan aku baru mengabarimu sekarang. Banyak kejadian yang menimpaku beberapa minggu yang belakangan ini. Mulai dari nilai-nilai sekolahku yang merosot, hingga merenggangnya hubunganku dengan Ervan. Masih ingat perempuan yang aku ceritakan dulu padamu? Namanya Arin. Awalnya Ervan dengan senang hati memperkenalkanku pada Arin. Namun mungkin Arin bisa membaca niatku untuk berteman dengan Ervan. Dia memarahiku, Fin. Padahal awalnya aku senang dengan hubungan mereka. Aku bahagia asalkan Ervan bahagia, meski tidak bersama diriku. Dan semenjak Arin memarahiku beberapa hari yang lalu, hubunganku dengan Ervan kini merenggang. Aku memilih keluar dari ekskul band, Fin. Aku tak sanggup lagi bila harus bertemu dengannya. Melihatnya dari kejauhan saja, tubuhku dalam sekejap bisa melemas dan jantungku berdegup kencang, bagaimana jika harus berinteraksi dengannya dalam jarak yang cukup dekat? .. Tidak, Fina. Lebih baik kupendam saja perasaan ini. Biarlah dia bahagia bersama, Arin. Aku ikhlas. Jika kelak aku berjodoh dengannya, pasti Tuhan akan mempertemukan aku dengannya bukan, Fin? Rencana Tuhan itu selalu indah .. Jadi begitulah, Fin. Kisah cinta pertamaku yang tak terbalas .. Aku tidak sedih lagi, Fina. Untuk apa aku bersedih terlalu lama jika aku punya sahabat sepertimu yang senantiasa mendengarkan keluh kesahku? .. Kapan kita bertemu, Fina? Aku rindu padamu,”

Jarum panjang jam dinding di kamarku menunjuk ke angka 4. Seperti biasa, aku segera menuju ke telepon di sebelah tempat tidurku dan kemudian menekan sederet nomor yang sudah kuhafal tanpa perlu lagi melihat ulang dan mengecek apa nomor yang kutekan benar atau tidak.
“Nomor yang anda hubungi tidak terdaftar. Silahkan tutup atau ulangi dan masukkan kembali nomor yang benar,”
“Halo, Fin. Bagaimana kabarmu? ..

0 komentar:

Poskan Komentar