Sabtu, 02 April 2011

Titik Kedua

Ingatkah kau kapan pertama kali kita bertemu? Mungkin kau tak ingat. Ya, tentu saja. Kau tak melihatku saat itu. Tapi aku melihatmu. Dan untuk sesaat, aku merasakan ada yang bergetar di hatiku. Ada sesuatu yang bergejolak, hanya sepersekian detik. Dan sepersekian detik itu, mengubah kehidupanku lima tahun selanjutnya.
Dan di sinilah aku, lima tahun telah berlalu, dan aku masih mengagumi, menyukai bahkan mencintaimu.
“Bagaimana bisa kamu mencintai Ferdi? Kamu bahkan tidak mengenalnya!”
“Apa? Ferdi? Yang jelek itu?”
“Ferdi yang mana sih? Oh, yang itu. Kok bisa sih?”
Dan berbagai tanggapan serupa yang terlontar dari mulut teman-temanku. Mengenalmu? Ya, menurutku aku mengenalmu. Aku hafal namamu, dimana kelasmu, nomor teleponmu, alamat rumahmu dan yang paling penting, aku hafal lekuk tubuhmu. Lututku dapat segera terasa lumpuh saat melihat siluetmu, yang aku yakin aku berada cukup jauh dari tempatmu berdiri.
Mungkin aku memang gila. Jatuh cinta kepada orang yang bahkan tidak kukenal dekat. Dan yang paling parah, mungkin kau tak mengenalku!
Jatuh cinta kepadamu ibarat aku sedang memakai kacamata kuda, yang tak menghiraukan apa dan bagaimana tanggapan orang tentangku. Yang aku tahu, aku kagum, suka dan cinta padamu. Titik. Tanpa koma.
Tapi tahukah kau apa yang selama ini menjadi doa dan harapanku? Aku mengharapkan ada titik kedua setelah kalimatku. Aku berharap, kau berkata padaku, “Begitu juga aku, yang selama ini kagum, suka dan cinta padamu,” Dan setelah itu akan aku cantumkan titik kedua. Tamat. Happy ending. Begitulah caraku membuat ending cerita cinta ini. Semoga saja.

1 komentar:

Khomisah Nur mengatakan...

wow... hihi persis dugaanku mencintai tanpa kau tahu cinta itu hehehhe.... ciye.. yg kagum sama seseorang... mudah2an dia mencintaimu juga mencintai apa yg ada dalam hatimu.. heihiehihei

salam kenal sahabat ukhuwah....

CHOMISAH _NUR

Poskan Komentar