Kamis, 14 Juni 2012

Jingga di Ujung Senja


Merah, tapi tak sepenuhnya merah. Kuning, tapi tak sepenuhnya kuning. Aku menyebutku Jingga, seperti jingga di ujung senja.

"Ini baru yang namanya surga, menikmati indahnya panorama sore bersama orang terkasih."

Aku menoleh, dan tersenyum.

"Dengan jagung rebus yang melumer manis di mulut ketika terkena gigit," lanjutku.

Yogi, namanya, tertawa.

"That's the reason why I love you. You complete me," ucapnya sambil terus melanjutkan menghabiskan sedikit demi sedikit jagung rebus di tangannya.

Aku merangkulkan tanganku ke lehernya dan berteriak, "Woooo!"

Keadaan di sekeliling kami seketika hening. Beberapa pejalan kaki menghentikan perjalannya, dan berhenti. Yang terdengar hanyalah deru mesin mobil-mobil yang lalu-lalang di belakang kami.

"Hahaha.." Yogi berusaha keras memperkecil volume tawanya. Begitu juga denganku.

"Gila," katanya.

"Thank you," timpalku.

"Kapan terakhir kita menikmati quality time berdua seperti ini?"

Aku terdiam.

"Aku lupa karena terlalu lama kita tidak seperti ini," jawabku.

Yogi mengangguk, setuju dengan jawabanku.

Aku memandangi wajahnya dari sudut mataku. Alisnya yang tebal. Sorot matanya yang tajam. Bibirnya yang tipis kala tersenyum. Masih sama seperti dulu.

"Why? Ada yang aneh?" tanyanya.

"Enggak. You're a handsome man," jawabku.

"Terima kasih. Bersyukurlah karena aku jatuh di orang yang tepat," katanya sambil merangkul bahuku.

Aku tersenyum. Getir.



***

|| Beberapa tahun silam . . . ||

"Yog, kenalin. Sahabatku dari Jakarta, Risa," ucapku sumringah memperkenalkan sahabat baruku pada Yogi, teman semasa kecil yang telah bertransformasi menjadi sahabat sejak dulu.

"Yogi."

"Risa."

Dan mereka berdua tersenyum satu sama lain. Aku pun tersenyum melihat kedua sahabatku ada di sisiku.

***

Kini baru aku tahu arti senyum mereka berdua kala itu.

"Len, dapat salam dari Risa. Dia minta maaf gak bisa ikut pulang ke Palembang. Kangen banget padahal," ucap Yogi setelah menutup teleponnya.

"I miss her too."

Aku tersenyum, dan menikmati sisa-sisa jingga yang tergerus hitamnya malam.

Yes, I'm a Jingga. Tanpaku, mereka tak akan bersatu. Jika tak ada Jingga, Merah dan Kuning tak akan pernah bersatu.




0 komentar:

Poskan Komentar