Rabu, 13 Juni 2012

Pagi Kuning Keemasan #2


Mataku fokus mencari sosok seorang gadis muda yang sangat kuhafal, tak sempat mengagumi pemandangan alam di sekitarku. Lautan luas dan kumpulan awan yang berjajar membentuk seolah siap menyambut sang mentari terlahir untuk kesekian kali. Semburat kuning keemasan mulai tampak. Aku menaikkan resleting jaketku. Masih membekas dingin semalam di pulau ini. Sinar mentari masih tak kuasa mengalahkannya.

Kupercepat langkahku menyusuri pantai, kembali fokus mencari gadis muda itu. Antara cemas dan kesal, aku tak juga menemukannya. Dia pasti termasuk rombongan yang tiba sebelum rombonganku. Siapa yang tak ingin menyaksikan sunrise selagi di Belitung? Apalagi gadis muda ini sangat menggilai sunrise. Selalu membuka jendela kamarku di pagi hari hanya untuk menikmati sunrise dari balik gedung-gedung tinggi ibu kota.

Mataku melebar kala aku menemukan sosok yang kucari.

"Monik!"

Dia menoleh dan seketika mulutnya menganga lebar melihatku.

"Kak! Ngapain di sini?"

Aku mendengus kesal saat dia melontarkan pertanyaan seperti itu.

"Otakmu jatuh tenggelam di lautan ya? Kamu gak tau gimana mama-papa cemas mikirin kamu yang ngilang tiba-tiba? Anak muda jaman sekarang kalo kemauannya gak diturutin, ngambeknya ekstrim ya? Kamu sama siapa ke sini? Sendirian? Nginep dimana?"

Monik tersenyum dan menggeleng.

"Sama teman-temanku, trus patungan nginep di hotel deket sini," jawabnya sambil menunjuk ke gerombolan anak muda yang lagi haha-hihi.

"Setelah sunrise, balik ke hotel, beresin bawaanmu, dan kita pulang ke Surabaya," kataku.

Monik tampak ingin membatah kata-kataku dan buru-buru kutambahkan, "Ini perintah dari mama-papa. Kalo kamu gak mau, siap-siap aja duit bulananmu dipotong."


Aku melangkahkan kakiku pergi ke sisi lain pantai, meninggalkan Monik yang masih kesal karena sikapku. Aku tak mengerti anak muda jaman sekarang. Mereka kira mereka sudah dewasa dan mandiri, tapi apa arti semua itu jika masih harus ada orang yang menjaga mereka? Bodoh ah. Seenggaknya urusan Monik kelar.

Aku tiba di sisi pantai yang sepi, tak banyak pengunjung yang mengambil spot di sini. Sang mentari perlahan namun pasti mulai memancarkan seluruh sinarnya ke bumi. Hangat. Mengingatkanku pada seseorang.

Mataku masih mengawasi Monik dari kejauhan, kala ada seorang perempuan yang berada di jalur penglihatanku. Perempuan yang sempat menjadi bagian hidupku beberapa tahun silam, hingga akhirnya berakhir karena kami tak kuasa menahan jarak yang membentang. Fina. Bukannya membuka mata, dia justru memejamkan matanya dengan senyum yang tersungging di wajahnya.

Aku suka sinar sunrise, Rik. Dia membasuh wajahku dengan lembut, kontras dengan air yang segar. Mereka seperti Yin & Yang. Berbeda, tapi melengkapi. Aneh, tapi aku suka.

Fina menoleh ke arahku, tersenyum. Tangannya melambai ke arahku, menyuruhku untuk menghampirinya.

I miss you, sunrise,” kataku.

I miss you too, sunshine. Every day,” bisiknya di telingaku. Kupejamkan mataku saat bibirnya mencium lembut pipiku dan saat kubuka mataku, dia menghilang tergantikan oleh udara kosong di hadapanku.

Teringat akan sesuatu, cepat-cepat kulihat jam di HP-ku. 13 Juni 2012. Hari jadi kami ke-7… jika dia masih hidup.


EPILOG

Aku tersenyum puas kala lelaki itu menemukanku. Kakakku yang tersayang. Aku tahu pasti dia bisa menemukanku dengan mudah di tempat ini. Pulau Lengkuas yang menjadi tempat favoritnya dengan Kak Fina.

Aku punya permintaan, Nik. Ajak kakakmu setiap tanggal 13 Juni ke Pulau Lengkuas, ya? Aku ingin dia tahu, bahwa aku akan selalu hidup di hatinya.


Itu pesan terakhir Kak Fina sebelum akhirnya dia menutup mata untuk selamanya. Tahun ketiga mulai terasa berat untuk mencari-cari alasan pergi ke tempat ini. Alhasil, aku harus pura-pura marah dan kabur ke tempat ini, karena aku tahu Kak Erik pasti akan menyusulku ke tempat ini. Aku menyukai sunrise sejak kepergian Kak Fina. Entahlah. Dia seperti meminjam tubuhku untuk membangunkan Kak Erik setiap pagi. Saat pagi tiba, aku bukanlah aku.

2 komentar:

itsdesvianwulan mengatakan...

it's WOW..!!
kereenn.. :)

Rachma I. Lestari mengatakan...

Makasi :3

Poskan Komentar