Senin, 11 Juni 2012

Menunggu Lampu Hijau #1


"Sorry telat."

"Namaku bukan telat. Indah."

Aku meringis mendengar jawabannya. Kuambil tempat di sampingnya.

"Iya. Sorry, Ndah. Gak bermaksud telat, tapi kendaraanku jalannya lambat," jelasku.

Indah memandangku heran.

"Emang lu naik apa?"

"Tuh," jawabku seraya menunjuk ke seberang kami berdua dengan daguku.

"Delman? Kemana emang motor lu?"

"Dipake adekku. Lagian aku rindu dengan semuanya yang ada di kota ini," jawabku seraya memejamkan mataku dan tersenyum.

"Najis. Kelamaan idup di Ibu Kota sih, budaya telat di diri lu makin merajalela. Gak malu ama Jam Gadang di depan lu ini? Setiap hari dia ngingetin kita buat on time."

Aku tertawa. Ini yang bikin kangen banget ama Indah. Omelannya sesuatu banget.

"Malah ketawa. Lu di sini sampe kapan?"

"Seminggu doang."

"Bentar banget."

Aku menangkap ada intonasi yang berbeda dari suaranya.

"Kenapa? Gak rela ya?" tanyaku sambil menempelkan telunjukku ke pipinya.

"Iya, aku gak rela."

Aku tertegun mendengar jawabannya, gak nyangka.

"Datang tiba-tiba, ilang juga tiba-tiba. Kasih kepastian gitu kek ke kita. Temenan, kagak. Pacaran, kagak."

Aku menghela nafas, kemudian menarik perlahan kepalanya untuk bersandar di bahuku.

"Belum saatnya, Ndah. Yang perlu kamu tahu adalah bahwa kamulah alasan tiap beberapa bulan sekali aku pulang ke Bukit Tinggi."

"Sampai kapan? Saat yang tepat itu kapan?"

Saat aku mendapat lampu hijau dari kekasihku, Ndah... untuk memutuskannya.


nb: click pictures to know the source of each picture. :3

2 komentar:

Hadi Kurniawan mengatakan...

Pendek banget FFnya :D

Rachma I. Lestari mengatakan...

Tapi ngena kan? :3

Poskan Komentar