Rabu, 25 Januari 2012

Ini Bukan Judul Terakhir #14


"Ada satu lagu yang cocok untukmu," ucapmu seraya menempatkan jari-jarimu di senar gitar yang ada di pangkuanmu.
I'm lucky I'm in love with my best friend
Lucky to have been where I have been
Lucky to be coming home again
Ooohh ooooh oooh oooh ooh ooh ooh ooh
Aku tersenyum saat dia selesai meng-cover lagu milik Jason Mraz itu.

"Apakah menurutmu kedua keluarga kita akan terkejut bahwa kita berdua berpacaran? Sahabat sejak kecil, rumah bersebelahan. Menurutmu?" tanyanya.

Aku mengedikkan bahuku. "Entahlah. Tapi kita rahasiakan saja dulu, kita beri mereka surprise."

Kamu menggenggam tanganku, kemudian beralih lagi ke gitarmu, memainkan beberapa lagu yang membuatku seakan percaya, telah muncul dua sayap di punggungku. Terbang ke angkasa, terbuai karena nyanyianmu.

***

Jemariku masih membolak-balik sebuah undangan pernikahan berbalut pita merah yang baru datang beberapa saat yang lalu. Kubaca ulang siapa, kapan, dan dimana acara pernikahan itu diselenggarakan. Mataku berhenti di bagian 'siapa'. Nama itu... namamu.

"Gak kerasa ya, si Wira itu sudah mau menikah. Perasaan baru kemarin, ibu lihat kalian main bersama di ayunan depan rumah itu," ucap Ibuku, sambil menyelesaikan masakannya di dapur belakangku.

Aku diam, bibirku tak mampu mengucapkan patah kata apapun.

"Wira itu dijodohkan, Nduk. Katanya sih sama anak rekan bisnis ayahnya. Duh, kalo ngomong bisnis tuh nakutin. Semua cara dilakukan biar bisnis tetap berjalan, termasuk menjodohkan anaknya sendiri. Wira gak pernah cerita apa-apa ama kamu, Nduk?" tanya Ibuku, tak berniat menghentikan topik ini.

Aku menggeleng. "Dia nggak pernah cerita apa-apa, Bu."

"Ibu kira dia bakal cerita ke kamu,  Nduk. Mungkin memang benar-benar mendadak ya keputusan mereka," ucap Ibu.

Aku diam, tak menanggapi ucapan Ibu. Ah, mungkin lebih baik aku pergi dari dapur.

"Oh, ya. Kamu diminta bawain lagu di acara pernikahannya Wira besok. Siapin ya, Nduk. Yang mesra gitu, kan kalian biasa nyanyi bareng."

Haruskah aku datang?

***

"Ya, lagu selanjutnya akan dibawakan oleh Neva, sahabat Wira sejak kecil."

"Lagu ini kupersembahkan untuk sahabatku, Wira, dan untuk istrinya," ucapku seraya melemparkan pandanganku ke arah mereka berdua. Ke Wira lebih tepatnya. Dia tampak gagah dengan pakaiannya. Dan istrinya, tampak mempesona. Seharusnya aku yang ada di sana, bukan perempuan itu.

Aku menggeleng, menghilangkan pikiranku. Terimalah, Neva. Wira bukan untukmu. Jari-jariku bermain lincah dengan pianoku, yang biasanya kugunakan untuk mengiringi permainan gitarmu.

Gemuruh tepuk tangan membahana lagi seiring dengan selesainya lagu yang kumainkan. Belum, ini bukan judul terakhir. Masih ada yang ingin kunyanyikan.

Dengan cepat, jari-jariku mulai memainkan lagu ke-2, yang seharusnya tidak ada di list acara ini. Tega.
Aku tahu dirimu kini telah ada yang memiliki
Tapi bagaimanakah dengan diriku
Tak mungkin ku sanggup untuk kehilangan dirimu
Aku tahu bukan saatnya tuk mengharap cintamu lagi
Tapi bagaimanakah dengan hatiku
Tak mungkin ku sanggup hidup begini tanpa cinta darimu 
 

6 komentar:

priscila stevanni mengatakan...

tragis, sedih:( satu lagi cerita sahabat yang nggak bisa jadi kekasih..

namarappuccino mengatakan...

:'(

Rachma I. Lestari mengatakan...

*puk puk*

Tammy mengatakan...

Sedih begini :(

Rachma I. Lestari mengatakan...

Iya :(

Robertus Benny Murdhani mengatakan...

Sabar ya...
Kan ada aku disini..*pukpuk

Poskan Komentar