Kamis, 26 Januari 2012

Menikahlah Denganku #15

Baca cerita sebelumnya di sini.

"Menikahlah denganku, Indira," ucap lelaki di hadapanku saat kami berdua diam-diam mencuri waktu untuk bertemu di lunch time. Dia mengeluarkan kotak kecil berhiaskan pita putih di sekelilingnya. Dibukanya, dan tampaklah cincin bertahtakan berlian putih. Entah berapa karat, namun yang pasti cukup untuk seorang pencuri kelas atas membobol rekening lelaki ini.

Sontak aktivitas makanku terhenti, dan menatap kedua bola matanya yang bulat. Kutemukan kesungguhan di dalamnya, dan ya, aku ikut tenggelam bersamanya. Momen inilah yang kutunggu-tunggu sejak hubungan ini berjalan hampir dua tahun. Sulit untuk Dillan, nama lelaki itu, untuk membuka pintu hati dan kehidupannya untukku. Dia tak sendiri, dia telah memiliki malaikat kecil bernama Ava. Aku tersenyum kecil saat nama malaikat kecil, mungil dan cantik itu melintas di pikiranku. Aku sangat menyayanginya, hingga rela melakukan aksi gila beberapa bulan yang lalu itu. Dan ya, aku juga sangat menyayangi ayahnya. Aku sayang mereka.

"Indira?"

Lamunanku buyar saat mendengar suara seksi Dillan. Serius, suaranya sangat seksi.

Aku mengangguk, dan tersenyum padanya. "Tentu saja aku mau menghabiskan sisa hidupku bersamamu, Dillan."

***

Segala persiapan pernikahanku dengan Dillan sudah hampir mencapai 80% in progress. Aku sangat bersemangat mendesain kartu undangan, menghabiskan waktu berdua bersama Dillan di sofa hangatku dengan menge-list tamu-tamu undangan, memilih gaun pengantin bersama sahabatku, hingga mengajak Ava memilih catering untuk resepsi pernikahan nanti.

Tak ada hari libur, pernikahan semakin dekat, dan sedikit saja waktu luang kumiliki, segera kugunakan untuk mempersiapkan apa-apa yang kurang untuk pernikahanku dengan Dillan. Seperti hari ini, aku membereskan seluruh isi rumahku, dalam rangka menyambut keluarga besar Dillan besok. Aku tak mau tampak seperti dari rumah yang berantakan di depan Dillan dan keluarganya.

Berantakan.

Tubuhku mematung, aktivitas mengelap perabot rumah tanggaku terhenti. Ya, aku memang berasal dari rumah tangga yang berantakan. Pernikahan ayah dan ibu yang gagal, kakak yang tak kunjung menikah di usianya yang semakin bertambah tua, dan aku yang dalam beberapa minggu lagi akan menyandang status sebagai istri Dillan dan mama tiri Ava. Cukup baikkah aku menjadi istrinya? Cukup baikkah aku menjadi mama tiri Ava?

Mendadak... aku takut akan pernikahan ini.

***

"Kamu melakukan itu lagi."

"Apa?" tanyaku tak mengerti.

"Melamun," jawabnya, tetap tak melepas tatapannya dariku.

"Aku hanya takut. Kamu tahu keluargaku seperti apa," ucapku, seraya menundukkan wajahku.

Dillan menggenggam tanganku. "Jangan takut. Hey, kamu tipe istri, ibu, dan menantu idaman. Kamu tak tahu di luar sana banyak orang-orang yang rela membunuhku untuk mendapatkanmu?"

Aku tersenyum mendengarnya.

"Percayalah pada dirimu, Indira. Aku percaya kamu. Ava percaya kamu," ucapnya seraya melihat Ava yang tertidur pulas di pelukannya.

"Ya, terimakasih sayang. Biar aku yang menggendong Ava ke kamarnya." Kupeluk Ava, dan kugendong kembali ke dalam kamarnya.

"Goodnight, Ava. Sweet dream," bisikku. Kucium lembut keningnya.

"Goodnight, Mommy," balasnya seraya menatapku polos, kemudian memejamkan matanya.

Aku tak tahu harus berkata apa. Aku hanya... bahagia.

pictures source: weheartit.com

2 komentar:

minky_monster mengatakan...

tapi emang bener, mikirin tentang detil2 pernikahan, keluarga besar dsb emang bikin kuatir dan takut.
*eh malah jadi galau, hehe :p*

Rachma I. Lestari mengatakan...

=)) nyiapin nikahan emang ribet, belum lagi masalah-masalah yang mendadak timbul sebelum hari H. -___- *kayak udah nikah aje* =))

Poskan Komentar