Senin, 16 Januari 2012

Jadilah Milikku. Mau? #5


9 Juni 2010.

“Ranggi.”
“Tesia.”
Berawal dari sebuah pertemuan yang tak terduga. Aku sendiri. Dia sendiri. Duduk saling berseberangan. Dapat kulihat matanya sesekali mencuri-curi pandang ke arahku. Begitu juga dengan mataku yang selalu memandang kecantikan parasnya, meskipun wajahku mengarah ke tempat lain. Beruntung, dia menyilahkanku duduk di sampingnya, saat aku tak kuasa menahan rasa penasaran untuk ingin mengenalnya. Dan begitulah perkenalan kami berdua, yang tak kuduga akan berlanjut hingga beberapa bulan ke depan.

4 Maret 2011.

“Aku suka bau tubuhmu. Harum.” Tesia mendekatkan tubuhnya ke tubuhku, menyandarkan kepalanya ke dadaku.
“Meskipun tubuhku basah oleh keringat?” tanyaku. Dapat kurasakan anggukannya di pelukanku. Kucium dan kuresap rambutnya, wangi shampoo yang biasa dia pakai.
Cukup lama kami berdua terdiam, meski saling berpelukan. Kunikmati harum tubuhnya, dia pun melakukan hal yang sama. Kaki telanjang kami berdua bertautan. Selimut tebal bercorak bunga menutupi tubuh kami berdua. Damai.
“Tesia?” panggilku, memecah keheningan yang sempat menguasaiku dan dia.
“Ya?”
“Jadilah milikku. Mau?”
...
Dia terdiam cukup lama, aku masih menunggu dalam asa, sampai akhirnya dia berkata.
“Bagaimana bisa aku menjadi milikmu, sedangkan kau masih menjadi milik perempuan lain?”
Tenggorokanku tercekat. Pelukanku makin lama makin mengendur. Aku ingin memutar waktu.



9 Juni 2010.

“Ranggi.”
“Tesia.”
Ya, aku tahu siapa kamu sayang. Bagaimana mungkin aku bisa melupakanmu?

4 Maret 2011.

Kunikmati harum tubuhnya, dia pun melakukan hal yang sama. Kaki telanjang kami berdua bertautan. Selimut tebal bercorak bunga menutupi tubuh kami berdua. Dia damai. Aku cemas. Inilah saatnya.
“Tesia?”
“Ya?”
“Jadilah milikku. Mau?”
...
Ya, aku mau jadi milikmu. Cepat, lontarkan kalimat itu, Tes. Aku kini sendiri. Kuulang waktuku hanya untukmu.
“Apakah mungkin aku menjadi milikmu, sedangkan diriku masih menjadi milik orang lain?”
Tenggorokanku tercekat. Lagi. Ingin kuputar waktu. Aku janji, untuk terakhir kalinya.



9 Juni 2010.

Dia masih mencuri-curi pandang ke arahku, dan aku pun masih melakukan hal yang sama. Apakah harus aku melakukannya lagi? Berkenalan dengannya? Pertanyaan-pertanyaan serupa berkecamuk di otakku. Kuminum cepat latte ice milikku. Oke, mungkin ini saatnya.
Aku berjalan ke arahnya, dapat kulihat wajahnya seketika berubah cerah, berharap aku berhenti di mejanya. Namun, langkahku tak mau berhenti dan terus melangkah hingga meja kasir, membayar bill dan segera pergi dari tempat itu.
Aku tidak ingin menyakitinya. Lagi.
Aku tidak ingin menyakitiku. Lagi.
Mungkin, sekeras apapun aku berjuang, takdir tak menginginkan kami bersama.


pictures source: weheartit.com

13 komentar:

warmX mengatakan...

endingnya pahit :D

myworld mengatakan...

Keputusan bijak. :)

Rachma I. Lestari mengatakan...

@ warmX : hehe, iya :P
@ myworld : ya, bijak dan terbaik untuk keduanya ;)

Biondy mengatakan...

temanya time traveling? :))
salam kenal yah. salam #15HariNgeblogFF

Rachma I. Lestari mengatakan...

Iya ^^
Salam kenal juga ;)

petronelaputri mengatakan...

alur maju mundur? :)
sad ending :|

@hildabika mengatakan...

Sukaa! :)
jadi inget film The Time Traveller's Wife, sedih banget film itu, uda liat belum dek? T.T

latree mengatakan...

aargh......

Rachma I. Lestari mengatakan...

@ petronelaputri : iya, maju mundur, time traveller. :D
@ mbak hilda : belum liat mbak, itu film lama?
@ latree : :| kenapa? :(

minky_monster mengatakan...

KEREN banget!!!!
Mirip film The Butterfly Effect, jadi ujung2nya daripada menderita, dia milih untuk ga kenalan ama cewek itu.

Rachma I. Lestari mengatakan...

Wah, ada masukan film lagi ^^
makasi sudah mampiiir :3

Melissa mengatakan...

Baguuss.. Gue suka banget sama tema2 time travel :D

Rachma I. Lestari mengatakan...

Makasiii ;)

Poskan Komentar